Mission Korea 2018 (Journal 9)

Tanggal 6 agustus 2018

Pagi ini hujan cukup menyejukkan Korea yang sedang musim panas. Kami ikut doa siang untuk para staf JOY Korea. Staf JOY Korea tidak memiliki doa pagi tetapi doa siang. Ada sharing time juga. Kami diminta sharing tentang pencapaian dalam 7 bulan ini, kesedihan dan juga tujuan kami. Kami bertiga sharing dengan Victor kansanim, Staf Internasional JOY yang membantu kami selama ini. Setelah itu kami saling mendoakan. Kami bertiga juga diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri. Pada kesempan ini juga ada pamitan dari salah satu staf JOY Korea yang akan belajar Geografi Alkitab di Israel.

Setelah selesai seperti kebiasaan staf di sana, kami makan siang bersama. Sambil makan, kami berfellowship bersama istri Victor kansanim, Hye Won pernah datang ke Indonesia selama 4 bulan di tahun 1998 dan pada tahun 2006 saat gempa ia ada bersama pak Son datang ke Jogja. Selama 21 tahun bahasa Indonesia-nya masih bagus. Wah hebat!

Setelah itu, kami bersama Myoung Hee (pernah menjadi short term worker selama 2 tahun, 2006-2008), Hye Won dan Noah staf training joy pergi ke satu café untk minum kopi, juice dan satu roti jagung-ubi, sambil ngobrol-ngobrol tentunya.


Setelah fellowship time yang singkat, Myoung Hee mengantar kami ke universitas Sejong tempat diadakan Mission Korea. Mission Korea kali ini merupakan Mission korea yang ke-16 dan berulang tahun ke-30 dengan tema “Re_”.  Mission Korea pertama kali diadakan tahun 1988. Mission Korea diorganisir secara bergantian oleh lembaga pelayanan mahasiswa yang ada di Korea. Mission Korea pertama kali diorganisir oleh JOY Korea. Kami dibantu oleh salah satu staf JOY International. Kami masing- masing memilih kelas pilihan yang kami ikuti. Kami memutuskan memilih kelas yang berbeda sehingga kami bisa saling bertukar informasi apa yang kami dapat.

Pada jam 5 sore, kami mengikuti orentasi untuk peserta Internasional. Orientasi berisi penjelasan teknis untuk kami misalnya tentang akomodasi. Di pertemuan ini kami bertemu Hogi lagi dan satu mahasiswa dari Indonesia yang sedang kuliah teologi di ACTS.
Setelah makan malam, Mission Korea dimulai dengan pembukaan yakni praise and worship. Walau kebanyakan lagu menggunakan bahasa Korea, tetapi dengan adanya terjemahan bahasa inggris sangat membantu kami mengikuti praise and worship. Salah satu lagu yang berkesan kata-katanya jangan hanya menjadi orang yang beragama tetapi jadilah orang yang dewasa di dalam Kristus.

Setelah itu, ada kesaksian dari satu misionaris Korea yang melayani di Turki. Ia menceritakan tentang pengalamannya mendampingi Husain, satu orang Turki yang diinjili oleh istrinya, yang menerima Kristus beberapa hari sebelum meninggal. Ia juga menceritakan tentang istrinya yang sakit kanker perut. Tetapi dengan banyak pergumulan panggilannya tetap di dalam misi.
Setelah itu, kami praise and worship lagi, kemudian khotbah di bawakan oleh Rev. Patrick Fung, Director of OMF International. Firman diambil dari kisah 11: 19-21.Ada 3 hal yang menjadi poinnya, yakni :

  1. The Power of The Nameless People.
    Allah bisa memakai orang-orang yang tidak terkenal untuk melakukan misi. Kita semua dipanggil untuk misi. Jemaat mula-mula tersebar karena penganiayaan dan itu membuat injil tersebar.
    Penganiayaan tidak membunuh gereja tetapi kehilangan passion utk menceritakan firman Allah dan membaca Alkitab itulah yg membunuh gereja. Yang membuat mereka berani adalah passion yang dari Allah.
    Dalam misi ada tantangan lintas budaya. Orang yahudi yg menjadi kristen juga mengalaminya. Kita harus berpikir secara global. Mission bukanlah program. Mission adalah menceritakan tentang Kristus.
    Pembicara juga bercerita tentang panggilannya. Baru 2 tahun menjadi Kristen ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran, Tuhan sudah menantangnya untuk menyerahkan hidup seluruhnya kepada Allah. Ia kemudian melayani sebagai misionaris.
  2. The Power of Faith. Kis 11:22-25. Ayat 23, Barnabas melihat kasih karunia Allah. Kita juga seharusnya melakukan misi dengan iman.jika kita tidak melakukan apa-apa maka tidak akan terjadi apa-apa. Misson ada di mana-mana. Mission ada di setiap orang. Mission from everywere to everywere. Kita bukan orang kristen yang pasif.
  3. The Power of a Long Term Legacy. Kis 11:26. Di Antiokhia pertama kali disebut kristen. Orang yang bukan percaya menyebut mereka orang Kristen. Kriterianya harus terus mengikuti Kristus, menghormati Firman dan berdoa. Jangan hanya berdoa kehendakmu terjadi. Kamu harus berdoa tentang apa yang mau Tuhan untuk saya lakukan.

Setelah selesai kami bertemu dengan pak Son yang mengantar ke tempat kami menginap di Konkuk University yang tidak jauh dari kampus Sejong.

Hari Pertama Mission Korea yang sangat baik. Ada 27 negara yang tergabung sebagai International Participants dari Brunei, Indonesia, India, Bangladesh, Rusia, China, Pakistan, Filipina, dsbnya.

Semoga cuaca semakin teduh dan kegiatan tiga hari kedepan berjalan lancar. [RN]

2 Replies to “Mission Korea 2018 (Journal 9)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *