Retreat Encounter Journal – Day 1

Setelah selesai JFM, kami berangkat menuju villa milik Mr. Yoon di Bandungan dengan menggunakan 3 mobil. Acara ini diikuti oleh 22 orang termasuk staff dan 2 orang alumni staf dari Palangkaraya, mas Sigit dan kak Nelles yang bersedia menjadi pemateri di retreat Encounter tahun ini. Setelah sampai, kami langsung istirahat karena lelah yang melanda. Sabtu pagi kami dibangunkan dengan hawa dingin yang menyegarkan. Setelah berjuang untuk mandi pagi, saya bersaat teduh ditemani sinar matahari pagi yang malu-malu dan bunga-bunga yang cantik disekitaran taman villa.

Setelah saat teduh, kami berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama dengan dimulai dengan mars makan dan berdoa. Setelah sarapan, kami memulai sesi pertama oleh mbak Riana tentang evaluasi diri (level awareness). Teman-teman leader diajak mengevaluasi diri dan membangun kesadaran tentang diri dan pelayanan mereka. Setelah itu masing-masing diberi waktu untuk mencurahkan isi hati mereka tentang pergumulan dalam studi dan pelayanan, tentang ketakutan dan keraguan mereka. Ketika mendengar cerita para leader ini, saya dibawa flashback ke masa-masa saya melayani sebagai leader. Perasaan-perasaan itu juga pernah saya alami, sesi ini membuat saya belajar bahwa saya tidak sendiri, selalu ada orang-orang yang berjuang bersama dalam pelayanan yang Allah percayakan.

Siang ini kami makan dengan lauk ayam goreng dan tempe tahu. Setelah makan, kami beristirahat selama 1 jam dan tepat jam 2 siang kami menerima sesi kedua dari kak Gina tentang orientasi. Sesi ini menjelaskan tentang apa itu retreat Encounter dan keistimewaan menjadi leader. Tidak semua orang bisa berkesempatan menjadi leader dan pengalaman memimpin orang-orang yang ada di CG dan ministry adalah kesempatan yang langka dan berharga sehingga ini seharusnya menjadi ucapan syukur dan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Menjadi leader saat ini adalah bekal berharga untuk masa yang akan datang.

Hujan yang mengguyur Bandungan sore ini menemani kami mendengarkan sesi selanjutnya tentang Biblical foundation dari bang Sopar. Kami belajar dari teladan Musa, yang dipilih Tuhan menjadi pemimpin atas orang Israel. Pada sesi ini bang Sopar mengajak para leader untuk sungguh-sungguh menggunakan waktu yang dipercayakan ketika memimpin untuk melayani dan mempersiapkan pemimpin selanjutnya. Diakhir sesi abang mengencourage dan mendoakan para leader yang saat ini masih merasa takut dan ragu untuk mengambil keputusan menjadi seorang leader di JOY.

Setelah sesi ini kami mandi sore biar makin cakep, dan selanjutnya makan malam bersama. Dengan perut yang sudah terisi lagi, kami diperlengkapi melalui sesi kak Nelles tentang “Qualifications of leader”. Ada beberapa kualifikasi yang dipaparkan kak Nelles, diantaranya memiliki growth-minded yaitu mindset yang mau terus bertumbuh dan belajar, driver-minded yaitu pemimpin yang bisa membawa orang-orang yang dipimpin kepada tujuan, memahami orang-orang yang dilayani, berani mengambil resiko, problem solver dan kualifikasi lainnya. Kak Nelles menutup sesi ini dengan mengajak kami semua untuk mengejar kualifikasi-kualifikasi ini dan mengingatkan bahwa proses menjadi ini akan terus berjalan.

Sesi terakhir hari ini adalah sesi testimony dan praise and worship yang dipimpin oleh mbak Riana, Ocha dan Astry. Empat orang leader memberi kesaksian mereka tentang pelayanan dan komitmen mereka. Sesi yang penuh keharuan ini ditutup dengan doa. Para pekerja mendoakan para leader bersama-sama. Sebelum tidur, kami masih berfellowship time di ruang makan sambil menikmati snack, susu dan kopi yang disediakan. Sabtu yang sejuk ini memberikan banyak pelajaran yang berarti. [AG]

Journal Core Members Camp

Tanggal 18 Agustus 2018

Pukul 11.00, kira-kira sejam sebelum waktu berangkat ke Wisma Salam, kami tim pelayanan JFM 24 Agustus minggu depan menyempatkan diri untuk bible study dengan Kak Riana selaku pembicara. Tepat tengah hari, kami berangkat dengan menggunakan mobil APV menuju daerah Tempel, Magelang, ke wisma yang adem karya Romo Mangun di pinggir sungai Salam tersebut.

Setibanya di sana, kami memulai pembukaan dengan menyanyi, doa dan pengumuman terkait kamar kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama yang dibawakan oleh Kak Presti yakni “Evaluasi Pelaksanaan Fokus 2018” disertai “Solusi Tindak Lanjut”. 

Setelah makan malam, Bang Sopar menyampaikan refleksi malam dalam sesi “Being, Not only Doing” yang diangkat dari kisah Martha dan Maria.

Dalam setiap kesibukan, kita harus mengutamakan duduk di kaki Yesus. Pelayanan kita adalah ungkapan relasi kita dengan Allah.

Meskipun suasana di luar sangat gaduh karena acara warga terkait perayaan 17-an di malam minggu, kami melanjutkan dengan Praise and Worship yang dipimpin oleh Kak Agnes.

Kak Agnes mengajak kita untuk tetap konsentrasi dan fokus menaikkan pokok-pokok doa serta pujian penyembahan. Bersyukur banyak yang bisa konsentrasi.

Acara malam ditutup dengan istirahat ditemani suara genta wayang di samping wisma.

Tanggal 19 Agustus 2018

Pagi yang sangat dingin serasa di Kaliurang menyapa kami. Saya bangun dan mandi melawan dingin kemudian mengambil waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan melalui Quiet Time.

Masing-masing JOYer sudah mengambil tempatnya di spot-spot tertentu di lingkungan wisma yang asri.

Setelah QT, jam 8 pagi kami sarapan dibuka dengan mars makan seperti biasa.

Setelah makan, Kak Gina membawakan sesi merefresh lagi fokus JOY 2018, dibuka dengan games kahoot, salah satu aplikasi belajar yang interaktif yang bisa digunakan untuk gamification. Kami dibagi dalam kelompok bertiga untuk menjawab 10 soal quiz tersebut. Wuri, Oni dan Datu yang menjadi pemenang dan mendapatkan buku “Seumur Hidup Aku Sekolah” jilid 2 karya Kak Godlif.

Setelah sesi Kak Gina, break untuk snack lagi sebelum Kak Riana membawakan sesi “Encouragement”. Tagline sesi ini adalah “Keterbukaan adalah Kunci”. 

Masing-masing jujur menilai dirinya, jika diukur dari 1-10, seberapa semangatkah diri ini (1 = tidak semangat, 10= paling semangat). Aku di angka 8, sedang semangat-semangatnya. Kak Ri kemudian menginstrusikan untuk bergabung dengan angka 4 lalu sharing dalam kelompok saling mengencourage dan ditutup dengan doa. Kategori selain semangat adalah gagal, dimana angka 1 = sangat gagal, 10 = sangat berhasil.

Kak Riana mengingatkan kita untuk melihat Gambaran Besar sembari membagikan pengalaman JOY di negara-negara lain yang mengalami hal yang sama dengan kita. Di akhir, kami belajar lagu baru “Light The Fire in My Heart Again”, sebuah doa agar Tuhan membakar Spirit dalam hati untuk melayani.

Setelah itu acara makan siang dan doa penutup disusul sesi foto.

Terima Kasih, kakak-kakak alumni yang setia mendukung sehingga acara ini bisa berlangsung. Selamat Hari Minggu![OH]

 

 

Kembali Ke Jogja (Journal 16)

Tanggal 13,14 Agustus 2018

Pagi-pagi benar tepat pukul 5:30 kami berangkat menuju Incheon Airport diantarkan oleh Victor Je, staff JOY Internasional yang merupakan koordinator International JOY Conference.

Setelah cek in dan drop bagasi, kami makan pagi bersama Victor Je di Lotteria kemudian menuju cek imigrasi dan ruang tunggu.

Perjalanan menuju Kuala Lumpur dilanjutkan Jakarta berjalan dengan baik.

Setiba di Jakarta, kami dijemput oleh karyawan Bang Wenz yakni mas Gufron untuk diantar ke rumah Kak Godlif.

Waktu menunjukkan sudah malam sehingga kami langsung beristirahat.

Besok paginya, kami menjenguk Juan, anak Kak Godlif yang sedang dirawat di RS. Hermina. Wah, saya baru pernah melihat Juan sesendu itu. Dokter sempat menjenguk dan menyatakan perkembangan Juan. Puji Tuhan, ketika jurnal ini ditulis, Juan sudah keluar RS dan dirawat jalan.

Kami dijamu makan siang oleh orang tua Kak Godlif dan Richard di rumah mereka. Bersyukur untuk fellowship time dan encouragement dari keluarga Poeh untuk pelayanan JOY.

Kami berangkat ke Jogja pada malam hari dan tiba tengah malam di bandara Adisutjipto. Alfian dan Adhi menjemput kami dengan mobil JOY.

Tanggal 15 Agustus 2018

Rasanya pagi di Jogja masih saja dingin menusuk tulang, benar saja, saya melirik di hp ternyata jam 7 pagi masih 18°C. Namun rasanya sangat senang bisa ikut doa pagi bersama teman-teman pekerja lagi.

Setelah doa pagi, saya melanjutkan dengan memberikan pelatihan kepada asisten staff tentang “Living by Faith” disadur dari buku “Mentoring Paradigm” bagian “Nothing to Prove, Nothing to Lose, Nothing to Hide”.

Bagian refleksi masing-masing terkait hidup bergantung sepenuhnya akan kemurahan Tuhan dan menyerahkan seluruh hidup dan masa depan pada Tuhan saja. Agnes, Geti dan Astri saling sharing tentang tantangan-tantangan yang dihadapi terutama tekanan dari orang tua untuk bekerja sebagai PNS ataupun karyawan di perusahaan yang bonafit.

Tanggal 16 Agustus 2018

Kamis pagi kami mulai dengan doa pagi seperti biasa berdoa bagi Management Department dan Alumni.

Hari ini adalah hari doa-puasa, secara khusus berdoa bagi Bangsa dan Negara yang sudah berumur 73 tahun. Dalam Thursday Prayer Meeting tersebut, ada dua JOYer yang menyaksikan pengalaman iman dengan Tuhan.

Dwi Sibagariang, seorang leader di CG UKDW yang sedang dalam studi tahap akhir membagikan pengalamannya terkait skripsinya. Dia bersyukur meskipun gagal di grafis sehingga tidak bisa lanjut ke studio, dia belajar untuk lebih gigih lagi dalam prosesnya. Bersyukur ketika berdiskusi dengan dosen pembimbing, dia menemukan hal-hal baru untuk dikembangkan, sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ada blessing in disguise.

Vera, leader senior di Babarsari juga sharing tentang pengalaman imannya ketika bergumul untuk sekolah S2 di UGM yang hampir pupus karena diharuskan pulang ke Kalimantan untuk menemani mamanya yang harua operasi miom. Bersyukur karena setelah di-cek up lagi, ternyata mamanya tidak harus dioperasi, cukup dengan minum obat yang sudah diberikan oleh dokter. Vera mengakhiri tangis kelegaan melihat bagaimana Tuhan menjawab setiap doa, kegalauan dan pergumulannya selama beberapa bulan terakhir. 

Ocha membagikan Firman dari Markus 1:16-20 tentang Penjala Manusia.

Yesus memakai orang-orang biasa seperti para nelayan untuk mengerjakan pekerjaan luar biasa.

Demikian juga kita, Allah memanggil dan memakai kita orang-orang biasa ini untuk menjadi DutaNYA bagi dunia ini. Itu keistimewaan sekaligus tanggung jawab bagi kita sebagai JOYer.

ThPM ditutup dengan doa bagi persekutuan JOY dan bagi Bangsa Indonesia. Bersyukur boleh menjadi bagian dari bangsa ini. Ada tiga orang JOYer dari Timor Leste yang terlibat dalam ThPM ini dan turut mendoakan negara Indonesia tempat mereka menimba ilmu. 

Bersyukur Tuhan memberi kami bertiga kesehatan untuk memulai aktifitas kami lagi setelah konferensi JOY Internasional yang kami hadir di Korea. Terima kasih untuk dukungan alumni bagi pelayanan kami. [GN]

 

Seoul (Journal 15)

Tanggal 12 agustus 2018

Hari ini adalah hari terakhir kami di Korea, besok pagi kami akan pulang ke Indonesia. Kami pergi ke gereja AIC (Antiokh Indonesia Community) yang berada di kota Suwon. AIC merupakan gereja Indonesia. Di Korea ada di 5 kota yaitu di Suwon, Incheon, Pyongtek, Ansan, Bucheon. Gereja ini di dukung oleh gereja Korea Onnuri yang memang punya misi untuk melayani orang-orang asing di Korea. Mereka membantu memberikan pelayanan medis dan juga memberikab les bahasa Korea secara gratis.

Hari ini Pak Son akan membawakan Firman Tuhan. Ternyata tema besar satu tahun ini di gereja AIC Suwon adalah 1 orang membawa satu jiwa. Untuk itu Pak Son mengajar dari buku BCC (Becoming Contagious Christian). Sebelumnya Gina memberikan kesaksian ketika ia melayani atasannya yakni dengan membangun relasi yang tulus. Gina membagikan bahwa ada dua jembatan untuk melakukan penginjilan yaitu melalui jembatan pikiran dan jembatan perasaan. Gina bersyukur bagaimana Tuhan menolongnnya dalam melayani temannya itu. Setelah itu Pak Son mendorong semua untuk memiliki impact list.

Bertumbuh Dalam Situasi Sulit

Setelah selesai kami makan bersama dengan jemaat. Jemaat yang datang kira-kira 30 orang ada yang bekerja dan ada juga yang mahasiwa. Kami makan makanan indonesia, makan nasi pecel. Aku bersyukur punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan beberapa orang. Salah satunya seorang bapak dan istrinya. Ia menceritakan bahwa dia dan istri sebelumnya bukan orang Kristen. Mereka juga menikah bukan secara Kristen tetapi berdasarkan kepercayaan mereka yang lama. Ketika istrinya bekerja di Hongkong ia menjadi Kristen dan ia sendiri menjadi Kristen ketika di Korea. Ketika saya tanya bagaimana ia bisa menjadi percaya sambil sedikit berkaca-kaca ia mengatakan bahwa semata-mata itu adalah kasih karunia Tuhan. Ketika saya tanya apakah keluarganya tidak marah, ia menjawab tidak tahu karena belum pernah bertemu muka dengan muka dengan keluarga sejak ia menjadi Kristen. Ia juga menceritakan bahwa sebenarnya visanya sudah habis 4 tahun yang lalu. Ketika kutanya lagi tidak takut dengan pemerintah Korea, dia hanya tertawa dan mengatakan saya mau belajar bertumbuh dulu di gereja ini. Wah, aku bersyukur walau dengan waktu yang mepet dapat ngobrol dengan bapak ini, melihatnya sebagai orang Kristen yang baru dengan semangat untuk bertumbuh.
Selain dengan bapak ini, aku sempat ngobrol singkat dengan satu bapak lagi yang visanya juga sudah habis dan bagaimana perjuangannya di Korea sebagai pekerja. Dengan bercanda ia berkata perjuangam tidak seindah foto profil. Tapi aku bersyukur melihat bagaimana dengan situasi yang sulit mereka tetap bersemangat beribadah. Hal yang menarik gereja ini cukup mandiri dalam segi keuangan dan mereka juga memberikan persembahan untuk misi. Wah salut dengan mereka.
Selain mengobrol dengan mereka yang bekerja kami juga mengobrol dengan para mahasiswa.


Setelah dari ke gereja, kami ber-fellowship time dengan bapak dan ibu Son dengan minum kopi. Sebelum makan malam kami mampir di satu toko yang menjual makanan dan perlengkapan rumah tangga. Salah satu yang mengesankan adalah harga semangka di Korea. Setengah semangka di Korea adalah 10.000 won, kalo di rupiahkan sekitar 130 ribu rupiah. Wah…tapi menurut Pak son itu semangka yang kualitasnya rendah. Semangka yang enak setengah harganya 25.000 won, wah itu berarti sekitar 325 ribu rupiah. Mangga dan buah-buah dari negara tropis juga mahal.

Kita sebagai bangsa Indonesia sebagai negara tropis seharusnya bersyukur dapat dengan mudah dan murah menikmati buah-buahan tropis.

Makan malam, kami makan dengan 2 pasangan yang merupakan pendukung pelayanan bapak dan ibu Son. Kami diterima dengan baik
Setelah sangat kenyang kami diantar ke Jegidong untuk beres-beres karena besok kami pulang.

Seoul (Journal 14)

Tanggal 11 Agustus 2018

Hari ini agenda utama kami adalah fellowship time. Kami sudah membuat janji dengan Bang Ian Sembiring dan Pak Son serta ibu untuk menikmati makan siang bersama Son Kyung Soo, salah satu mantan murid Pak Son ketika masih mengajar di Sekolah Pajak Nasional Korea.

Masih ingat cerita Pak Son sebelum beliau dan keluarga memutuskan untuk melayani di Indonesia?

Yap, beliau adalah dosen di kampus Pajak Korea. Sudah 30 tahun berlalu dan pengaruh Pak Son sangat terasa dalam hidup Kyung Soo. Dulu, Pak Son pernah membuat cellgroup kecil di kampus tsb, salah satu peserta kelompok pendalaman Alkitab tersebut adalah dirinya.

Kyung Soo menyampaikan dalam perkenalannya kepada kami bahwa momen itu adalah turning point dalam hidupnya.

Dulu, ketika Pak Son memutuskan untuk berangkat ke Indonesia, mereka semua – anggota cellgroup tsb – tidak setuju. Namun sekarang, ketika melihat bagaimana Pak Son memberi pengaruh bagi Indonesia melalui JOY, dia melihat pekerjaan Tuhan yang besar.

Karena itu, dia sangat ingin bertemu dengan orang-orang yang dikasihi oleh Pak Son.

Kyung Soo menyampaikannya dengan penuh haru, diaminkan juga oleh istrinya. Kami merasakan bagaimana hati Pak Son dan Ibu dalam melayani mahasiswa di Jogja dulu dan pengaruhnya bagi masing-masing orang yang sekarang telah menjadi alumni JOY.

Kami dijamu makan di salah satu restoran di tepi sungai Han dengan pemandangan yang sangat bagus. Menu makanannya adalah makanan paling tradisional dan unik dari Korea termasuk ikan mentah, daging sapi mentah dan ikan fermentasi yang bau sekali. Saya mencoba ikan fermentasi tersebut, rasanya dan baunya seperti bau bahan kimia pelurus rambut di salon. Unik memang!

Kami sangat terberkati mendengar sharing dari Kyung Soo dan istrinya. Anak mereka sekarang sudah ikut wajib militer, jadi bisa kebayang umur mereka tidak muda lagi tapi semangat mereka untuk melayani Tuhan masih tetap hidup. Kyung Soo bekerja di firma Hukum sementara istrinya sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelayan di gereja.

Pelayanan Profesional

Setelah makan siang, kami berkesempatan untuk mengunjungi kantor Ibu Son.

Kantornya terletak di daerah Jamsil, bernama Pniel Counseling Center. Saya sangat senang melihat suasana ruang terapi anak yang sangat nyaman, ruang konseling remaja dan dewasa yang sangat bagus dan profesional serta satu ruang khusus untuk seminar. Ibu Son melayani konseling bersama lima orang staffnya.

Saya sempat bertanya kepada ibu, kasus apa yang menurutnya paling sulit ditangani. Jawabannya adalah kasus perceraian karena efeknya kepada anak-anak.

Ibu Son juga melayani anak-anak misionaris dan beberapa yang orang tua beda negara.

Sampai umur sekarang, Ibu Son dan Pak Son masih terus setia mengasah diri mereka belajar tekun termasuk belajar berbagai bahasa.

Setelah dari kantor Ibu Son, kami diantar menuju stasiun terdekat. Kami menuju ke Kampus Bang Ian di Hanshin. Kampus ini adalah salah satu kampus teologia tertua dan bagus di utara kota Seoul. Kami dibawa tur keliling kampus dan menikmati after meal coffee dengan ngobrol-ngobrol di cafe di kampus.

Bang Ian mendapat beasiswa dan menempuh studi di Korea sejak Februari 2017. Setelah dari kampus, kami makan malam di dekat gereja tempat Bang Ian melayani. Makan malam orang Korea selalu jam 6. Sembari cerita tentang pengalaman-pengalaman di JOY dan bagaimana perjalanan hidupnya dari Jogja menuju Medan menuju Taiwan menuju Madagaskar lalu ke Korea Selatan.

Setelah makan malam, kami jalan kaki menuju stasiun Suyu untuk kembali ke Jegidong.

Dari stasiun, kami jalan kaki sebentar menuju jalan Anam untuk menikmati ayam goreng sembari bercerita banyak tentang pelayanan JOY dengan Bang Ian.

Setelah itu kami berpisah jalan untuk kembali ke tempat masing-masing.

Bersyukur untuk fellowship time hari ini, bisa saling meng-encourage satu dengan yang lain.

 

Seoul (Journal 13)

 

Tanggal 10 Agustus 2018

Hari ini kami meninggalkan kampus Konkuk untuk kembali ke kantor JOY. Walau badan capek tetapi hati kami senang atas semua pengalaman iman dan sukacita selama mengikuti Mission Korea.


Setelah beberapa waktu beristirahat, kami makan siang bersama dengan Myoung Hee. Dia mentraktir kami makan ikan bakar ala Korea. Tentu saja kami berfellowship time bersama dengan mengobrol. Ternyata Myoung Hee masih ingat lagu “Make The Right Choice” karena dulu waktu di indonesia, dia ikut bergabung dalam acara tersebut. Bahasa Indonesianya juga masih lancar menurut kami, walau dia mengaku bahwa sudah lupa banyak kata dalam bahasa Indonesia.
Begitu selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju Namdemun, sebuah pasar yang ada di Korea. Beberapa penjual ternyata mengerti beberapa kata bahasa Indonesia mungkin karena banyak orang Indonesia yang maen ke Korea.


Setelah itu kami pergi ke daerah Sadang untuk makan malam bersama dengan Sung Inkyu yang pernah datang ke Indonesia bergabung di tim LIP (Love Indonesia Project) ke 5 sekitar tahun 2001. LIP adalah program di mana beberapa orang Korea datang ke Indonesia untuk melayani selama beberapa minggu. Dia juga sempat bekerja beberapa tahun di kedutaan besar Korea di Indonesia. Sung Inkyu atau nama bekennya Bowo, sangat dekat dengan JOY tahun 2002 dan 2004. Ia ikut membantu ketika tim Mission Korea datang ke Korea. Selain dengan Sung Inkyu kami makan bersama dengan Yang Dong Chul seorang misionaris melalui dunia pekerjaan. Dia seorang bankir yang terbeban untuk melayani orang muslim dan di Mission Korea membagikan kesaksiannya. Dia juga belajar tentang hukum syariat islam di Malaysia. Selain mereka berdua hadir juga Ibu dan Pak Son. Senang sekali dapat ngobrol banyak hal dengan mereka. Yang Dong Chul banyak cerita pengalamannya selama bekerja 3 tahun di Jakarta. Aku terkesan bagaimana caranya membangun relasi dengan teman-teman kantornya. Ia belajar bahasa Indonesia dengan keras bahkan bahasa gaul pun dia belajar. Dia membangun relasi termasuk dengan lewat makanan. Banyak pegawai di tempatnya bekerja adalah orang Betawi mereka suka makan jengkol dan dia pun menyesuaikan dengan ikut makan jengkol bersama-sama dengan mereka. Melihat semangat misi mereka membuat aku teringat apa yang disampaikan di Mission Korea kemarin bahwa semua orang Kristen adalah missionaris. Membawa kabar baik tentang Yesus kepada semua orang. Missionaris bukan hanya orang-orang yang pergi ke pedalaman.

Semua orang kristen dipanggil untuk menjadi missionaris karena itu adalah amanat agung.

Setelah itu, kami pulang ke tempat kami masing-masing. Kami bertiga pulang dengan gembira ke Jegidong. [RN]

Mission Korea 2018 (Journal 12)

Tanggal 9 Agustus 2018

Kami bangun dengan cukup berat pagi ini. Rasa capek karena International Festival masih bergelantungan di betis kami. Tapi selalu tepat waktu untuk bergabung dengan partisipan negara lain menunggu bis menuju Sejong University.

Setelah antrian dan sarapan pagi dengan sepotong roti dan sekotak susu kedelai, kami memulai Global South Forum yang dipimpin oleh Andrew Kim. Ini sebenarnya kali kedua saya bertemu dengan beliau dan terlibat dalam forum ini. Dalam dua puluh menit, beliau memaparkan misi yang sudah berlangsung puluhan tahun ini di berbagai negara. Beliau sendiri adalah mobilisator gerakan misi dan church planting di negara-negara Asia termasuk Indonesia.

Seperti sharing-sharing kami sebelumnya, Nagaland adalah provinsi Kristen yang mempengaruhi perkembangan misi di seluruh India. Mereka sudah empat generasi Kristen sejak misionaris Amerika membawakan injil ke sana. Direktur misi dari North East India diberi kesempatan untuk menyampaikan perkembangan misi di India.

Ada tiga hal yang menjadi isu di sana a.l :

  1. Mental bahwa misi hanya bagi org senior atau yang sudah menikah
  2. Kristen sudah generasi ke-empat dan mulai kehilangan passion untuk membagikan injil karena sekarang banyak orang hanya mengikuti iman kristen bukan mengikuti Kristus
  3. Gereja sibuk dengan program bukan mencari yang terhilang.

 

Ada tiga hal yang harus dilakukan gereja:

  1. Gereja harus membagikan Kristus kepada yang terhilang dan hidup dengan hati misi
  2. Kelompok kristen harus terkoneksi dg gereja yang bermisi

Bagaimana orang muda terlibat?

  1. Mission trip regular
  2. Youth Service tiap bulan harus menekankan misi.
  3. Church planting harus melibatkan orang muda

Di akhir sesi, Patrick Fung yakni Direktur OMF International mengencourage dengan Kis 13:13 agar kita terus mendorong generasi muda utk reach out.

Observe, Learn and live with people.

Setelah sesi Global South Mission, sesi plenary diadakan di Daehyang Hall membahas tentang isu-isu di masa depan.

Isu-isu inilah yang menjadi landasan kenapa tema besar Mission Korea 2018 adalah Re_ a.l :

  1. Belajar dari Laussane Movement (setelah 40 tahun berlalu, ada 100 lebih isu, fokusnya sekarang lebih ke economic dan environmental issue.
  2. Tahun 2017, pertemuan 40 pemimpin gereja di Korea dan berdiskusi untuk menentukan masa depan misi korea. Dari 12 issue hasil survey a.l : revolutionary church, multicluture ministry, tentmaker, dll. Isu paling besar adalah revolutionary church. Isu besar lain adalah bagaimana mempersiapkan diri menghadapi reunifikasi dg korea utara.

Merevolusi gereja menjadikan tema Re-call, Re-Bible, Re-Tune, Re-Build dan Re-Start ini muncul. Artinya gereja bertindak mulai dari membenahi identitas, sehingga perilaku sesuai dengan karakter Kristus, Tuhan yang bermisi. Dengan kata lain, To Do = To Be.

Misi masa depan :

  1. Mission for everyone
  2. Mission out the square
  3. Mission Through every aspect of life.

Jumlah bunuh diri di dunia paling banyak Rusia kemudian Korea. Jadi, bagaimanakah caranya kita bermisi “out of the square” di zaman big data dan AI ini?

Mission Integral

Kita perlu membagikan injil tapi juga nyata memberi impact bagi society kita, semuanya tidak terpisah. Orang-orang yang hidupnya telah ditransformasi oleh Allah akan memberi dampak bagi lingkungan melalui profesionalitasnya. Salah satu yang menarik setelah kegiatan makan siang adalah exhibition. Ada 41 lembaga misi yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dari 41 lembaga, yang paling menarik ada dua yakni The Frontiers dengan tagline “Jesus for Muslims”-nya dan ET (Enterpreneurship Team) – BAM (Business as Mission).

Ada satu ruang galeri tempat sejarah misi diceritakan. Hal yang sama dari semua lembaga yang ada di galeri tersebut baik lembaga penerjemah Alkitab, lembaga kesehatan misi maupun sekolah adalah semuanya dimulai dari misionaris barat (Amerika).

Pada exhibition itu juga, kami sempat bertemu dengan Pak Kyung yang hadir mewakili Global Partners, lembaga misi yang mengadakan pelatihan khusus bagi para misionaris.

Bermisi Melalui Profesi

Setelah exhibition, kami menuju lantai B1 untuk evaluasi akhir dan encouragement di tim International. Di kesempatan ini, beberapa orang menyampaikan masukan dan ucapan terima kasih. Hal yang paling menggembirakan adalah dari 27 negara yang terlibat, pertama kalinya ada seorang yang datang langsung dari Brunei Darusalam. Jimmy menyampaikan harapan dan terima kasihnya sambil memberikan bendera Brunei. Doanya adalah setelah China Kristen pertama mengikuti Mision Korea ini (yaitu dirinya), berikutnya adalah saudara muslimnya yang menjadi percaya yang ikut. Dorkas sari Chile juga, wanita Amerika Latin pertama yang ikut kegiatan misi ini. Secara pribadi, dia sangat diberkati.

Sesi setelah makan malam adalah sesi sharing dari tiga orang. Seorang pegawai HR sebuah perusahaan di Jakarta hadir memberi kesaksian. Dia adalah orang Korea yang sudah tiga tahun di Indonesia sebagai profesional misionaris. Beliau sharing banyak tentang bagaimana membagi hidup dan memberi dampak kepada teman-teman kerjanya yang muslim sebagai bagian dari misi. Dengan mengasihi mereka, salah satu cara membagikan Kristus bagi orang-orang muslim.

Sharing kedua datang dari Yaman dalam bentuk video. Suami istri ini melayani sebagai dokter di Yaman. Mereka mengalami bahkan ketika perang dan Refugee berdatangan. Saya sangat terharu melihat keteguhan hati mereka terutama sembari membesarkan dua anaknya di sana.

Sharing ketiga dari Pastor Kim Hyung Gook. Beliau mengajak peserta untuk membaca dari Efesus 1:22-23. Bermisi dengan apa yang ada, sebanyak yang bisa kita lakukan. Salah satunya dimulai dengan mendoakan karena Roh Kuduslah yang menggerakkan orang Kristen untuk bermisi, Roh Kudus juga yang meletakkan hati misi ke dalam diri masing-masing kita hingga tergerak untuk melayani orang lain dan membagikan Kristus.

Korea juga perlu belajar misi. Tidak harus pergi jauh untuk melayani orang lintas budaya. Di Korea sendiri sangat banyak Refugee. Sudah seharusnya gereja bersatu untuk membagikan Kristus kepada mereka yang Tuhan percayakan ke sini. Mereka yang Tuhan kirim untuk dilayani.

Salah satu misionaris muda memulai dari Jeju khusus melayani orang Syria yang mencari suaka di sana. Sungguh satu langkah yang tepat.

 

Setelah selesai, penutupan dilakukan termasuk serah terima untuk penyelenggara berikutnya. Dari IVF menyerahkan kepada YWAM untuk tiga tahun ke depan. Jadi sejak 30 tahun, mulai berikutnya, Mission Korea akan diadakan setiap tiga tahun. Acara penutup berjalan dengan baik. Kami pamit dan saling menyalami dan peluk satu dengan yang lain karena ini hari terakhir kami bertemu. Entah kapan lagi bisa bertemu dengan teman-teman yang berasal dari negara lain. Secara khusus banyak diberkati dengan saudara-saudara dari Ghana, Kongo, Ethiopia, Siera Leone, Brunei, Chile, Filipina, Thailand, Jepang, Vietnam, Laos dan China.

Terima kasih untuk kesempatan bisa ikut Mission Korea dan disegarkan lagi tentang panggilan utama sebagai orang percaya adalah bermisi, membagikan Kristus melalui hidup setiap hari sehingga orang lain melihat Kristus yang hidup di dalam kita.

Mission for everyone from everywhere![GN]

 

Mission Korea 2018 (Journal 11)

Tanggal 8 Agustus 2018

Pagi ini kami berangkat ke kampus Sejong bersama-sama dengan menggunakan bus yang disediakan oleh panitia. Setelah sarapan kami mengikuti kelas Internasional yang dimulai dengan presentasi dari direktor Mission Korea tentang mission korea (MK). MK merupakan kerjasama dari 3 bagian yaitu dari gereja, campus ministry dan mission agency. Di dalam logo tahun ini ada tulisan 8818 artinya dimulai tahun 1988 dan MK tahun ini di tahun 2018. Tahun ini peringatan MK yang ke 30 tahun. Hal yang paling menarik dalam penjelasan ini adalah prinsip partnership dan service dalam penyelenggaraan MK.

Setelah itu kami melanjutkan diskusi kami dengan beberapa pertanyaan yang diajukan yaitu:
Apa itu misi dan mengapa harus berpartnership? Bagimana mempersiapakan generasi selanjutnya.

Setelah itu kami berkumpul bersama di aula besar dan memulai dengan mendengar satu orang misionaris yang melayani di Bhutan. Ia pernah menjadi peserta MK 2006 dan 2010. Ia menceritakan tentang pengalaman dan juga tantangan yang dihadapi. Dia mengatakan bahwa orang percaya adalah orang yang punya kehidupan yang bermisi.

Sesudah kesaksian diadakan penjelasan tentang trend misi secara global. Tentang bagaimana teknologi sekarang berkembang. Generasi yang ada sekarang adalah generasi milenium. Kunci dalam misi untuk menjangkau generasi sekarang adalah partnership bukan bekerja sendiri.

Setelah itu wakil beberapa negara menyanyikan lagu “How Great is our God” dalam bahasa masing-masing. Gina mewakili menyanyi dalam bahasa Indonesia. Sebagai tambahaan info yang menyegarkan panita menyebut wakil masing-masing negara dengan sebutan International Singer.

International Festival

International festival dimulai jam 13.30-17.00. Kami membawa kripik tempe, sambel terasi botol dan sambel roa yang diberikan oleh Wens kepada kami. Oh ya, tak ketinggalan juga kami bawa 5 indomie goreng, gantungan kunci, slayer batik, kopi sachet, kopi Toraja. Hal yang lucu ketika pengunjung stan kami mencoba sambal terasi dan sambal roa, ekpresinya berbeda-beda ada yang kepedasan ada yang mengatakan tidak pedas sama sekali. Satu hal yang kami temukan adalah bagi orang Jepang dan Ghana sambal tersebut pedas, tetapi bagi kebayakan orang korea tidak terasa apa-apa. Senang sekali dapat berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai negara.

Sambil ngobrol tak lupa dong berfoto bersama. Aku dan Gina sempat mencoba pakaian adat Ghana.
Setelah makan kami mengadakan Ibadah sore yang
dimulai dengan praise and worship. Yang unik dari praise and worship kali ini adalah menyanyikan beberapa theme song MK. Dimulai dengan theme song MK 1988.

Rev Lee Tae-woong kemudian membagikan firman Tuhan dari
Yohanes 3:16-21, yang mengingatkan kembali tentang kasih karunia Allah kepada kita orang berdosa. Kita mendapat garansi bahwa kita akan bersama dengan Allah selamanya.
Setelah itu ada kesaksian juga dari satu misionaris yang melayani di Laos, yang kembali mengingatkan bahwa hal pertama yang penting dalam misi adalah relasi dengan Allah.

Setelah itu kami menaikkan beberapa pokok doa. Yang paling berkesan dan menyentuh adalah ketika kami berdoa untuk para misionaris yang hadir. Para misionaris kemudian diundang untuk naik ke panggung daan kemudian kami mendoakan bersama-sama. Pak Son ada diantara misionaris tersebut. Secara pribadi ketika melihat Pak Son maju rasanya sangat-sangat terharu. Mengucap syukur atas pribadi Pak Son yang menjadi bagian rencana Tuhan untuk memanggil dan membentuk kita semua melalui persekutuan JOY.

Sesudah berdoa, kembali ibu direktur MK memberikan penjelasan tentang sejarah MK. Di antaranya sepanjang tahun 1988-2016, MK telah mengirim 35.567 misionaris. Hal yang paling menonjol dari MK menurutku adalah partnership. Dimulai dari JOY mission kemudian IVF meneruskannya demikian seterusnya. Spirit of unity menjadi hal yang indah. Mission bukan satu orang tetapi banyak orang yang terlibat. Banyak organisasi misi yang terlibat. Hal yang menarik sepanjang 16x penyelenggaraan MK ada 2 lembaga misi yang selalu ada yaitu GBT ( Global Bible Translation) dan OMF.

Setelah itu kami mengisi lembar komitmen dan menyatakan komitmen kami bersama-sama.

Hari ketiga Mission Korea sudah hampir berlalu. Bersyukur untuk pemeliharaan Tuhan terutama kesehatan selama tiga hari di universitas Sejong ini. [RN]

Mission Korea 2018 (Journal 10)

Tanggal 7 Agustus 2018

Youth Mission

Selasa pagi yang hangat menyambut kami di Lakehouse – asrama mahasiswa Konkuk University – tempat kami menginap. Hari kedua Mission Korea telah dimulai. Jika hari senin tema besar adalah Re_Calling, tema besar hari Selasa adalah Re_Bible. Tema besar keseluruhan Mission Korea 2018 adalah Re_.

Jam 8:20, Pak Son menjemput kami bertiga dari Asrama Lakehouse menuju Sejong University. Kegiatan pagi dimulai dengan antrian sarapan berupa sepotong roti dan sebotol air putih. Setelah itu, partisipan Internasional berkumpul di gedung Gunja dan mengikuti forum. Kami dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan bahasa perantara. Bergabung dalam bahasa Inggris bersama kami, Direktur IVF, CMF, para mahasiswa Torch yang berasal dari Ghana, Pakistan dan Kongo serta missionaris dari Amerika yang bulan depan akan berangkat ke Irak. Dalam kelompok, kami berdiskusi terkait Youth Mission di masing-masing negara, kekuatannya apa dan apa harapan kami sebagai International Partisipan melalui Mission Korea ini.

Dibandingkan dengan Pakistan yang sama-sama mayoritas muslim, Indonesia masih punya sejarah gerakan misi orang muda karena pelayanan kampus masih ada di Indonesia.

Saya teringat salah satu pencapaian besar yang pernah JOY lakukan adalah Mahasiswa Indonesia Menuai tahun 2005.

Setelah diskusi kelompok, kami menuju lantai 6 untuk makan siang kemudian dilanjutkan dengan sesi kapita selekta.

Misi yang Sesuai Alkitab

Kak Riana mengikuti kelas “Misi di India”, Bang Sopar mengikuti kelas Dr.Fung terkait pelayanan kreatif untuk negara-negara yang melarang Injil dan saya mengambil kelas “Missional Bible”.

Ketika makan malam kami saling membagikan isi sesi siang tadi. Bang Sopar tidak bisa mensharingkan, karena isi pertemuan dan isi materi bersifat sangat rahasia bahkan untuk dicatat dan direkam sekalipun.

Materi sesi Misi di India juga menarik bagi Kak Riana. Terkhusus mengenai gerakan misi di India bagian Timur hingga 99% penduduk provinsi Nagaland sekarang adalah Kristen.

Materi missional Bible yang saya ikuti juga sangat menarik. Pembicara adalah seorang Pastor dari Kanada yang sudah melayani puluhan tahun di Wycliff – Lembaga misi yang menerjemahkan Alkitab dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, lembaga ini lebih dikenal dengan nama Kartidaya.

Kelas dibuka dengan pertanyaan berapa banyak bahasa di Indonesia? Dia mengambil sampel Indonesia karena tercatat ada 600 lebih bahasa di Indonesia kecuali Papua. Untuk Papua (termasuk PNG) ada sekitar 700 bahasa, jadi total sebenarnya ada 1300 lebih bahasa di Indonesia. Dari 6912 bahasa di dunia, 1300nya dimiliki oleh Indonesia saja. Wow!

 

Tema hari kedua adalah Re_Bible artinya Return to Bible. Mengapa kita perlu kembali ke Alkitab?

Karena sekali lagi Allah kita adalah Allah yang bermisi, itu nyata dalam seluruh pesan di Kitab Suci.

Lukas 4:14-30 menjelaskan siapa Yesus menurut-Nya dan menurut orang Nazaret ketika itu. Kalimat Yesus sangat keras bagi orang-orang se-kampungnya itu.

Lukas 4 ini menyatakan dengan jelas bahwa Yesus diutus kepada seluruh dunia, seluruh ciptaan bukan hanya kepada orang Israel. Dialah Mesias yang dinantikan dan disampaikan oleh Yesaya itu.

Orang Yahudi pada masa itu mengharapkan mesias dalam pengertian yang berbeda. Ini juga yang sering terjadi pada orang Kristen jaman sekarang, men-stereotipe Yesus. Allah yang bermisi, Actio Dei, Allah yang bertindak.

Pelajaran di kelas “Missional Bible” ini terkait erat dengan evening session setelah makan malam yang dibawakan oleh Rev. Lee Hyun Mo.

Sebelum ibadah malam, kami diberi kesempatan untuk mengikuti exhibition dari lembaga-lembaga misi di Korea. Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah The Frontier karena baju mereka yang sangat mencolok dengan tulisan “Jesus For Muslims”. Saya paling lama berkunjung ke stand ini. Saya banyak sharing dan saling encourage dengan mission staff-nya. Sangat memberkati!

Rev. Lee membagikan tentang The Mission of God.

Arti praising (dalam bahasa aslinya yada artinya mengenali) adalah mengenali/menyatakan Tuhan sebagai Tuhan. Bayangkan jika kita ini robot/program yang terus memuji Tuhan “hosana haleluya” bahkan ketika Tuhan sedang tidak di situ. Rasanya hampa karena itu cuma program. Oleh karena itu manusia diberikan kebebasan.

Ketika kita praise & worship, kita mengenali dan menyatakan Tuhan adalah Tuhan.

Mengenali Yesus sebagai Tuhan, itulah yg membuat Petrus menjadi benar-benar Petrus/manusia.

Jadi tujuan utama dari alkitab adalah restorasi antara hubungan kita dengan Allah.Hidup seperti apakah yang dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya telah direstorasi oleh Allah? Restorasi dimulai dengan mengenali Tuhan sebagai Tuhan atas hidup pribadi.

Kej 1-6, 12:1-3, Tuhan selalu berusaha untuk merestorasi hubungannya dengan manusia. Bukan hanya Abraham, Musa, Yunus tapi Tuhan juga memanggil dan memakai kita semua dalam penggilan khusus ini.

Pertanyaannya bukan apakah kita dipanggil menjadi misionaris melainkan kemana, kapan dan dalam bentuk apa Tuhan ingin memakaiku sehingga hidup orang ikut di-restorasi?

Malam ini ditutup dengan praise and worship. Seperti kata Rev. Lee, kami pun diingatkan dengan kata “yada”, mengenali (acknowledging) Tuhan sebagai Tuhan. Ada satu lagu Korea yang versi bahasa Indonesia-nya “Ada Kuasa dalam Darah Anak Domba Allah” sangat memberkati saya secara pribadi. Kami berdoa secara khusus untuk orang-orang muda di Korea dan seluruh dunia yang hidupnya sekarang sangat sekuler. Ketika masih menjadi mahasiswa setia mengikut Tuhan tapi waktu berlalu, dengan keras dan kejamnya hidup, manusia mulai lupa “mengenali Tuhan sebagai Tuhan” dalam hidupnya sehingga hidup dalam ketidakpuasan, kerakusan, seks bebas, dan dosa.

Kami juga berdoa untuk orang-orang muda agar kembali kepada Allah dan mengikuti kehendak Allah dalam hidupnya.

Setelah acara selesai, kami kembali ke asrama Konkuk University dengan menggunakan shuttle bus yang disediakan.

Hari kedua yang berjalan dengan sangat baik. [GN]

Mission Korea 2018 (Journal 9)

Tanggal 6 agustus 2018

Pagi ini hujan cukup menyejukkan Korea yang sedang musim panas. Kami ikut doa siang untuk para staf JOY Korea. Staf JOY Korea tidak memiliki doa pagi tetapi doa siang. Ada sharing time juga. Kami diminta sharing tentang pencapaian dalam 7 bulan ini, kesedihan dan juga tujuan kami. Kami bertiga sharing dengan Victor kansanim, Staf Internasional JOY yang membantu kami selama ini. Setelah itu kami saling mendoakan. Kami bertiga juga diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri. Pada kesempan ini juga ada pamitan dari salah satu staf JOY Korea yang akan belajar Geografi Alkitab di Israel.

Setelah selesai seperti kebiasaan staf di sana, kami makan siang bersama. Sambil makan, kami berfellowship bersama istri Victor kansanim, Hye Won pernah datang ke Indonesia selama 4 bulan di tahun 1998 dan pada tahun 2006 saat gempa ia ada bersama pak Son datang ke Jogja. Selama 21 tahun bahasa Indonesia-nya masih bagus. Wah hebat!

Setelah itu, kami bersama Myoung Hee (pernah menjadi short term worker selama 2 tahun, 2006-2008), Hye Won dan Noah staf training joy pergi ke satu café untk minum kopi, juice dan satu roti jagung-ubi, sambil ngobrol-ngobrol tentunya.


Setelah fellowship time yang singkat, Myoung Hee mengantar kami ke universitas Sejong tempat diadakan Mission Korea. Mission Korea kali ini merupakan Mission korea yang ke-16 dan berulang tahun ke-30 dengan tema “Re_”.  Mission Korea pertama kali diadakan tahun 1988. Mission Korea diorganisir secara bergantian oleh lembaga pelayanan mahasiswa yang ada di Korea. Mission Korea pertama kali diorganisir oleh JOY Korea. Kami dibantu oleh salah satu staf JOY International. Kami masing- masing memilih kelas pilihan yang kami ikuti. Kami memutuskan memilih kelas yang berbeda sehingga kami bisa saling bertukar informasi apa yang kami dapat.

Pada jam 5 sore, kami mengikuti orentasi untuk peserta Internasional. Orientasi berisi penjelasan teknis untuk kami misalnya tentang akomodasi. Di pertemuan ini kami bertemu Hogi lagi dan satu mahasiswa dari Indonesia yang sedang kuliah teologi di ACTS.
Setelah makan malam, Mission Korea dimulai dengan pembukaan yakni praise and worship. Walau kebanyakan lagu menggunakan bahasa Korea, tetapi dengan adanya terjemahan bahasa inggris sangat membantu kami mengikuti praise and worship. Salah satu lagu yang berkesan kata-katanya jangan hanya menjadi orang yang beragama tetapi jadilah orang yang dewasa di dalam Kristus.

Setelah itu, ada kesaksian dari satu misionaris Korea yang melayani di Turki. Ia menceritakan tentang pengalamannya mendampingi Husain, satu orang Turki yang diinjili oleh istrinya, yang menerima Kristus beberapa hari sebelum meninggal. Ia juga menceritakan tentang istrinya yang sakit kanker perut. Tetapi dengan banyak pergumulan panggilannya tetap di dalam misi.
Setelah itu, kami praise and worship lagi, kemudian khotbah di bawakan oleh Rev. Patrick Fung, Director of OMF International. Firman diambil dari kisah 11: 19-21.Ada 3 hal yang menjadi poinnya, yakni :

  1. The Power of The Nameless People.
    Allah bisa memakai orang-orang yang tidak terkenal untuk melakukan misi. Kita semua dipanggil untuk misi. Jemaat mula-mula tersebar karena penganiayaan dan itu membuat injil tersebar.
    Penganiayaan tidak membunuh gereja tetapi kehilangan passion utk menceritakan firman Allah dan membaca Alkitab itulah yg membunuh gereja. Yang membuat mereka berani adalah passion yang dari Allah.
    Dalam misi ada tantangan lintas budaya. Orang yahudi yg menjadi kristen juga mengalaminya. Kita harus berpikir secara global. Mission bukanlah program. Mission adalah menceritakan tentang Kristus.
    Pembicara juga bercerita tentang panggilannya. Baru 2 tahun menjadi Kristen ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran, Tuhan sudah menantangnya untuk menyerahkan hidup seluruhnya kepada Allah. Ia kemudian melayani sebagai misionaris.
  2. The Power of Faith. Kis 11:22-25. Ayat 23, Barnabas melihat kasih karunia Allah. Kita juga seharusnya melakukan misi dengan iman.jika kita tidak melakukan apa-apa maka tidak akan terjadi apa-apa. Misson ada di mana-mana. Mission ada di setiap orang. Mission from everywere to everywere. Kita bukan orang kristen yang pasif.
  3. The Power of a Long Term Legacy. Kis 11:26. Di Antiokhia pertama kali disebut kristen. Orang yang bukan percaya menyebut mereka orang Kristen. Kriterianya harus terus mengikuti Kristus, menghormati Firman dan berdoa. Jangan hanya berdoa kehendakmu terjadi. Kamu harus berdoa tentang apa yang mau Tuhan untuk saya lakukan.

Setelah selesai kami bertemu dengan pak Son yang mengantar ke tempat kami menginap di Konkuk University yang tidak jauh dari kampus Sejong.

Hari Pertama Mission Korea yang sangat baik. Ada 27 negara yang tergabung sebagai International Participants dari Brunei, Indonesia, India, Bangladesh, Rusia, China, Pakistan, Filipina, dsbnya.

Semoga cuaca semakin teduh dan kegiatan tiga hari kedepan berjalan lancar. [RN]