Test Mengenal Diri (A Training Resume)

oleh Ria Alfrida TB

Minggu lalu membahas tentang Konseling Kedukaan bagian 3. Kali ini topik yang kami bahas dalam pertemuan Training of Existing Staff of JOY adalah terkait mengenai test kepribadian yang banyak menjadi daya tarik di JOY yaitu test MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dan test D.I.S.C, dimana test ini juga dapat membantu kita untuk mengenal diri.

kepribadian seseorang karena setiap manusia adalah pribadi yang unik.

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) merupakan salah satu tes kepribadian untuk megetahui kecenderungan kita bukan perilaku.Nah,pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah “apakah hasilnya bisa berubah?  “jawabannya adalah bisa” kenapa? karena test ini mengukur kecenderungan seseorang, bukan perilaku yang menetap. Kecenderungan bukan berarti kita tidak bisa melakukan kebiasaan yang lain namun mungkin akan sedikit sulit untuk dilakukan karena kita akan memulai sesuatu yang baru atau jarang  dilakukan.

Ketika mengisi kuesioner jangan merasa ada jawaban yang benar atau salah melainkan jawaban yang  dipilih adalah kecenderungan dari kepribadian seseorang karena setiap manusia adalah pribadi yang unik.

Berikut adalah penjelasan singkat mengenai hasil test MBTI

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hasil test MBTI yaitu pernyataan yang tidak tepat yang menganggap bahwa ekstrovert adalah orang yang ramai sedangkan introvert berarti pemalu. Ekstrovert dan Introvert merupakan cara seseorang mendapatkan energi lewat kesendirian atau bertemu orang.

Pernyataan yang sulit dijelaskan dari hasil test MBTI adalah tentang Sensing dan Intuisi. Sensing dan Intuisi adalah bagaimana mendapat informasi. Biasanya orang Intuisi lebih sedikit dibandingkan orang sensing.

Hasil tes DISC

kita perlu mengenali apa yang menjadi kelebihan ataupun kekurangan kita agar kita bisa terus belajar dan menggali kemampuan diri kita masing-masing.

Masing-masing dari hasil test tersebut (M.B.T.I dan D.I.S.C) memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi jangan merasa bawa orang yang mendapatkan hasil A dan hasil B lebih baik dari yang mendapat hasil C dan sebaliknya. Setiap kita terlahir dengan keunikan masing-masing jadi setiap kita perlu mengenali apa yang menjadi kelebihan ataupun kekurangan kita agar kita bisa terus belajar dan menggali kemampuan diri kita masing-masing.

KONSELING KEDUKAAN 3 (A Training Resume)

ditulis oleh Oya Citra

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas Konseling Kedukaan bagian 3 sebagai lanjutan pertemuan beberapa hari lalu. Beberapa hari yang lalu kami belajar terkait dengan Konseling Kedukaan bagian 2.

Hal Yang Berkaitan Dengan Kematian Orang Tua :

  1. Membangun ulang atau merubah struktur keluarga. Dalam keluarga ada sebuah struktur, kematian orang tua, benar-benar akan mengobrak-abrik keseimbangan keluarga. Misalnya keputusan selalu ditangan ayah atau ibu yang memegang peranan dalam sebuah keluarga.
  2. Berhadapan dengan keputusan-keputusan penting. Misalnya berkaitan dengan warisan.
  3. Sibling rivalry. Setiap anak memiliki memori dan pengalaman yang berbeda dengan orang tua mereka. Ketika orang tua meninggal relasi dengan saudara menjadi suatu yang penting. Sibling rivaly dari masa lalu dapat muncul kembali, misalnya berkaitan dengan warisan. Relasi antar saudara dapat bertambah kuat setelah orang tua mereka, atau semain goyah, apalagi jika tidak ada lagi orang tua yang menyatukan mereka.

Parent Loss- Seorang Perempuan Kehilangan Ibunya & Seorang Laki-Laki Kehilangan Ayahnya

  1. Seorang Perempuan Kehilangan Ibunya
    a. Jika relasi seorang anak perempuan dan ibunya kurang memiliki relasi yang baik di masa lalu, kematian ibunya membuat kesempatan untuk memiliki relasi yang lebih baik itu hilang. Barangkali seorang anak perempuan memiliki daftar pertanyaan kepada ibunya tetapi semua kesempatan itu hilang.
    b. Seorang ibu sering kali menjadi seperti lem yang menyatukan keluarga yang (rapuh). Meninggalnya ibu sering kali berdampak pada sebuah keluarga. Keluarga terbagi menjadi BMD (before mom’s death) dan AMD (after mom’s death).
  2. Seorang Laki-Laki Kehilangan Ayahnya
    a. Kematian seorang ayah berdampak pada seorang anak laki-laki. Banyak orang mengatakan kepada mereka: ‘kamu mirip seperti ayahmu,  kamu cerminan ayahmu.” Banyak anak laki-laki mengidentifikasikan diri mereka ke ayah mereka, kematian ayah mereka membuat diri mereka seakan hilang.
    b. Ada hal positif juga dari kematian ayah yaitu dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, motivasi pada seorang anak laki-laki.

Pergumulan Teologis

Tiga pertanyaan yang sering muncul dalam masa berduka:

  1. Mengapa Tuhan, mengapa? Mengapa ini terjadi, mengapa harus … dan sebagainya. Dalam alkitab Ayub pun menanyakan pertanyaan mengapa kepada Tuhan, bahkan sebanyak 16x.
  2. Kapan Tuhan, kapan? Kapan semua ini akan berakhir,, dan sebagainya.
  3. Apakah aku akan bertahan?

Seringkali kita tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita tidak punya jawaban lengkap dan memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kematian adalah sebuah misteri yang terselubung buat kita. Yang dapat kita katakan adalah setiap kematian adalah kehendak Tuhan. Kita perlu iman Habakuk dan Sadrakh, Mesakh, Abednego.

Tuhan memanggil anaknya pulang, pada waktunya untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan, untuk menggenapi rencana Tuhan. Bukan atas kemauan atau pengetahun kita.

Salah satu tugas pendampingan adalah membantu untuk melihat dari sisi rencana Tuhan.

Tapi tidak terburu-buru. Bahannya kita tidak tahu, muncul dalam proses pendampingan, kita memerlukan hikmat Tuhan. Tidak dapat ditemukan dalam 1-2 minggu, bisa muncul dalam berbulan-bulan kemudian. Orang yang tidak menemukan itu biasanya tidak bisa membangun ulang kehidupannya

.Dalam Konseling Kita Dapat Menyarankan Untuk Beberapa Hal Praktis di Bawah Ini :

  1. Menulis jurnal dan atau surat kepada mendiang
    Menulis jurnal atau juga menulis surat dapat digunakan untuk menumpahkan sekaligus memproses isi hati dan membacakannya di depan kita. Kemudian kita membalasnya sebagai mendiang. Kemudian surat dapat dibacakan.
  2. Kebaktian penghiburan
    Hal itu berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulan memori sekaligus membantu untuk menghadapi realitas kematian.
  3. Barang-barang peninggalan mendiang
    Saran yang diberikan jangan langsung menyingkirkan barang-barang kepunyaanya. Ambilah keputusan setelah sungguh-sungguh siap dan dapat berpikir dengan jernih. Lakukanlah secara bertahap. Misalnya untuk tahap pertama, pindahkan barang-barang itu dari tempat yang mudah dilihat ke tempat yang tidak mudah dilihat dan simpanlah di sana. Setelah itu barulah kita mulai bisa menyingkirkan barang-barang yang tidak mempunyai makna emosional dan ini dilakukan bertahap juga. Pada saat tertentu kembalilah ke tempat penyimpanan itu dan lihatlah apakah ada yang dapat disingkirkan lagi.
  4. Liburan
    Berlibur bukan berarti menghindari kenyataan, melainkan memberikan waktu untuk menyendiri dan merenung.
  5. Bangun ulang penghargaan diri
    Ketika mendiang pergi, orang yang ditinggal sering merasa kehilangan harga diri, misal kehilangan pasangan.
  6. Hiduplah jujur dengan diri sendiri
    Percaya pada perasaan diri dan jangan sungkan untuk menolak permintaan orang.
  7. Hadapi “kali pertama”
    Setelah meninggalnya mendiang, ada banyak “kali pertama” misalnya, ulang tahun pertama tanpa mendiang, ke gereja pertama tanpa mendiang.
  8. Janji dan pengharapan
    Kadang kali sebelum mendiang meninggal kita telah membuat janji tertentu. Jangan terikat dengan janji itu, silahkan evaluasi ulang, janji mana yang harus kita penuhi. Bagaimana menolong supaya tidak merasa bersalah.

    Apa yang tidak boleh/tidak tepat untuk dikatakan

    1. God Cliches (kata-kata klise tentang Tuhan)
    Misal: ini sudah kehendak Tuhan, hal ini akan membuat imanmu kuat, Tuhan lebih memutuhkan dia dari pada kamu, Tuhan lebih mengasihimu dari pada kamu, Tuhan punya alasan untuk hal ini, Tuhan tidak memberikan cobaan lebih dari kekuatan kita, sungguh berkat meninggal di usia muda.

    2. Ekspetasi yang tidak sehat membuat positif tetapi tidak pas
    Misal: bersyukurlah kamu masih punya anak yang lain, paling tidak kamu beruntung, kamu harus tetap membuat dirimu ssbuk, kamu harus fokus pada kenangan-kenangan yang indah saja, kamu harus kuat untuk pasanganmu (atau anakmu), setidaknya kamu beruntung, kamu harus segera mengakhirinya.

    3. Pengabaian
    Misalnya: sudah tidak usah dibicarakan, bukan kamu satu-satunya yang menderita, dia meninggal karena…, ini memang waktunya dia pergi, sesuatu yang baik muncul dari tragedi.

    4. Ketidakpekaan
    Misal: aku tahu perasaanmu, orangtua ku juga meninggal tahun lalu. Waktu akan menyembuhkan luka. Dia sudah cukup menjalani hidup, bilang saja jika ada sesuatu yang dapat saya lakukan, ini akan lebih buruk jika…,

    5. Cerita lucu.
    Berusaha menghibur dengan cerita lucu dengan maksud untuk menghibur.

    6. Cerita “gentayang” bilang melihat mendiang.

    7. Sikap melayat yang tidak menyenangkan. Misal tidak boleh nangis, “nangis karena adat”.

    Kalimat-Kalimat yang Menolong

Misal:
1. Aku akan berdoa untukmu,
2. Kamu tidak sendirian aku ada untukmu,
3. Aku tahu ini pasti seperti mimpi,
4. Katakan perasanmu padaku,
5. Aku akan berikan apapun untukmu untuk membuatmu lebih baik, tetapi aku tidak tahu caranya.
6. Kebanyakan orang yang kehilangan akan bereaksi sepertimu,
7. Critakan tentang mendiang dan bagaimana hidupmu dengannya.
8. Dapatkah aku duduk denganmu?
9. Apakah ada yang ingin kamu hubungi? Saya akan hubungimu nanti,
10. Jika kamu butuh sesuatu, telpon saja aku.

KONSELING KEDUKAAN 2 (A Training Resume)

ditulis oleh Diljerti Panggalo

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas Konseling Kedukaan sebagai lanjutan pertemuan minggu lalu. Minggu lalu kami belajar mengenai Konseling Pengampunan dan Konseling Kedukaan.

Cara tidak sehat dalam menghadapi kedukaan pada orang dewasa

  1. Terus menerus berada pada tahap keterkejutan (menyangkali bahwa mendiang sudah meninggal).  Di awal-awal tahap ini suatu yang wajar, tetapi kalau terus menerus maka sudah menjadi masalah, bisa menjadi depresi.
  2. Menyangkali kematian mendiang dan tidak mau mendengar apapun yang berhubungan dengan kematian itu
  3. Tidak dapat hidup mandiri, selalu membutuhkan orang lain
  4. Menolak semua pertolongan orang
  5. Terus menerus bersikap apatis (patah semangat, sikap negatif)
  6. Menyediri dan memutuskan semua kontak dengan orang
  7. Terganggu persepsinya akan realitas, seperti halusinasi atau mengalami kehadiran mendiang. Jika hanya sesekali masih termasuk normal, jika terus menerus hal itu akan menjadi masalah
  8. Aktif secara berlebihan dan memaksa diri untuk ceria
  9. Marah secara berlebihan terhadap lingkungan dan diri sendiri
  10. Mengembangkan kecemasan yang bersifat paranoid, keinginan untuk bunuh diri dan pikiran terus dikuasai oleh kematian mendiang
  11. Insomnia terus berlanjut
  12. Mimpi buruk yang bersifat agrresif dan destruktif
  13. Kesehatan dan kualitas kehidupan yang semakin menurun
  14. Makin sering merokok, minum miras atau obat penenang

Ball of Grief

Proses berduka itu unik, tidak ada yang sama.

Berdukamu tidak sama dengan orang lain. Jadwal berduka juga unik. Jangan membandingkan time table dukamu dengan orang lain. Dukacita bukan musuh kita

Perasaan-perasaan dalam berduka dan peran konselor

Peran konselor adalah membantu dan menemani orang yang mengalami kedukaan untuk mengeluarkan isi hatinya

  1. Kaget, menyangkal, tidak merasa apa-apa, tidak percaya

Perasaan-perasan ini merupakan perisai alami untuk melindungi dari dari realitas kematian orang yang dikasihi. Perasaan-perasaan ini cenderung bertambah kuat dan berlangsung lama jika kematian itu terjadi tiba-tiba. Pada dasarnya perasaan ini mempersiapkan kita untuk menghadapi kenyataan yang sukar kita terima.


Pada tahap ini, seseorang sulit mengingat hal-hal yang disampaikan orang. Pikiran tersumbat dan sulit mendengat. Reaksi-reaksi fisiologis yang mungkin muncul adalah jantung berdebar-debar, mual, sakit perut dan sakit kepala. Reaksi emosional yang mungkin diperlihatkan adlaah menangis dengan histeris, marah, tertawa, marah dan pingsan.

Peranan konselor:

Konselor seharusnya memberikan kesempatan kepada yang berduka untuk mengekspresikan semua perasaan ini. jangan melarangnnya untuk mengungkapkan semua perasaan ini. tugas utama konselor adalah mendampininya bukan memberikan petuah-petuah karena memang sukar baginya untuk berkonsentrasi dan mendengarkan kita. Yang penting ialah mengkomunikasikan suasanan yang menyejukan dan mendukung. Inilah yang dibutuhkan pada tahap ini.


Penting pada tahap ini konselor tidak mengatakan hal-hal yang ingin atau seharusnya dikatakan oleh yang berduka. Sebab inilah awal proses berduka. Hal-hal praktis lainnya yang dapat dilakukan konselor adalah menyediakan kebutuhan fisik yang berduka, seperti makanan dan suasana yang tenang. Tanyakan kepadanya siapa yang ingin dia kehendaki untuk mendampinginya pada saa ini.

2. Pikiran kalut, bingung, mencari-cari, rindu

Masa paling sulit untuk dilalui adalah masa setelah pemakaman. Pada masa inilah seseorang berhadapan dengan realita kematian itu. Acapkali muncul perasaan resah, tidak sabaran dan mudah menjadi marah. Banyak pikiran yang masuk. Sulit menyelesaikan tugas dan biasanya ada waktu-waktu tertentu (misalnya pagi atau malam hari), di mana merasa bingung. Tubuh menjadi lemah dan cepat letih; tidak tahu harus berbuat apa.


Adakalanya mulai mencari-cari mendiang karena sangat merindukannya dan ini menimbulkan rasa tertekan yang besar. Kadang, salah menafsirkan suara-suara tertentu sebagai bukti bahwa ia hidup kembali, misalnya suara pintu terbuka dan sebagainya. Pada banyak kasus, bahkan ada yang mengalami halusinasi visual-suatu pengalaman trasien yang muncul dari rasa rindu yang mendalam.

Peran konselor:

Pada tahap ini, orang berduka mungkin bertanya-tanya pakah ia sudah menjadi gila karena mengalami hal-hal yang “tidak normal”. Sebagai konselor, perlu menyakinkan bahwa semua yang dilami merupakan gejala yang wajar.
Kita pun mesti mendorongnnya dan membiarkannya menceritakan peristiwa kematian itu meskipun berulang-ulang kali. Kita harus memperlihatkan minat yang tulus untuk mendengarkannya karena jika tidak, ia akan menutup diri.
Satu-satunya cara untuk beranjak dari fase kekalutan ke tahap berikutnya adalah melalui mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Jadi biarkan dia menangis, jangan melarangnnya atau mengajaknya berdiskusi walaupun kalimatnya tidak masuk akal. Kita juga harus menceganya mengambil keputusan yang penting, seperti menjual rumah atau pindah.

3. Cemas/ takut/panik

Kematian orang yang dikasihi, tidak bisa tidak menciptakan perasaan tidak aman.pertanyaan seperti, “Apakah makna hidupku tanpa kehadirannya lagi?” akan mulai berkecamuk dalam pikiran. Inilah penyebabnya muncul kecemasan. Panik muncul tatkala diingatkan akan kehilangan yang baru dialami. Rasa takut berkembang dari pengalamatan bahwa diri mulai menjadi ‘gila’- reaksi yang baru dibahas tadi dan munculnya kekuatiran akan masa depan. Rasa takut kematian itu akan disusul oleh kematian-kematian lainnya; takut mati; sukar konsentrasi dan keletihan baik secara fisik maupun mental, menambah rasa cemas, takut dan panik.

Peran konselor:

Yang pertama adalah membantu mengekpresikan ketakutan itu sendiri. Misalnya dengan bertanya: “orang memberitahukan kepada saya bahwa kematian orang yang dikasihi menimbulkan ketakutan dalam diri mereka. Apakah andapun punya perasaan yang sama” kita juga mengkomunikasikan kepadanya bahwa perasaan takut merupakan reaksi yang wajar.

4. Gangguan fisik

Sebagaimana dibahas sebelumnya, secara jasmani juga akan terpengaruh. Seperti kehabisan nafas, lemas, perut kosong, ketegangan di leher dan dada, sensitif terhadap bunyi yang keras, jantung berdebar, sakit kepala, mual, sukar tidur atau terus tidur, tegang. Pada tahap berduka, rawan terhadap sakit penyakit yang berhubungan dengan sistem imun yang menurun. Dalam kasus tertentu bahkan ada yang mengembangkan peran sebagai “si sakit” seolah-olah menunjukkan kepada orang lain bahwa ia benar-benar sakit. Atau, ada yang mengidentifikasikan sementara, yakni menderita “ sakit” yang diderita oleh mendiang. Jadi jika mendiang meninggal karena sakit jantung, orang yang berduka tiba-tiba mengeluhkan sakit di dada.

Peran konselor:

Untuk mengurangi gangguan fisik, bantu untuk mengekpresikan perasaan dan isi hatinya secara langsung sebab perasaan yang tidak diungkapkan akan memanisfestasikan diri secara fisik. Konselor perlu menjelaskan bahwa apa yang dialaminya secara fisik merupakan bagian yang alamiah dari proses berduka

5. Emosi yang kuat-benci dan marah

Selain marah, ada beberapa perasaan lain yang mungkin dirasakan dengan sangat kuat, misalnya benci, menyalahkan, ketakutan dan cemburu. Sebenarnya dibalik semua perasaan ini tersembunyi perasaan mendasar seperti luka, tak berdaya, frustasi dan takut. Semua perasaan ini merupakan upaya orang berduka untuk menghidupkan kembali orang yang meninggal itu. Dengan kata lain, kemarahan yang keluar merupakan ungkapan protes orang berduka. Protes yang sehat sebab tanpanya, mungkin terjerumus ke dalam depresi.

Peran konselor:

pada kasus kematian yang terduga, emosi yang kuat tidak mengemuka; sebaiknya pada kasus kematian yang tiba-tiba, emosi yang kuat acap muncul. Peran konselor adalah mendorong orang yang berduka untuk mengeluarkan perasaan-perasaan tanpa harus berdebat dengannya.

Kita dapat mengimbangi perasaan yang negatif dengan yang positif jika konselor melihat bahwa ia sengaja hanya memfokuskan pada aspek negatif dari mendiang, karena sebenarnya ia ingin menghindar dari fakta kehilangan diri.

6. Rasa bersalah

Sesungguhnya rekasi menyalahkan diri merupakan upaya untuk memasikan bahwa kita telah benar-benar melakukan semua yang mampu dilakukan untuk menyelamatkan mendiang. Salah satu sumber rasa bersalah ialah pertanyaan mengapa ia harus meninggal, bukan kita. Pertanyaan ini sering muncul dalam kasus kecelakaan. Rasa bersalah lainnya ialah rasa bersalah yang muncul akibat merasakan kelegaan setelah kematian mendiang, misalnya dalam kasus seseorang yang sakit dalam kurun waktu yang lama atau seorang alkoholik yang telah banyak membawa kesusahan. Atau orang yang memang rawan terhadap rasa bersalah karena memiliki struktur kepribadian yang mengharuskannya bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi.

Sebagian lagi merasa bersalah karena gagal berada di samping orang yang meninggal pada saat ia meninggal. Ada juga orang yang merasa bersalah karena dibuat bersalah oleh orang lain, misalnya orang yang menuduh bahwa kematian tersebut karena ia  kurang dekat dengan Tuhan. ada pula yang merasa bersalah sebab ia secara diam-diam berharap bahwa orang itu mati

Peran konselor:

Penting bagi konselor, untuk duduk mendengarkan orang yang berduka mengungkapkan rasa bersalahnya, tanpa memberi penghakiman. Sebaliknya, jangan tergesa-gesa menghapus rasa bersalahnya. Ialah yang harus melakukan “penghapusan” itu, sebaiknya konselor membantunya melihat andilnya dalam kematian itu dengan tepat.

Dalam kasus di mana memang ada andilnya, kita harus mengetahuinya, apa yang harus dilakukannya untuk mendapat pengampunan, berdasarkan kepercayaannya. Ktia mesti memperhatikan pula apakah ia menghukum dirinya melalui sakit penyakit atau depresi yang berkepanjangan.

7. Kehilangan/kehampaan/kesedihan

Perasaan-perasaan ini merupakan bagian terseulit yang harus dilewati oleh orang berduka. Dampak kehilangan barulah mulai terasa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah kematian biasanya orang berduka beranggapan bahwa ia telah melalui bagian tersulit setelah pemakaman,namun kenyataannya adalah bagian tersulit itu justru datang setelah jeda yang agak lama. Ada beberapa momen khusus yang paling susah untuk dilalui, misalnya akhir pekan, hari libur, pagi hari setelah bangung, tengah malam sebelu tidur, waktu makan, takkala pulang ke rumah yang kosong, ulang tahun, hari besar. Begitu berat masa ini sehingga adakalanya pikiran untuk mengakiri hidup muncu

Peran konselor:

Kita perlu mesti sering bertemu dengan orang yang berduka secara teratur. Tujuannya untuk mengurangi rasa kesendirian dan membuatnya tetap menjalin kontak dengan orang di luar sekitranya. Kita mesti berhati-hari dan memberinya kesempatan untuk membuka diri hanya pada saat ini siap menceritakan hal-hal terdalam dan tersulit di alami. Kita juga dapat memberinya pengertian bahwa depresi yang dialami sekarang sebenarnya merupakan waktu baginya untuk beristirahat dan memulihkan dirinya.

8. Kelegaan/kelepasan

Bagi yang harus menyaksiakan penderitaan mendiang untuk kurun waktu yang lama, kematian merupakan kelepasan. Perasan ini kadang sulit untuk diutarakan karena terlihat kejam. Hal ini menimbulkan rasa bersalah. Sebenarnya, selain merasakan kelegaan karena penderitaan mendiang sekarang sudah berakhir, orang yang berduka pun lebih cepat merasa lega sebab sesungguhnya ia telah memulai proses kedukaannya jauh sebelum mendiang meninggal.

Peran konselor: Izinkan untuk mengeluarkan perasaan leganya dan menjelaskan bahwa perasaan itu adalah perasaan yang wajar. Ingatkan bahwa kelegaan tidak mengurangi perasaan kehilangan terhadap mendiang

Kematian Orang Tua

Faktor yang mempengaruhi proses kedukaan:

  1. Relasi dengan orang tua. Anak yang dekat denga orang tuanya memiliki proses kedukaan berbeda dengan anak yang tidak dekat dengan orang tuanya. Yang tidak dekat mungkin ada perasan tidak bersalah
  2. Usia orang tua ketika meninggal dan usia kita ketika pada saat itu
    Jika orang tua meninggal masih dalam usia muda, anak merasa dirampok, dicurangi. Jika orang tua meninggal dalam usia lanjut, anak kemungkinan mengambil peran sebagai perawat
  3. Keadaan orang tua saat meninggal. jika orang tua dalam keadaan sehat, anak akan berpikir, kenapa sekarang. Jika orang tua dalam keadaan sakit, seperti ada persiapan. Kemungkinan anak juga dalam keadaan lelah sebagai caregiver. Mendadak atau tidak
  4. Kematian orang tua yang pertama atau yang kedua
  5. Jika anak tunggal, maka bisa muncul perasan terisolasi

Kehilangan Tambahan Atas Kematian Orang Tua

  1. Kehilangan diri
  2. Orang tua memiliki peran unik dalam kehidupan seorang anak. Anak dibentuk dan dipengaruhi oleh orang tua. Entah sadar atau tidak perasaan-perasaan, harapan-harapan, tindakan-tindakan, nilai-nilai seorang anak dipengaruhi oleh orang tua mereka.

Jika orang tuamu seorang penyedia/pemenuh, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang memecahkan masalah, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang penasehat, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang merawat, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang memberikanmu rasa nyaman, siapa yang akan memainkan peran itu?

Peran-peran itu yang coba diperhatikan jika mendampingi orang yang berduka.

3. Orang tua juga merupakan orang yang mengetahui sejarah kehidupan seorang anak. Jika orang tua meninggal, seorang anak seperti kehilangan memori atau masa lalunya.  Jika orang tua terakhir meninggal, seorang anak merasakan diri mereka yatim piatu. Itu berarti tidak ada lagi untuk bisa pulang, baik secara fisik maupun psikologi.
4. Kehilangan kesempatan untuk memperbaiki relasi. Barangkali juga muncul penyesalan atas relasi yang ada di masa lalu dengan orang tua. Muncul perasaan duka karena tidak dapat memperbaiki relasi dengan mereka. Sering kali kematian orang tua, bukan hanya kesedihan karena meninggalnya orang tua tetapi juga duka cita karena meningalnya diri sendiri.
5. Meninggalnya orang tua juga seringkali kehilangan kasih yang tanpa syarat dan sempurna yang hanya dapat dipernuhi oleh orang tua. Anak kehilangan seseorang yang mendukung.

KONSELING PENGAMPUNAN & KONSELING KEDUKAAN (A Training Resume)

ditulis oleh Gloria PM

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas Konseling Pangempuanan dan Konseling Kedukaan. Setelah minggu lalu kami belajar dan membahas Kasus Khusus yang pernah ada.

KONSELING PENGAMPUNAN

Pengampunan adalah sebuah perjalanan

Konseling pengapunan adalah konseling yang bertujuan menolong seseorang yang membutuhkan sikap mengampuni, seperti mengampuni orang yang telah menyakiti hatinya.

Sebagai seorang Kristen, kita tahu bahwa kita harus mengampuni, tetapi kenyataanya kita tidak bisa menutup mata bahwa pengampunan adalah sebuah proses perjalanan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita akan bisa langsung untuk mengampuni seseorang.

Ada beberapa orang yang datang kepada konselor dengan rasa bersalah karena tidak bisa mengampuni. Sebagai konselor kita harus memberikan satu jaminan bahwa tidak masalah apabila belum bisa mengampuni.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menolong seseorang untuk mengampuni sebagai berikut : (dengan catatan, langkah-langkah ini tidak boleh diacak dan harus sesuai urutannya)

  1. Jelaskan kepada mereka bahwa kita akan melakukan perjalanan pengampunan, dan membantu mereka untuk mengeluarkan semua emosi perasaaan yang dirasakan saat itu.
  2. Menyadari Luka (mengingat kejadian-kejadian yang telah terjadi)
  3. Mengidentifikasi emosi-emosi yang terlibat. Membantu mereka untuk mendengarkan perasaan.
  4. Membantu mereka untuk mengekspresikan luka dan emosinya.
  5. Membangun Set Boundaries (ada yang memerlukan membangun ulang, ada juga yang tidak perlu)
    Pastikan 5 Langkah d=sudah selesai sebelum melanjutkan ke langkah 6. Jika belum selesai, ulangi lagi lankah 1-5.
  6. “Berdiri di Kakinya” (orang yang mau kita ampuni)
  7. Waktunya untuk mengampuni, dengan cara berdoa kepada Tuhan untuk melepaskan pengampunan. (jika konseli belum mengampuni maka kembali lagi ke langkah 1-6)
  8. Mempertimbangkan kemungkinan adanya rekonsiliasi, dengan catatan rekonsiliasi ini tidak mesti terjadi. Jika mengiginkan adanya rekonsiliasi maka perlu mempertimbangkan kesiapan kedua bela pihak. Rekonsiliasi yang belum siap dapat membahayakan relasi dan dapat memunculkan trauma.

Adapun langkah-langkah diatas dapat memberikan kita satu kesimpulan bahwa, pengampunan adalah sebuah perjalanan yang panjang, dan seseorang tidak perlu terburu-buru atau terpaksa mengampuni ketika dirinya masih belum siap.

KONSELING KEDUKAAN

Definisi:

  1. Kehilangan (Bereavement) adalah suatu keadaan yang timbul akibat kehilangan, seperti kematian.
  2. Duka (Grief) bukanlah perasaan atau emosi tertentu melainkan kumpulan beragam pikiran, perasaan dan perilaku.
  3. Meratap (Mourning) merupakan ekspresi luar dari duka dan kehilangan atau dengan kata lain duka yang diekspresikan secara terbuka

Ada 2 Jenis Kehilangan yaitu:

  1. Kehilangan-Kematian
  2. Kehilangan aspek tertentu dalam diri. Misalnya kehilangan anggota tubuh, kesehatan atau pekerjaan.

Kematian seseorang yang dikasihi merupakan sebuah bentuk kehilangan relasi yang paling intens, dengan arti lain berakhirnya kesempatan untuk berhubungan, berbicara, berbagi pengalaman, bercinta, menyentuh, berdamai, berkelahi, dan bersama seseorang baik secara emosional maupun jasmaniah.

10 Faktor yang mempengaruhi keduakaan

Orang melewati kedukaan dengan cara yang berbeda-beda. Semua respon kedukaan tergantung pada faktor-faktor di bawah ini;

  1. Relasi dengan mendiang) orang yang telah meninggal)

Contonya: apabila seserang memiliki konfilk dengan mendiang yang belum selesai, maka ada kemungkinan hal ini dapat menambah komplikasi dalam proses kedukaan. Jadi ada sebuah relasi yang ambivalen, dimana kedukaan dapat merambah keluar menjadi sesuatu yang tidak wajar dan berwarna. Misalnya : Perasaaan diwarnai dengan kebencian kepada mendiang (jadi suatu perasaan yang membingungkan sedih dan benci)

2. Tentang mendiang sendiri.

Contohnya : Apabilah seseorang yang telah meninggal memiliki sikap buruk, maka kematiannya akan dihadapi dengan perasaan bercampur. Disatu sisi orang yang ditinggalkan sedih tetapi disisi lain merasa lega, sehingga muncul perasaan bersalah karena adanya perasaan lega itu.

3. Berapa kuatnya dukungan yang diterima dari lingkungan.

Semakin kuat dukungan yang diberikan maka semakin mudah melewati masa kedukaan. Disarankan paling sedikit 1 bulan sekali dalam setahun untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang sedang berduka.

4. Penghargaan diri, Nilai-nilai hidup, dan cara seseorang menghadapi kehilangan.

Contohnya: Seseorang yang memiliki penghargaan diri rendah, yang membuat dirinya bergantung pada mendiang, kehilangan ini sangat menghancurkan. Nilai-nilai hidup, misalnya : nilai-nilai rohani (orang yang percaya Yesus akan mendapat hidup yang kekal) ini akan membatu seseorang menghadapi kedukaan.

5. Tentang kematiannya.

Contohnya: Usia seseorang saat meninggal, apakah kematiannya dapat dicegah atau tidak. (semakin mendadak suatu kematian, proses kedukaan semakin lama dan semakin akut.

6. Latar belakang budaya/religi dari seseorang yang berduka.

Contohnya : Ada budaya yang berpikir bahwa kematian sudah kehendak Tuhan, atau ada juga budaya yang kematian harus segera dikubur langsung.

7. Kehilangan atau masalah lain yang timbul akibat kematian.

Contohnya : Kesulitan Finansial, Tanggung jawab keluarga, dan kehilangan pergaulan

Semakin drastis perubahan setelah kehilangan akan semakin sulit dan biasanya ada kasus yang berkembang menjadi depresi.

8. Pengalaman sebelumnya, menghadapi kematian.

Contohnya: pengalaman seseorang yang telah kehilangan salah satu dari orang tua, biasanya akan lebih protektif kepada orang tua yang masih ada, hal ini bisa jadi dikarenakan oleh trauma kehilangan sebelumnya.

9. Pemakaman.

Proses pemakaman mempengaruhi secara psikologis, beberapa orang yang merasakan manfaat kalau melihat pemakaman orang yang dikasihi atau jasad orang yang dikasihi sebelum dikuburkan. Pemakaman diibaratkan sebagai ucapan perpisahan.

10. Tipe kepribadian dan jenis kelamin.

Perbedaan kepribadian akan mempengaruhi proses kedukaan, misalnya orang yang cenderung feeling akan hanyut dalam perasaan sedih, sedangkan orang yang lebuh thinking akan bernalar tentang penyebab kematian itu.

Mengenai perbedaan jenis kelamin, beberapa budaya mengizinkan perempuan untuk meratapi kematian dibandingkan dengan laik-laki.

Adapun manifestasi kedukaan secara fisik, yaitu:

  1. Menangis
  2. Dada terasa sesak
  3. Tidak nafsu makan
  4. Mimpi buruk
  5. Insomnia

Adapun manifestasi kedukaan secara perasaan dan pikiran, yaitu:

  1. Sedih
  2. Cemas
  3. Hanyut dalam diri sendiri
  4. Kehilangan minat pada kegiatan sehari-hari
  5. Sukar konsentrasi
  6. Melamun

Proses Kedukaan.

Ada 3 alasan yang membuat kita berduka, yaitu:

  1. Kehilangan pasangan/orang yang dikasihi
  2. Kehilangan kendali
    Kehilangan seseorang, membuat kita meraka kehilangan kendali atas kehidupan ini, kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun kita sadar bahwa Tuhan yang mempunyai kendali dan kontrol atas kehidupan manusia, tetapi tetap saja kita merasa kehilangan kontrol.
  3. Kecewa kepada Tuhan

Tanpa sadar, ketika kehilangan seseorang, kita kecewa kepada Tuhan dan merasa Tuhan itu tidak adil. Seolah-olah kita kehilangan pengharapan dan jaminan janji pemenuhan dari Allah.

Hambatan dalam berduka, yaitu:

  1. Ketidaksediaan untuk membiarkan diri berduka
  2. Ketidakmampuan untuk berduka, karena terbiasa menekan perasaanya. Perasaanya tumpul atau sudah terlalu sering berduka.
  3. Kehilangan yang berturut-turut, sehingga menjadi kebal
  4. Situasi yang tidak mengizinkan karena harus melanjutkan hidup dengan segera.
  5. Tidak tahu dengan pasti apakah orang itu sudah meninggal atau belum. Misalnya : belum melihat jenazahnya atau tidak mendapatkan informasi yang pasti.
  6. Sikap Ambivalen terhadap mendiang yakni membencinya tapi juga merasa kehilangan.
  7. Tuntutan religius atau sosial budaya yang mengharuskan kita tabah.

Adapun hal-hal yang telah dijabarkan diatas ini, dapat memberikan kita pengertian dan dan dapat membantu kita dalam untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang mengalami kedukaan