International JOY Conference (Journal 4)

1 Agustus 2018

Tes Kasih Karunia Allah

Memulai pagi dengan menikmati matahari terbit dengan pemandangan pantai menambah syukur kami atas kasih Allah yang tak terhingga. Ini hal sederhana yang semakin kami sadari ketika menyaksikan kisah teman-teman JOY China yang begitu antusias dengan laut dan pantai terutama mereka yang tinggal jauh di kota-kota dataran utama Tiongkok.

Pagi ini kami memulai dengan morning devotion dari Saoxing Chen, staff JOY China. Bacaan bersama dari Matius 20:1-16 yang bercerita tentang para pekerja di kebun anggur Tuhan. Dalam hidup, sering kali kita protes akan kasih karunia Tuhan. Ketika Tuhan memanggil pekerjanya, dia memberi upah sama rata padahal jumlah jam kerja berbeda-beda. Bagaimana bisa? Bukankah itu tidak adil? Inilah yang disebut tes Kasih Karunia. Kita membandingkan hasil kerja kita dengan yang lain dan berharap keadilan padahal cara bekerja Tuhan tidak selalu terkait keadilan. Ladangnya adalah milik-Nya dan hasilnya termasuk uang untuk upahan adalah milik-Nya sehingga Dia berhak memberi upah yang sama kepada pekerja 12 jam, 9 jam, 6 jam, 3 jam dan 1 jam.  Pesan pagi ini mengingatkan bahwa seringkali kita menghakimi Allah atas kemurahan-Nya bagi orang lain karena bandingannya dengan diri kita sendiri. Tuhan belum memberi pasangan hidup, padahal yang seumuran sudah Dia berikan atau Tuhan memberi lebih banyak kepada si A padahal saya bekerja lebih keras darinya. Sejujurnya, Firman ini sangat menegur orang percaya. Jangan sampai kita menjadi yang terakhir!

Menjadi Yang Pertama untuk memberkati Bangsa

Setelah morning devotion, kami makan pagi bersama. Bersama dengan saya satu meja adalah tim JOY China. Semua dari mereka adalah orang Kristen pertama di keluarga mereka. Semua dari mereka mengenal Kristus melalui pelayanan JOY. Ada satu orang staff muda namanya Abel. Dia percaya kepada Yesus setelah dimuridkan di JOY. Hal yang menarik adalah dia kemudian membawa orang tuanya, saudara-saudaranya kepada Kristus. Dia menjadi contoh bagi teman-temannya yang lain yang masih bergumul dengan tantangan dari keluarga mereka yang belum percaya.

Setelah makan pagi, kami melakukan tracking di Somuui. Hiking selama 2 jam dengan jumlah langkah sebanyak 10 ribu langkah. Ada delapan tantangan yang wajib diikuti mulai dari foto lucu, model, atlit hingga foto dengan hewan, di museum dan dengan mata uang dari berbagai negara.

Pemeliharaan Tuhan 

Setelah melawan teriknya siang di pulau dan menikmati makan siang dan istirahat sejenak, kami melanjutkan dengan laporan dari Indonesia, Kamboja, Vietnam dan Overseas Mission JOY. Saya mengajarkan lagu “Roh Allah yang hidup penuhiku”, lagu Indonesia yang secara khusus mengingatkan lagi panggilan misi dan perlengkapan misi yang Allah berikan melalui Kuasa Roh Kudus. Setelah itu saya sharing tentang JOY, situasi Indonesia dengan tantangan politik, sosial, keamanan dan ditutup dengan sharing pokok doa JOY Indonesia dari Kak Riana.

Direktur JOY Kamboja yakni Ra Sokhtea menyampaikan laporannya dengan gaya yang sangat ceria, mengingatkan kami akan Mas Gugun, alumni JOY. Kamboja punya keunikan tersendiri dengan JOY Farmnya.

Dilanjutkan dengan sharing dari JOY termuda yakni JOY Vietnam yang baru dimulai tahun ini di Hanoi. Dibanding Jogja, Hanoi memiliki lebih banyak mahasiswa yang perlu dilayani yakni 800.000 mahasiswa. 80% dari mereka adalah atheis karena latar belakang Komunis yang berakar di sana.

Terakhir, Victor Je, Direktur International JOY Overseas menjelaskan tentang perkembangan terakhir misi overseas termasuk harapannya untuk memulai misi di negara baru di Asia Barat. Victor juga menyampaikan bahwa JOY Filipina sayangnya tutup, namun JOY Kirgyztan masih ada hanya tidak dapat ambil bagian dengan International JOY Conference karena situasi politik di sana.

Mari kita berdoa agar Tuhan mengirimkan orang/keluarga untuk dipakai menanam Firman Tuhan dan JOY Spirit dimanapun kita berada selama kita masih ingat bahwa kita adalah Duta Kristus bagi dunia ini.

Setiap laporan diakhiri dengan doa bersama bagi masing-masing negara.

Secara global, pelayanan mahasiswa di seluruh dunia mengalami hal yang sama termasuk di JOY secara keseluruhan. Di China, Korea, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia, mahasiswa yang adalah generasi Z tidak terlalu tertarik dengan hal rohani. Inilah tantangan kita zaman sekarang.

Setelah laporan, kami menikmati barbeque ala Korea dengan sajian daun selada, bumbu dan daging babi.

Air Hidup 

Kegiatan hari ini ditutup dengan sharing dari Soo Euk Kim, Direktur JOY Korea tentang hidup sebagai para pelayan Tuhan. Cerita wanita Samaria di tepi sumur dalam Yohanes 3 mengingatkan kita bahwa bisa saja kita mencari “sumur-sumur Yakub” yang lebih terbukti terpercaya selama ribuan tahun. Yesus mengingatkan kita bahwa Dia lebih dari sumur Yakub, Dialah air hidup yang bertahan hingga kekekalan, jika kita bergantung kepada-Nya dalam hal apa saja, kita tidak akan pernah kekurangan. Seringkali kalkulasi kita meleset, jika kita terlalu bergantung kepada si A, si B yang rutin mendukung secara finansial maupun rutin memberi ide-ide yang berguna.

Sekali lagi diingatkan bahwa iman itu bukan kalkulasi dan matematika, bahkan 2000 tahun sumur Yakub ada di sana menjadi sumber air orang Samaria, tetap wanita ini haus dan tidak terpuaskan. Hanya jika seorang pelayan sungguh-sungguh menggantungkan seluruh hidupnya kepada Allah saja, hanya kepada Dia saja, maka Dia menjamin akan memuaskan kita dan menjadikan hidup kita penuh.

 

Sebelum beristirahat, Victor Je mengumumkan pemenang kegiatan tracking tadi pagi dengan skor 670 yakni kelompok King David. Kelompok saya yaitu yepuJOY mendapat peringkat ketiga dengan hadiah kipas korea yang sangat cantik. Kelompok Kak Riana mendapatkan mainan hp korea, kelompok Bang Sopar mendapatkan pensil case Korea.

Ada perasaan sedih karena akan segera berpisah, namun juga senang karena merasakan pemeliharaan Tuhan. Kami saling meng-encourage satu dengan yang lain baik dalam doa maupun lewat kata-kata. Itulah artinya keluarga di dalam Tuhan, JOY Indonesia tidak pernah sendirian!

Kami sempat berbagi email untuk mengirimkan foto dan kabar dengan teman-teman JOY China karena sebagian besar media sosial mereka dilarang termasuk whatsapp, kakaotalk, instagram, dll.  Kami kaget karena email mereka menggunakan angka, yang ternyata juga dibuat oleh pemerintah secara langsung.

Wah! What a surprise! Kegiatan hari ini sudah selesai, namun rasanya teman-teman JOY apapun negaranya punya ciri khas yang sama, sembari saya menuliskan jurnal ini, mereka sedang fellowship time beberapa menit dengan bermain UNO dan sebagian ngobrol-ngobrol sebelum tidur.

Malam terakhir yang sangat memberkati. Mari beristirahat sejenak! Tuhan berkati. [GN]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *