Seoul (Journal 8)

Tanggal 5 agustus 2018

Pertolongan Tak Terduga

Hari ini kami bertiga beribadah di Oryun Community Church, sebuah pelayanan Internasional yang dimiliki oleh Gereja Oryun yang terletak kira-kira satu jam perjalanan subway dari Jegidong. Kami mendapat informasi gereja tersebut dari Bang Sopar yang pada 2013 datang ke Korea.

Ketika kami sampai di stasiun subway, abang mengatakan bahwa kami menunggu satu orang indonesia yang dikenalnya ketika berkunjung di gereja tersebut di tahun 2013. Kami harus menunggu karena abang lupa jalan ke gereja tersebut.  Dikarenakan kami tidak menemukan jaringan wifi, kami memutuskan untuk jalan menuju ke gereja tersebut berdasarkan ingatan abang. Dan alhasil, kami tersesat kira-kira 30 menit, sampai akhirnya memutuskan bertanya pada salah satu pria Korea yang puji Tuhan, bisa berbahasa Inggris. Beberapa menit pacarnya datang dan bergabung bersama kami. Berbekal alamat yang dikirim ke Bang Sopar sebelumnya, mereka mencari di google map sembari menanyakan orang Korea di situ terkait petunjuknya untuk kami. Setelah menemukan, mereka berdua memutuskan untuk mengantar kami, berjalan sampai tujuan.

Sang pria menceritakan bahwa ia pernah pergi ke China selama tiga bulan. Disana dia pernah tersesat juga, dan sangat bingung karena sedikit sekali kemungkinan menemukan orang China yang dapat berbahasa Inggris. Itulah alasannya kenapa dia bisa berempati dengan kami yang tersesat. Wah senang rasanya mendapat pertolongan yang tak terduga.

Dion, teman Bang Sopar yang memberi info jalan kepada kami

Gereja Yang Bermisi

Walau sedikit terlambat, kami akhirnya sampai di Oryun Community Church. Ternyata ibadah ini diadakan untuk melayani orang-orang Indonesia. Gereja ini memang terbeban untuk melayani orang-orang asing. Mereka memiliki pelayanan dalam 7 bahasa ( Vietnam, Indonesia, Bangladesh, Rusia, Kazakhstan, China dan Inggris). Gereja ini secara rutin setahun sekali mengadakan mission trip (pelayanan medis) ke sumba. Tadi siang, ibadah dalam berbahasa Indonesia dihadiri oleh lima wanita Indonesia yang studi di kampus Suk Myong, satu orang pria Indonesia yang bekerja di daerah Incheon,  satu orang wanita dari Lithuania, diajak oleh lima wanita ini utk percaya Yesus dan satu orang Korea yang adalah penatua dari gereja Oryun.

Di tengah-tengah ibadah ada sesi kesaksian dan perkenalan karena saya dan Gina baru pertama kali datang. Ketika saya menyebutkaan diri dari JOY ternyata beberapa orang sudah tahu. Gina membagikan kesaksian tentang perjuangan teman-teman JOY China dalam melakuan pelayanan dan juga pengalamannya dalam melayani teman muslimnya yang belajar mengenal Kristus.
Firman di bawakan oleh salah satu orang Indonesia bernama Hogi. Dia telah menyelesaikan kuliah M.Div di Torch dan sekarang sedang melanjutkan di program M.Th. Hogi juga menjadi pendeta muda di gereja tersebut. Firman Tuhan diambil dari Keluaran 20:18-21. Tentang bangsa Israel yang takut untuk menghadap Allah. Hal yang membuat takut adalah adanya guntur dan kilat yang mereka hadapi. Musa menenangkan mereka untuk tidak takut karena Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba mereka dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada pada bangsa Israel agar bangsa Israel jangan berbuat dosa. Allah yang Maha Besar mau datang ke manusia karena Ia mengasihi manusia. Kita berharga baginya.

Dunia Yang Sempit

Setelah itu kami berfelowship time dengan makan bersama. Kami menemukan bahwa dunia itu sempit. Kami bertemu dengan teman SMA Hendra – alumni JOY, leader music ministry – yang bernama Intan. Kami lalu melakukan video call dengan Hendra karena mereka berdua sudah hilang kontak beberapa lama. Sungguh tepat, akhirnya bisa kontak-kontakkan lagi mulai sekarang.

Hogi juga berpikir dia pernah melihat saya, ternyata dia pernah beberapa kali datang ke SAAT Malang. Gina juga bertemu dengan sesama orang Ambon bernama Theodora yang berasal persis satu desa dengannya. Saya juga bicara dengan satu ibu Korea yang datang di tengah-tengah kebaktian untuk menyiapkan makanan untuk kami. Beliau seorang dokter, suaminya juga dokter. Ia menceritakan pengalamannya di Sumba dan keterbebanan gereja mereka untuk melayani Sumba.

Setelah makan tentu tak terlupakan kami bertukar instagram dan berfoto bersama. Wah rasanya senang sekali mendapat keluarga baru lagi. Sesudahnya kami bersama mengunjungi satu toko untuk membeli beberapa keperluan kami dan kemudian pulang ke Jegidong.
Di Jegidong kami bertemu dengan teman-teman JOY China yang bersiap-siap untuk pergi. Mereka besok akan mengadakan retreat untuk semua staff yang melayani di JOY China.

Semangat! Begitulah kami saling menyemangati! Saya secara pribadi terberkati dengan perjuangan mereka.

Bersyukur untuk hari minggu yang penuh kebaikan ini. Semoga banyak berkat dan kebaikan Tuhan juga buatmu di hari ini! [RN]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *