Mission Korea 2018 (Journal 10)

Tanggal 7 Agustus 2018

Youth Mission

Selasa pagi yang hangat menyambut kami di Lakehouse – asrama mahasiswa Konkuk University – tempat kami menginap. Hari kedua Mission Korea telah dimulai. Jika hari senin tema besar adalah Re_Calling, tema besar hari Selasa adalah Re_Bible. Tema besar keseluruhan Mission Korea 2018 adalah Re_.

Jam 8:20, Pak Son menjemput kami bertiga dari Asrama Lakehouse menuju Sejong University. Kegiatan pagi dimulai dengan antrian sarapan berupa sepotong roti dan sebotol air putih. Setelah itu, partisipan Internasional berkumpul di gedung Gunja dan mengikuti forum. Kami dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan bahasa perantara. Bergabung dalam bahasa Inggris bersama kami, Direktur IVF, CMF, para mahasiswa Torch yang berasal dari Ghana, Pakistan dan Kongo serta missionaris dari Amerika yang bulan depan akan berangkat ke Irak. Dalam kelompok, kami berdiskusi terkait Youth Mission di masing-masing negara, kekuatannya apa dan apa harapan kami sebagai International Partisipan melalui Mission Korea ini.

Dibandingkan dengan Pakistan yang sama-sama mayoritas muslim, Indonesia masih punya sejarah gerakan misi orang muda karena pelayanan kampus masih ada di Indonesia.

Saya teringat salah satu pencapaian besar yang pernah JOY lakukan adalah Mahasiswa Indonesia Menuai tahun 2005.

Setelah diskusi kelompok, kami menuju lantai 6 untuk makan siang kemudian dilanjutkan dengan sesi kapita selekta.

Misi yang Sesuai Alkitab

Kak Riana mengikuti kelas “Misi di India”, Bang Sopar mengikuti kelas Dr.Fung terkait pelayanan kreatif untuk negara-negara yang melarang Injil dan saya mengambil kelas “Missional Bible”.

Ketika makan malam kami saling membagikan isi sesi siang tadi. Bang Sopar tidak bisa mensharingkan, karena isi pertemuan dan isi materi bersifat sangat rahasia bahkan untuk dicatat dan direkam sekalipun.

Materi sesi Misi di India juga menarik bagi Kak Riana. Terkhusus mengenai gerakan misi di India bagian Timur hingga 99% penduduk provinsi Nagaland sekarang adalah Kristen.

Materi missional Bible yang saya ikuti juga sangat menarik. Pembicara adalah seorang Pastor dari Kanada yang sudah melayani puluhan tahun di Wycliff – Lembaga misi yang menerjemahkan Alkitab dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, lembaga ini lebih dikenal dengan nama Kartidaya.

Kelas dibuka dengan pertanyaan berapa banyak bahasa di Indonesia? Dia mengambil sampel Indonesia karena tercatat ada 600 lebih bahasa di Indonesia kecuali Papua. Untuk Papua (termasuk PNG) ada sekitar 700 bahasa, jadi total sebenarnya ada 1300 lebih bahasa di Indonesia. Dari 6912 bahasa di dunia, 1300nya dimiliki oleh Indonesia saja. Wow!

 

Tema hari kedua adalah Re_Bible artinya Return to Bible. Mengapa kita perlu kembali ke Alkitab?

Karena sekali lagi Allah kita adalah Allah yang bermisi, itu nyata dalam seluruh pesan di Kitab Suci.

Lukas 4:14-30 menjelaskan siapa Yesus menurut-Nya dan menurut orang Nazaret ketika itu. Kalimat Yesus sangat keras bagi orang-orang se-kampungnya itu.

Lukas 4 ini menyatakan dengan jelas bahwa Yesus diutus kepada seluruh dunia, seluruh ciptaan bukan hanya kepada orang Israel. Dialah Mesias yang dinantikan dan disampaikan oleh Yesaya itu.

Orang Yahudi pada masa itu mengharapkan mesias dalam pengertian yang berbeda. Ini juga yang sering terjadi pada orang Kristen jaman sekarang, men-stereotipe Yesus. Allah yang bermisi, Actio Dei, Allah yang bertindak.

Pelajaran di kelas “Missional Bible” ini terkait erat dengan evening session setelah makan malam yang dibawakan oleh Rev. Lee Hyun Mo.

Sebelum ibadah malam, kami diberi kesempatan untuk mengikuti exhibition dari lembaga-lembaga misi di Korea. Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah The Frontier karena baju mereka yang sangat mencolok dengan tulisan “Jesus For Muslims”. Saya paling lama berkunjung ke stand ini. Saya banyak sharing dan saling encourage dengan mission staff-nya. Sangat memberkati!

Rev. Lee membagikan tentang The Mission of God.

Arti praising (dalam bahasa aslinya yada artinya mengenali) adalah mengenali/menyatakan Tuhan sebagai Tuhan. Bayangkan jika kita ini robot/program yang terus memuji Tuhan “hosana haleluya” bahkan ketika Tuhan sedang tidak di situ. Rasanya hampa karena itu cuma program. Oleh karena itu manusia diberikan kebebasan.

Ketika kita praise & worship, kita mengenali dan menyatakan Tuhan adalah Tuhan.

Mengenali Yesus sebagai Tuhan, itulah yg membuat Petrus menjadi benar-benar Petrus/manusia.

Jadi tujuan utama dari alkitab adalah restorasi antara hubungan kita dengan Allah.Hidup seperti apakah yang dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya telah direstorasi oleh Allah? Restorasi dimulai dengan mengenali Tuhan sebagai Tuhan atas hidup pribadi.

Kej 1-6, 12:1-3, Tuhan selalu berusaha untuk merestorasi hubungannya dengan manusia. Bukan hanya Abraham, Musa, Yunus tapi Tuhan juga memanggil dan memakai kita semua dalam penggilan khusus ini.

Pertanyaannya bukan apakah kita dipanggil menjadi misionaris melainkan kemana, kapan dan dalam bentuk apa Tuhan ingin memakaiku sehingga hidup orang ikut di-restorasi?

Malam ini ditutup dengan praise and worship. Seperti kata Rev. Lee, kami pun diingatkan dengan kata “yada”, mengenali (acknowledging) Tuhan sebagai Tuhan. Ada satu lagu Korea yang versi bahasa Indonesia-nya “Ada Kuasa dalam Darah Anak Domba Allah” sangat memberkati saya secara pribadi. Kami berdoa secara khusus untuk orang-orang muda di Korea dan seluruh dunia yang hidupnya sekarang sangat sekuler. Ketika masih menjadi mahasiswa setia mengikut Tuhan tapi waktu berlalu, dengan keras dan kejamnya hidup, manusia mulai lupa “mengenali Tuhan sebagai Tuhan” dalam hidupnya sehingga hidup dalam ketidakpuasan, kerakusan, seks bebas, dan dosa.

Kami juga berdoa untuk orang-orang muda agar kembali kepada Allah dan mengikuti kehendak Allah dalam hidupnya.

Setelah acara selesai, kami kembali ke asrama Konkuk University dengan menggunakan shuttle bus yang disediakan.

Hari kedua yang berjalan dengan sangat baik. [GN]

Leave a Reply

Your email address will not be published.