Seoul (Journal 14)

Tanggal 11 Agustus 2018

Hari ini agenda utama kami adalah fellowship time. Kami sudah membuat janji dengan Bang Ian Sembiring dan Pak Son serta ibu untuk menikmati makan siang bersama Son Kyung Soo, salah satu mantan murid Pak Son ketika masih mengajar di Sekolah Pajak Nasional Korea.

Masih ingat cerita Pak Son sebelum beliau dan keluarga memutuskan untuk melayani di Indonesia?

Yap, beliau adalah dosen di kampus Pajak Korea. Sudah 30 tahun berlalu dan pengaruh Pak Son sangat terasa dalam hidup Kyung Soo. Dulu, Pak Son pernah membuat cellgroup kecil di kampus tsb, salah satu peserta kelompok pendalaman Alkitab tersebut adalah dirinya.

Kyung Soo menyampaikan dalam perkenalannya kepada kami bahwa momen itu adalah turning point dalam hidupnya.

Dulu, ketika Pak Son memutuskan untuk berangkat ke Indonesia, mereka semua – anggota cellgroup tsb – tidak setuju. Namun sekarang, ketika melihat bagaimana Pak Son memberi pengaruh bagi Indonesia melalui JOY, dia melihat pekerjaan Tuhan yang besar.

Karena itu, dia sangat ingin bertemu dengan orang-orang yang dikasihi oleh Pak Son.

Kyung Soo menyampaikannya dengan penuh haru, diaminkan juga oleh istrinya. Kami merasakan bagaimana hati Pak Son dan Ibu dalam melayani mahasiswa di Jogja dulu dan pengaruhnya bagi masing-masing orang yang sekarang telah menjadi alumni JOY.

Kami dijamu makan di salah satu restoran di tepi sungai Han dengan pemandangan yang sangat bagus. Menu makanannya adalah makanan paling tradisional dan unik dari Korea termasuk ikan mentah, daging sapi mentah dan ikan fermentasi yang bau sekali. Saya mencoba ikan fermentasi tersebut, rasanya dan baunya seperti bau bahan kimia pelurus rambut di salon. Unik memang!

Kami sangat terberkati mendengar sharing dari Kyung Soo dan istrinya. Anak mereka sekarang sudah ikut wajib militer, jadi bisa kebayang umur mereka tidak muda lagi tapi semangat mereka untuk melayani Tuhan masih tetap hidup. Kyung Soo bekerja di firma Hukum sementara istrinya sebagai ibu rumah tangga sekaligus pelayan di gereja.

Pelayanan Profesional

Setelah makan siang, kami berkesempatan untuk mengunjungi kantor Ibu Son.

Kantornya terletak di daerah Jamsil, bernama Pniel Counseling Center. Saya sangat senang melihat suasana ruang terapi anak yang sangat nyaman, ruang konseling remaja dan dewasa yang sangat bagus dan profesional serta satu ruang khusus untuk seminar. Ibu Son melayani konseling bersama lima orang staffnya.

Saya sempat bertanya kepada ibu, kasus apa yang menurutnya paling sulit ditangani. Jawabannya adalah kasus perceraian karena efeknya kepada anak-anak.

Ibu Son juga melayani anak-anak misionaris dan beberapa yang orang tua beda negara.

Sampai umur sekarang, Ibu Son dan Pak Son masih terus setia mengasah diri mereka belajar tekun termasuk belajar berbagai bahasa.

Setelah dari kantor Ibu Son, kami diantar menuju stasiun terdekat. Kami menuju ke Kampus Bang Ian di Hanshin. Kampus ini adalah salah satu kampus teologia tertua dan bagus di utara kota Seoul. Kami dibawa tur keliling kampus dan menikmati after meal coffee dengan ngobrol-ngobrol di cafe di kampus.

Bang Ian mendapat beasiswa dan menempuh studi di Korea sejak Februari 2017. Setelah dari kampus, kami makan malam di dekat gereja tempat Bang Ian melayani. Makan malam orang Korea selalu jam 6. Sembari cerita tentang pengalaman-pengalaman di JOY dan bagaimana perjalanan hidupnya dari Jogja menuju Medan menuju Taiwan menuju Madagaskar lalu ke Korea Selatan.

Setelah makan malam, kami jalan kaki menuju stasiun Suyu untuk kembali ke Jegidong.

Dari stasiun, kami jalan kaki sebentar menuju jalan Anam untuk menikmati ayam goreng sembari bercerita banyak tentang pelayanan JOY dengan Bang Ian.

Setelah itu kami berpisah jalan untuk kembali ke tempat masing-masing.

Bersyukur untuk fellowship time hari ini, bisa saling meng-encourage satu dengan yang lain.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *