Kembali Ke Jogja (Journal 16)

Tanggal 13,14 Agustus 2018

Pagi-pagi benar tepat pukul 5:30 kami berangkat menuju Incheon Airport diantarkan oleh Victor Je, staff JOY Internasional yang merupakan koordinator International JOY Conference.

Setelah cek in dan drop bagasi, kami makan pagi bersama Victor Je di Lotteria kemudian menuju cek imigrasi dan ruang tunggu.

Perjalanan menuju Kuala Lumpur dilanjutkan Jakarta berjalan dengan baik.

Setiba di Jakarta, kami dijemput oleh karyawan Bang Wenz yakni mas Gufron untuk diantar ke rumah Kak Godlif.

Waktu menunjukkan sudah malam sehingga kami langsung beristirahat.

Besok paginya, kami menjenguk Juan, anak Kak Godlif yang sedang dirawat di RS. Hermina. Wah, saya baru pernah melihat Juan sesendu itu. Dokter sempat menjenguk dan menyatakan perkembangan Juan. Puji Tuhan, ketika jurnal ini ditulis, Juan sudah keluar RS dan dirawat jalan.

Kami dijamu makan siang oleh orang tua Kak Godlif dan Richard di rumah mereka. Bersyukur untuk fellowship time dan encouragement dari keluarga Poeh untuk pelayanan JOY.

Kami berangkat ke Jogja pada malam hari dan tiba tengah malam di bandara Adisutjipto. Alfian dan Adhi menjemput kami dengan mobil JOY.

Tanggal 15 Agustus 2018

Rasanya pagi di Jogja masih saja dingin menusuk tulang, benar saja, saya melirik di hp ternyata jam 7 pagi masih 18°C. Namun rasanya sangat senang bisa ikut doa pagi bersama teman-teman pekerja lagi.

Setelah doa pagi, saya melanjutkan dengan memberikan pelatihan kepada asisten staff tentang “Living by Faith” disadur dari buku “Mentoring Paradigm” bagian “Nothing to Prove, Nothing to Lose, Nothing to Hide”.

Bagian refleksi masing-masing terkait hidup bergantung sepenuhnya akan kemurahan Tuhan dan menyerahkan seluruh hidup dan masa depan pada Tuhan saja. Agnes, Geti dan Astri saling sharing tentang tantangan-tantangan yang dihadapi terutama tekanan dari orang tua untuk bekerja sebagai PNS ataupun karyawan di perusahaan yang bonafit.

Tanggal 16 Agustus 2018

Kamis pagi kami mulai dengan doa pagi seperti biasa berdoa bagi Management Department dan Alumni.

Hari ini adalah hari doa-puasa, secara khusus berdoa bagi Bangsa dan Negara yang sudah berumur 73 tahun. Dalam Thursday Prayer Meeting tersebut, ada dua JOYer yang menyaksikan pengalaman iman dengan Tuhan.

Dwi Sibagariang, seorang leader di CG UKDW yang sedang dalam studi tahap akhir membagikan pengalamannya terkait skripsinya. Dia bersyukur meskipun gagal di grafis sehingga tidak bisa lanjut ke studio, dia belajar untuk lebih gigih lagi dalam prosesnya. Bersyukur ketika berdiskusi dengan dosen pembimbing, dia menemukan hal-hal baru untuk dikembangkan, sesuatu yang tidak terpikirkan sebelumnya. Ada blessing in disguise.

Vera, leader senior di Babarsari juga sharing tentang pengalaman imannya ketika bergumul untuk sekolah S2 di UGM yang hampir pupus karena diharuskan pulang ke Kalimantan untuk menemani mamanya yang harua operasi miom. Bersyukur karena setelah di-cek up lagi, ternyata mamanya tidak harus dioperasi, cukup dengan minum obat yang sudah diberikan oleh dokter. Vera mengakhiri tangis kelegaan melihat bagaimana Tuhan menjawab setiap doa, kegalauan dan pergumulannya selama beberapa bulan terakhir. 

Ocha membagikan Firman dari Markus 1:16-20 tentang Penjala Manusia.

Yesus memakai orang-orang biasa seperti para nelayan untuk mengerjakan pekerjaan luar biasa.

Demikian juga kita, Allah memanggil dan memakai kita orang-orang biasa ini untuk menjadi DutaNYA bagi dunia ini. Itu keistimewaan sekaligus tanggung jawab bagi kita sebagai JOYer.

ThPM ditutup dengan doa bagi persekutuan JOY dan bagi Bangsa Indonesia. Bersyukur boleh menjadi bagian dari bangsa ini. Ada tiga orang JOYer dari Timor Leste yang terlibat dalam ThPM ini dan turut mendoakan negara Indonesia tempat mereka menimba ilmu. 

Bersyukur Tuhan memberi kami bertiga kesehatan untuk memulai aktifitas kami lagi setelah konferensi JOY Internasional yang kami hadir di Korea. Terima kasih untuk dukungan alumni bagi pelayanan kami. [GN]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.