Allah Menolong

Sebelum masa pandemi ini JOY melakukan pelayanan secara offline, saat pandemi ini mulai semuanya berganti menjadi online. Ada banyak perubahan yang terjadi di masa pandemi ini sebelumnya banyak kegiatan yang memungkinkan setiap joyer untuk berkumpul baik itu kegiatan ministri, cell group maupun dalam mempersiapkan berbagai event JOY. Saat ini semuanya hanya dilakukan secara online dan kegiatannya semakin berkurang serta jumlah kehadiran teman-teman yang mengikuti pertemuan ministri semakin berkurang juga.

Beberapa kali saya menemukan bahwa mahasiswa yang saya dampingi merasa enggan untuk ikut pertemuan karena mereka merasa stres dengan semua aktivitas perkuliahan, Ada juga yang menghemat paket internet terkait masalah ekonomi, atau jaringan yang jelek di tempat mereka tinggal.

Inilah tantangan yang saya dan teman-teman staff hadapi dalam pelayanan di tahun ini. Saya merasa sedih dengan situasi ini. Para staff mengupayakan berbagai cara agar setiap anggota terus aktif dalam setiap pertemuan.

 Ada saatnya saya merasa lelah namun bersyukur setiap  merenungkan firman Tuhan, saya semakin dikuatkan untuk terus bekerja sesuai dengan kapasitas yang Tuhan percayakan dan selebihnya menyerahkannya kepada Tuhan.

Tuhan punya banyak cara untuk terus menguatkan saya dan memberikan semangat baik itu lewat firmanNya, lewat webinar yang saya ikuti maupun lewat informasi yang saya baca. Baik itu dari buku maupun dari media sosial lainnya.

Saya belajar untuk terus bergumul bersama Tuhan dalam segala hal, Semoga kita terus diberikan kesabaran dan kekuatan serta hikmat dalam menjalani hari-hari ini Terima kasih Tuhan Yesus memberkati  [Geti]

Bersekutu

Tidak terasa sudah tiga bulan JOY di-off-kan (sementara) karena covid-19 dan menurut saya ini bukan waktu yang singkat. Banyak perenungan tentang berjuang dalam iman dalam menghadapi situasi saat ini. Keterbatasan komunikasi online salah satunya, yang ternyata menjadi intimidasi dalam pelayanan saya sebagai coach.

        Puji Tuhan, Roh Kudus menolong saya menemukan cara dengan menambah waktu bersekutu saya dengan Tuhan. Melalui situasi saat ini saya sadar memang tidak bisa melakukan banyak hal secara fisik dalam pelayanan saya ke mahasiswa namun saya sadar waktu-waktu seperti ini adalah waktu terbaik saya untuk semakin membangun hubungan intim dengan Allah meskipun saya memang harus berjuang dalam kebosanan. Saya bersyukur Allah selalu menangkap saya kembali agar tidak terjatuh dalam perasaan intimidasi yang membuat saya merasa dalam keadaan yang berat.

Bersekutu lebih dalam dengan Allah adalah kunci melawan intimidasi, kebosanan dan kebuntuan dalam melayani maupun dalam pergumulan pribadi.

Saya sadar Allah begitu baik dalam segala situasi, Ia menjadi  IMANUEL dalam hidup saya. Roh Kudus yang setia menuntun saya dan membawa saya untuk terus merasakan kehadiran Yesus hingga saat ini. Dari situasi ini saya sungguh-sungguh melihat dan merasakan bahwa tidak ada satupun hal yang bisa memisahkan Kasih Allah kepada saya dan saya sangat bersyukur akan itu. Saya percaya dalam segala situasi baik itu dalam keadaan terpuruk maupun bahagia Tuhan Yesus selalu ada bersama kita dan mengasihi kita semua. God is good all the time. [Ria]

TUHAN MASIH PELIHARA

Saya melihat begitu banyak orang yang menderita diluar sana karena pandemi ini, bukan hanya terkait kesehatan atau nyawa saja, perekonomian juga menjadi imbas dan mendapat dampak buruk karena pandemi ini. Banyak orang yang kehilangan pekerjaan, banyak yang tidak mampu untuk mebeli obat-obatan ataupun untuk makan saja mereka tidak mampu membeli. Namun begitu, Tuhan masih memelihara dengan caraNya. Sayapun demikian, masih Tuhan pelihara di tengah pandemic ini.

Kegiatan JOY yang berkurang, tetap sehat dan tercukupkan juga menjadi tanda pemeliharaanNya. Tuhan memelihara saya dengan mengirimkan orang-orang yang diberkati Tuhan untuk mendukung dan membantu saya di persekutuan JOY ini. Saya sadar bahwa orang-orang ini pun juga pasti merasakan dampak buruk dari pandemi ini, tapi Tuhan menggerakkan hati mereka untuk membantu dan tetap mendukung persekutuan JOY ini. Praise the Lord!!!! Tuhan masih memelihara saya dengan cara demikian.

Setiap kali mengingat kebaikan Tuhan dalam kehidupan saya, ada satu lagu yang saya nyanyikan dan saya aminkan, lagu ini sering kali dinyanyikan oleh Opa saya dahulu kala.

 Tak tersembunyi kuasa Allah, kalau lain ditolong saya juga,TanganNya terbuka menunggulah
 
Tak tersembunyi kuasa Allah.

Lagu ini yang memberi kekuatan kepada saya untuk menjalani pandemi yang entah kapan bisa berakhir ini. Saya percaya Tuhan juga memelihara teman-teman dan kakak-kakak alumni lain dengan caraNya. Mungkin cara-cara Tuhan juga tak terduga seperti #alumnipeduli yang kami alami di persekutuan JOY atau mungkin cara lain. Saya percaya Tuhan mengasihi kita masing-masing dengan caraNya yang unik. Good is Good All The Time. [Glo]

Kuatir?

Tanggal 18 Juni ini tepat 3 bulan JOY menerapkan WFH dan menghentikan semua pertemuan tatap muka. Sebagai staff Mass Meeting saya sebenarnya cukup resah karena seolah-olah tidak ada hal berarti yang bisa kami lakukan selama karantina ini. Segala rencana yang sudah dibuat akhirnya harus ditunda bahkan dilewatkan. Yang bisa kami lakukan sampai saat ini yaitu membuat pertemuan ministry secara online setiap minggu, menanyakan kabar dan sharing dari perenungan singkat yang di post di Instagram JOY setiap Jumat. Sebagai variasi, kadang pertemuan diselingi dengan games. Kami menyadari bahwa yang bisa kami lakukan cukup terbatas. JOYer sudah cukup jenuh dengan tugas-tugas dan pertemuan-pertemuan online. Tidak jarang terdengar celetukan,  mereka sudah bosan dan ingin bertemu kembali dengan teman-teman di SC. Di tengah segala keterbatasan, saya juga mencoba terus meng-encourage para JOYer yang saya dampingi.

Meskipun hanya bisa bersua secara online dan tidak semua orang bisa terjangkau, dengan waktu yang sempit para JOYer menghabiskan waktu pertemuan ministry dengan mensharingkan kabar satu sama lain. Masing-masing dengan pergumulannya tetap terus menguatkan satu sama lain. Bersyukur untuk mereka yang masih terus setia untuk terus berkomunikasi dan menyapa temannya setiap minggu.

Sambil menunggu situasi menjadi normal saya pun terus bergumul mengenai pelayanan saya. Ada perasaan menyayangkan,  bahwa di bulan-bulan terakhir saya melayani di JOY saya tidak bisa memberikan banyak hal. Tapi kemudian Allah mengingatkan saya bahwa saya malah mendapatkan kesempatan untuk mendampingi JOYer lebih lagi dibanding waktu-waktu sebelumnya. Sebelumnya waktu pertemuan kami habiskan dengan membahas program demi program, event demi event.

Waktu untuk mendamping JOYer secara personal pun terbatas. Sekaranglah  saat yang paling tepat untuk lebih mendampingi mereka dan mendengar pergumulan mereka.

Dalam begitu banyak waktu luang yang saya habiskan sendiri, dan dalam beberapa minggu ketika menyiapkan renungan mingguan, satu hal yang sering terlintas dalam benak saya: Bagaimana manusia bisa mempercayai Allah ditengah ketidakpastian ini? Ada perasaan tidak menentu, bahwa masa depan tidak pasti dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Begitu banyak informasi yang meresahkan.  Jutaan orang terjangkit corona, ratusan ribu jiwa meninggal, banyak yang terpisah dari orang-orang yang dikasihi, dan entah berapa banyak yang mengalami kesulitan ekonomi dan kehilangan pekerjaan. 

Mau tidak mau, saya juga mulai merasakan kekhawatiran akan masa depan saya dan orang-orang terdekat saya.

Namun entah mengapa selama pandemik ini justru saya merasakan pemeliharaan yang sungguh nyata dari Allah lewat hal-hal kecil dan dari orang-orang yang tidak saya duga.

Pada saat-saat ketika saya merasa cemas, alih-alih menjadi panik, saya mencoba melihatnya sebagai kesempatan untuk mengalihkan fokus saya ke sesuatu yang mengingatkan saya bahwa Allah yang memegang kendali akan kehidupan.

Matius 6:31-33 yang seringkali menjadi penguatan bagi saya.

Tidak peduli seburuk apapun situasi dan meskipun hari-hari tidak pasti tapi Bapa di Sorga selalu tahu kebutuhan kita dan pemeliharaan-Nya akan terus ada, bagi saya dan bagi teman-teman sekalian. [Presti]

Tiga Bulan …

Tiga bulan sudah saya dan suami tertahan di Seoul. Tanggal 30 Maret lalu, ada keperluan keluarga yang mendesak sehingga kami harus ke Seoul seminggu sebelumnya, dimana saat itu Korea masih menjadi negara positif corona terbanyak di luar China. Kami mengalami pengalaman tak mengenakkan di Malaysia karena paspor Korea suami saya. Puji Tuhan, setelah urusan tanggal 30 Maret tersebut selesai, kami langsung kembali tanggal 7 April 2020 dengan Garuda Air. 

Sayangnya, tepat 2 April, Pemerintah Indonesia (Kementrian Luar Negeri dan Kementrian Transportasi) mengeluarkan pengumuman pemberhentian penerbangan dari dan ke luar negeri dan kemudian situasi corona di Indonesia malah memburuk dari waktu ke waktu hingga hari ini.

Sejak Awal April hingga hari ini entah sudah berapa kali email cancelation dari Garuda masuk sebagai notifikasi. Saya terpaksa harus perpanjang visa multiple saya sebanyak 2 kali dan akhirnya harus mengajukan visa F6—visa istri sampai penerbangan Garuda dibuka untuk kembali dengan selamat ke Jogja.

Kesulitan terbesar sebenarnya karena regulasi di Indonesia yang mempersulit kembali ke Indonesia (hanya bisa sampai ke Jakarta dan tidak ada jaminan bisa tiba ke Jogja) dengan proses karantina yang kurang jelas. Akhirnya Garuda tidak memberi rekomendasi kepada kami untuk terbang ke Indonesia.

Tiga bulan adalah masa terlama saya tinggal di luar negeri. Bahkan ketika mengunjungi keluarga di Belanda, tidak pernah selama ini. Meskipun demikian, kegiatan sehari-hari selain menemani mertua (memasak, ke RS, ke pasar, dll) adalah kegiatan staff JOY biasanya mulai dari doa pagi, rapat hari senin, persiapan cellgroup dan one to one secara online.   Tiga bulan ini juga dipakai untuk belajar bahasa online dan cek up ke dokter.

Saya menemukan banyak sekali masalah dengan fisik saya.

Mulai dari jalur hidung yang sempit yang menyebabkan sering sakit kepala , Puji Tuhan, dokter yang mengoperasi tanpa biaya sama sekali (padahal harusnya kami membayar lebih dari 15juta rupiah). Demikian juga masalah di gigi saya. Awal Maret saya sempat priksa rutin ke RS Gigi dan Mulut-nya UGM, dokter senior malah misdiagnosa, betapa girangnya saya saat itu saat dipuji memiliki gigi yang bagus dan bersih padahal keliru. Tapi puji Tuhan, dokter gigi di Ansan yang notabene adalah istri pendeta teman kuliah suami saya, memberi pemeriksaan full gratis dan memberikan diskon 40% untuk proses fix enam buah gigi saya yang bermasalah.  Saya juga punya masalah tulang belakang yang ditolong oleh  dokter tradisional Korea  (한의사) selama lebih dari sebulan. Puji Tuhan, masalah ini berangsur terselesaikan. Puji Tuhan lagi, kami tidak harus membayar biaya dokter dikarenakan beliau adalah teman cellgroup kakak ipar saya.

Saya melihat banyak sekali pertolongan Tuhan yang nyata lewat  segala urusan berbau keuangan di keluarga kami. 

Perjalanan Seoul-Ansan dan Seoul-Suwon untuk menemui dokter juga menjadi momen berharga saya karena menghabiskannya dengan membaca buku Charles Swindol tentang Abraham. Buku ini menjadi bahan refleksi saya terkait perjalanan iman.

Tiga bulan juga menjadi waktu berharga mengenali karakteristik tiga Cellgroup(CG) yang saya damping dan anak-anaknya. Ada satu CG di  Babarsari yang special bagi saya meskipun setelah anak-anaknya lulus dan satu tim intinya dicangkok menjadi leader di CG lain, ada dua orang yang setia menemani dan menjadi teman berbagi saya selama corona ini. Dua CG lainnya adalah CG daerah Blok O yang sangat berjuang secara financial di masa corona ini. Beberapa orang sudah dipaksa pulang ke NTT dengan harapan bisa menghemat selama studi online namun terkendala sinyal buruk yang justru mempersulit mereka dan membuat kuatir dan stress di semester ini. Beberapa yang tinggal juga bergumul mengenai keuangan selama tiga bulan ini karena beberapa orang tua malah tidak berpenghasilan dan mereka tidak bisa part time di masa pandemic untuk tambahan uang bulanan. Puji Tuhan, kegiatan #JOYPeduli menjadi salah satu harapan bagi mereka.

Tiga bulan masa corona menjadi kesempatan berharga bagi saya dan suami untuk berdoa, mencari kehendak Tuhan atas pelayanan keluarga kami ke depan.

Seperti yang pernah disampaikan KBS terdahulu, Juli ini seharusnya masa kontrak saya di JOY selesai. Saya banyak bergumul!Namun saya bersyukur bisa mengambil waktu lebih banyak berdoa bersama suami selama tiga bulan ini, sesuatu yang mustahil dilakukan sebelumnya. Masa tiga bulan “sendiri” di Korea, tanpa teman cerita berbahasa Indonesia juga menjadi kesempatan bagi saya untuk berempati dengan suami saya. Tuhan membuat saya mengerti perasaannya selama berbulan-bulan “sendiri” di Jogja.

Saya bersyukur menemukan “sendiri” ini berarti tidak sendiri karena Tuhan yang menyertai.

Demikian juga, pelayanan JOY dan mimpi bahwa JOY bisa tetap jadi jawaban atas pergumulan Generasi Z dan Generasi Alpha untuk mencari Allah dan menemukanNya. Saya bersyukur karena kesempatan tiga bulan ini menjadi kesempatan saya merenungkan hati Allah bagi pelayanan JOY. Cellgroup sebagai jawaban yang nyata atas kebutuhan generasi ini sangat terasa ketika pandemic ini.

Semoga  setelah tiga bulan ini pun, Tuhan terus memberi hikmat kepada para staff dan JOYer untuk menemukan cara kreatif bertumbuh, dimuridkan dan memuridkan.  [Gina]

Belajar lagi Belajar dari sini

Saat pemerintah memberi keputusan untuk self distancingself isolation, self quarantine, lockdown serta WFH, akhirnya JOY pun harus mengikuti aturan pemerintah dan melakukan WFH. Mau tidak mau pelayanan yang dilakukan via online. Sejak saat itu dalam benak saya timbul pertanyaan “sampai kapan ini akan berakhir”? Karena sejujurnya saya kurang suka melakukan semua hal secara online. Apalagi saat ini saya masih menjalani pelatihan staff. Hal ini sangat membuat saya stres karena harus menjalani pelatihan secara online. 

Awal melakukan self quarantine saya merasa biasa saja, namun selang berjalannya waktu, perasaan bosan mulai muncul. Untungnya selama masa pandemi ini saya bersama kak Glo yang menjaga Student Center JOY (SC), dan akhirnya saya menyibukan diri dengan hal-hal produktif di samping pelayanan seperti masak-masak, belajar musik, nonton, baca buku, membersihkan SC dan lain-lain.

Sayangnya, menyibukkan diri dengan hal sekunder malah membuat saya mengabaikan tugas pelatihan yang menjadi prioritas saya. Sedihnya, bahkan sebulan penuh saya tidak menyentuh tugas pelatihan tersebut. Setiap kali ada niat untuk mengerjakannya, entah kenapa bawaannya malas terus. Hingga satu ketika saya seperti disadarkan Tuhan melalui salah satu staff yang menanyakan soal jadwal monthly planning saya.

Jujur bahwa pada awal WFH saya sama sekali tidak membuat jadwal atau monthly planning. Aktifitas saya selama pandemi yang teratur setiap hari adalah tidur jam 21.30 atau jam 22.00, kemudian bangun pagi jam 5.30 atau jam 6.00, lalu saat teduh dan setelah itu doa pagi dan setiap hari senin rapat staff via online, dan setelah rapat saya akan membuat laporan keuangan. Selain itu random. Saya melakukan hal-hal sesuka hati saya.

Setelah ditanya tentang monthly planning, saya diberikan presentase pelatihan saya, dimana hingga bulan Mei belum mencapai 50%. Saat itu saya duduk dan merenungkan apa yang saya lakukan selama pandemi ini, dan melalui pertanyaan singkat itu saya disadarkan bahwa selama masa pandemi ini saya banyak menyibukan diri dengan banyak hal, namun lupa untuk melakukan prioritas saya saat ini yaitu selain melakukan pelayanan saya dibagian manajemen, saya juga harus belajar dan  menjalani pelatihan sebagai calon staff.

Saat itu saya menyesali apa yang saya lakukan. Saya sangat bersyukur karena Tuhan sungguh mengasihi saya dan terus mengingatkan saya melalui orang-orang disekitar saya melalui hal-hal kecil.

Dan dengan kasihNya mendorong saya untuk bisa keluar dari zona nyaman. Saya yang tadinya malas-malasan dan stres karena harus pelatihan secara online, jadi semangat untuk mengerjakan tugas-tugas pelatihan yang ada. Puji Tuhan presentase pelatihan saya mulai meningkat. Dan hal itu membuat saya sangat bersyukur walaupun masih ada beberapa yang tertinggal, tapi saya percaya Tuhan akan terus memampukan saya melewati semua ini.

Saya sangat lega dengan semua yang terjadi. Namun beberapa minggu saat saya sedang semangat-semangatnya, masalah baru timbul. Bukan dari lingkungan pelayanan saya, namun dalam keluarga saya. Hal itu kembali membuat saya sangat stres, dan putus asa. Kembali saya bersyukur karena Tuhan Yesus tidak meninggalkan saya. Di saat saya mulai marah dengan keadaan yang saya alami, Dia terus memberikan damai dalam hati saya dan mengingatkan saya untuk terus percaya padaNya, bahwa Dia punya kuasa untuk menolong dan memulihkan keluarga saya.

Dari semua ini saya belajar lagi untuk tidak menjadikan keadaan yang tidak diinginkan menjadi alasan untuk tidak melakukan prioritas yang harus dilakukan dan bahkan meninggalkan Tuhan.

Dan ketika melihat karya Tuhan yang terus menolong saya, saya terus diteguhkan bahwa seberat apa pun keadaan yang saya alami, yang walaupun tidak sesuai dengan yang saya ingini, Tuhan ada disana dan siap untuk menolong. Sebab Dia Tuhan yang setia dan tidak akan meninggalkan anak-anakNya.

Mungkin yang saya alami hanyalah suatu hal yang kecil. Namun dari situlah Tuhan menunjukan kuasaNya dalam hidup saya. Saya percaya bahwa ketika Tuhan menunjukan kuasaNya melalui hal kecil yang saya alami, diatas semuanya itu Dia juga sanggup menolong kita semua dalam menghadapi masa sulit dalam hidup ini, khususnya dalam menghadapi masa pandemi ini.  Apapun keadaan yang dialami, tetaplah berpegang teguh dalam iman kepadaNya karena Dia Tuhan tidak pernah pergi. Dia selalu ada apapun keadaannya. [Oya]

God Bless 😉

Menghadapi Perasaan

Awal pandemi muncul dan ketika di awal keputusan wfh 14 hari terasa berat buatku secara pribadi. Secara pribadi aku baru kurang lebih 1 bulan kembali ke JOY setelah aku pulang karena kakakku meninggal.

Aku berpikir kesibukanku di JOY akan membantuku mengatasi dukaku, tetapi Tuhan benar-benar melarangku melarikan diri dari perasaan dukaku.

Kegiatan JOY yang dioff kan menjadi wfh, membuatku mau tidak mau berhadapan dengan perasaan dukaku. Rencanaku untuk ke Malang dan konseling dengan dosen yang menjadi konselorku waktu aku kuliah dan aku sudah buat janji untuk bertemu juga batal. Semua rencanaku untuk lari dan mengatasi dukaku, semua gagal karena corona.

Sekarang aku jika menoleh ke belakang aku mensyukurinya karena Allah tidak mengijinkanku lari dan walaupun aku tahu sangat baik jika aku dapat di tolong oleh konselor untuk mengatasi dukaku, aku bersyukur karena masa wfh ini membuatku mengingat lagi untuk bersandar pada konselor agungku yaitu Bapa.

Aku masih berada dan berjuang dengan perasaan dukaku tapi aku percaya Tuhan ada bersamaku menjalani dukaku ini.

Banyak hal yang berubah selama wfh, secara pribadi juga aku memakai kesempatan ini untuk mengerjakan tesisku (aku mengambil program penyetaraan gelar MK menjadi MTh in counseling). Satu hal positif dari wfh adalah waktu yang banyak untuk mengerjakan tesis. Itu sungguh hal yang aku syukuri karena corona, sebelum corona aku bergumul bagaimana dapat membagi waktu antara pelayanan dan tesis. Sungguh karena corono aku bisa punya waktu untuk mengerjakan tesis.

Cell Group diadakan secara online, menggunan media zoom, wa, google meet atau hangout sesuai dengan kesepakatan CG. Bahan cell group online tentu tidak sama dengan cell group offline, untuk itu perlu membuat bahan-bahan cg yang baru yang sesuai dengan kondisi cg online. Aku mengambil kesempatan untuk membuat bahan-bahan cg online. Hal yang unik adalah tesisku berhubungan dengan kecemasan dan aku rasa hal ini sangat cocok dengan kondisi saat corona ini, di mana ada kemungkinan kecemasan ada mendatangi kita semua.

Hal itu terbukti ketika aku mendengar sharing di cell group, beberapa teman memang mengalami kecemasan berkaitan karena corona. Sebagian besar bahan CG yang aku buat diambil dan diinspirasi dari tesisku.  

Aku bersyukur jika apa yang aku buat atas pertolongan Allah bisa menjadi penolong untuk teman-teman di masa pandemi ini. Bahan cg online ini juga aku bagikan kepada beberapa alumni yang menghubungiku. Aku bersyukur untuk hal itu, aku bersyukur bahan cg online bisa memberkati. Aku merasa Allah sungguh tahu apa yang kita butuhkan saat ini.

Salah satu hal yang hilang di masa pandemi adalah kesempatan konseling secara tatap muka. Jadwal konseling tatap muka semua dibatalkan. Tetapi aku terus terheran dengan cara Allah bekerja, di masa pandemi ini justru Allah membukakan kesempatan untuk melakukan konseling secara online. Walau tidak rutin dan tidak bisa bertatap muka dan aku sendiri merasa ada yang kurang, tapi aku bersyukur Allah percayakan beberapa kali untuk melakukan konseling online.

Mulai minggu ini aku mencoba untuk melakukan konseling secara tatap muka. Belum setiap hari aku ke kantor, hanya pas hari konseling dan aku kumpulkan di hari yang sama, sehingga aku tidak perlu bolak-balik ke kantor.

Demikian kesaksianku berkaitan dengan pelayananku selama masa pandemi ini. Tuhan memberkati kita semua (Riana)

Temu Alumni Online

Hari minggu 7 juni 2020, telah diadakan temu alumni JOY Jabodetabekar. Informasi pertemuan ini juga disebar di group alumni nasional, sehingga beberapa alumni di luar Jabodetabekar juga bergabung, antara lain dari Korea, Sumba, Kalimantan, Papua, Jogja. Pertemuan tersebut dilakukan dengan melalui aplikasi zoom, diikuti oleh 26 orang dari berbagai angkatan. Pertemuan ini memunculkan ide untuk mengadakan temu alumni akbar JOY melalui aplikasi zoom setelah JOY anniversary, september 2020. Jadi teman-teman alumni bisa menunggu informasi selanjutnya.

Pertemuan dimulai dengan tebak-tebakan ala Cak Lontong yang dipimpin oleh Bernat. Contoh pertanyaan ala Cak Lontong misalnya, pangeran yang ditinggal mati raja, dia akan menjadi apa? Kalo jawaban bukan ala Cak lontong kita mungkin akan menjawab menjadi raja. Tentu karena tebakan ini ala cak lontong maka, jawabannya dia akan menjadi yatim. Ice breaker ini cukup menghibur dan memecahkan suasana. Setelah itu Pak Son membagikan firman yang diambil dari I Petrus 5:5-6 tentang kerendahan hati. Secara khusus menyoroti pribadi Petrus yang telah benar-benar berubah. Petrus yang memberi nasehat untuk bersikap rendah hati, dia sendiri juga menunjukkan sikap yang penuh dengan kerendahan hati.

Ada 2 peristiwa yang menunjukkan kerendahan hati Petrus. Pertama, di KPR 6:1-6. Pada saat itu ada 2 kelompok di kalangan jemaat mula-mula yaitu orang yang berbahasa Ibrani dan orang yang berbahasa Yunani. Hal tersebut menimbulkan masalah, karena orang yang berbahasa Ibrani, kebanyakan adalah orang Yahudi “tok-tok”, artinya sudah lama ikut Yesus, mereka merasa memiliki. Sedangkan kelompok orang yang berbahasa Yunani adalah orang yang baru ikut Yesus dan belum pernah bertemu dengan Yesus secara langsung.  Kalau diumpamakan dengan persekutuan JOY, maka 2 kelompok yang ada seperti kelompok orang yang sudah lama ikut JOY dan mengenal ketika Pak Son pelayanan di Indonesia dan kelompok baru yang tidak mengalami pelayanan Pak Son ketika di Indonesia.

Orang-orang yang berbahasa Yunani ini protes tentang pelayanan meja. Jika Petrus belum berubah, bisa saja Petrus marah atas protes tersebut. Pelayanan meja salah satunya untuk pelayanan penukaran uang. Semuanya dilayani oleh orang yang berbahasa Ibrani. Sekarang Petrus memberikan kesempatan kepada orang-orang yang berbahasa Yunani, dengan kata lain generasi yang lebih muda untuk melayani pelayanan meja.

Kedua, ketika jemaat makin berkembang, orang non Yahudi makin banyak yang menjadi pengikut Kristus. Banyak orang yang berbahasa Ibrani dan juga orang Farisi terus menuntut orang non Yahudi untuk disunat. Dalam KPR 15, dicatat bahwa para rasul bertemu untuk membahas hal tersebut. Di dalam pertemuan tersebut Petrus berdiri dan mengatakan bahwa hukum taurat yang merupakan kebanggaan orang Yahudi seperti sebuah kuk. Petrus kemudian mengatakan bahwa untuk mengikut Yesus, orang non Yahudi tidak perlu di sunat. Percaya kepada Kristus sudahlah cukup.

Dari kedua peristiwa tersebut, dapat dilihat kerendahan hati Petrus. Dalam Matius 11:28-29, kata rendah hati dalam bahasa aslinya adalah tapeinos, artinya bukan hanya sekedar rendah hati. Diumpakan sebuah  kain, tapeinos artinya kain itu sudah sobek. Arti yang lain adalah orang yang sudah bangkrut.

Yesus memberi contoh tentang kerendahan hati dalam diriNya sendiri, menjadi rendah hati, seperti kain yang sudah sobek dan sudah bangkrut karena mengasihi manusia. Jadi kita di dorong untuk juga memiliki sikap rendah hati.

Setelah Pak Son mensharingkan firman, pertemuan alumni ditutup di dalam doa dan tentu saja tidak boleh dilupakan adalah sesi foto bersama. Demikian laporan dari pertemuan alumni tanggal 7 juni 2020. [Riana]