Temu Alumni Online

Hari minggu 7 juni 2020, telah diadakan temu alumni JOY Jabodetabekar. Informasi pertemuan ini juga disebar di group alumni nasional, sehingga beberapa alumni di luar Jabodetabekar juga bergabung, antara lain dari Korea, Sumba, Kalimantan, Papua, Jogja. Pertemuan tersebut dilakukan dengan melalui aplikasi zoom, diikuti oleh 26 orang dari berbagai angkatan. Pertemuan ini memunculkan ide untuk mengadakan temu alumni akbar JOY melalui aplikasi zoom setelah JOY anniversary, september 2020. Jadi teman-teman alumni bisa menunggu informasi selanjutnya.

Pertemuan dimulai dengan tebak-tebakan ala Cak Lontong yang dipimpin oleh Bernat. Contoh pertanyaan ala Cak Lontong misalnya, pangeran yang ditinggal mati raja, dia akan menjadi apa? Kalo jawaban bukan ala Cak lontong kita mungkin akan menjawab menjadi raja. Tentu karena tebakan ini ala cak lontong maka, jawabannya dia akan menjadi yatim. Ice breaker ini cukup menghibur dan memecahkan suasana. Setelah itu Pak Son membagikan firman yang diambil dari I Petrus 5:5-6 tentang kerendahan hati. Secara khusus menyoroti pribadi Petrus yang telah benar-benar berubah. Petrus yang memberi nasehat untuk bersikap rendah hati, dia sendiri juga menunjukkan sikap yang penuh dengan kerendahan hati.

Ada 2 peristiwa yang menunjukkan kerendahan hati Petrus. Pertama, di KPR 6:1-6. Pada saat itu ada 2 kelompok di kalangan jemaat mula-mula yaitu orang yang berbahasa Ibrani dan orang yang berbahasa Yunani. Hal tersebut menimbulkan masalah, karena orang yang berbahasa Ibrani, kebanyakan adalah orang Yahudi “tok-tok”, artinya sudah lama ikut Yesus, mereka merasa memiliki. Sedangkan kelompok orang yang berbahasa Yunani adalah orang yang baru ikut Yesus dan belum pernah bertemu dengan Yesus secara langsung.  Kalau diumpamakan dengan persekutuan JOY, maka 2 kelompok yang ada seperti kelompok orang yang sudah lama ikut JOY dan mengenal ketika Pak Son pelayanan di Indonesia dan kelompok baru yang tidak mengalami pelayanan Pak Son ketika di Indonesia.

Orang-orang yang berbahasa Yunani ini protes tentang pelayanan meja. Jika Petrus belum berubah, bisa saja Petrus marah atas protes tersebut. Pelayanan meja salah satunya untuk pelayanan penukaran uang. Semuanya dilayani oleh orang yang berbahasa Ibrani. Sekarang Petrus memberikan kesempatan kepada orang-orang yang berbahasa Yunani, dengan kata lain generasi yang lebih muda untuk melayani pelayanan meja.

Kedua, ketika jemaat makin berkembang, orang non Yahudi makin banyak yang menjadi pengikut Kristus. Banyak orang yang berbahasa Ibrani dan juga orang Farisi terus menuntut orang non Yahudi untuk disunat. Dalam KPR 15, dicatat bahwa para rasul bertemu untuk membahas hal tersebut. Di dalam pertemuan tersebut Petrus berdiri dan mengatakan bahwa hukum taurat yang merupakan kebanggaan orang Yahudi seperti sebuah kuk. Petrus kemudian mengatakan bahwa untuk mengikut Yesus, orang non Yahudi tidak perlu di sunat. Percaya kepada Kristus sudahlah cukup.

Dari kedua peristiwa tersebut, dapat dilihat kerendahan hati Petrus. Dalam Matius 11:28-29, kata rendah hati dalam bahasa aslinya adalah tapeinos, artinya bukan hanya sekedar rendah hati. Diumpakan sebuah  kain, tapeinos artinya kain itu sudah sobek. Arti yang lain adalah orang yang sudah bangkrut.

Yesus memberi contoh tentang kerendahan hati dalam diriNya sendiri, menjadi rendah hati, seperti kain yang sudah sobek dan sudah bangkrut karena mengasihi manusia. Jadi kita di dorong untuk juga memiliki sikap rendah hati.

Setelah Pak Son mensharingkan firman, pertemuan alumni ditutup di dalam doa dan tentu saja tidak boleh dilupakan adalah sesi foto bersama. Demikian laporan dari pertemuan alumni tanggal 7 juni 2020. [Riana]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *