Menghadapi Perasaan

Awal pandemi muncul dan ketika di awal keputusan wfh 14 hari terasa berat buatku secara pribadi. Secara pribadi aku baru kurang lebih 1 bulan kembali ke JOY setelah aku pulang karena kakakku meninggal.

Aku berpikir kesibukanku di JOY akan membantuku mengatasi dukaku, tetapi Tuhan benar-benar melarangku melarikan diri dari perasaan dukaku.

Kegiatan JOY yang dioff kan menjadi wfh, membuatku mau tidak mau berhadapan dengan perasaan dukaku. Rencanaku untuk ke Malang dan konseling dengan dosen yang menjadi konselorku waktu aku kuliah dan aku sudah buat janji untuk bertemu juga batal. Semua rencanaku untuk lari dan mengatasi dukaku, semua gagal karena corona.

Sekarang aku jika menoleh ke belakang aku mensyukurinya karena Allah tidak mengijinkanku lari dan walaupun aku tahu sangat baik jika aku dapat di tolong oleh konselor untuk mengatasi dukaku, aku bersyukur karena masa wfh ini membuatku mengingat lagi untuk bersandar pada konselor agungku yaitu Bapa.

Aku masih berada dan berjuang dengan perasaan dukaku tapi aku percaya Tuhan ada bersamaku menjalani dukaku ini.

Banyak hal yang berubah selama wfh, secara pribadi juga aku memakai kesempatan ini untuk mengerjakan tesisku (aku mengambil program penyetaraan gelar MK menjadi MTh in counseling). Satu hal positif dari wfh adalah waktu yang banyak untuk mengerjakan tesis. Itu sungguh hal yang aku syukuri karena corona, sebelum corona aku bergumul bagaimana dapat membagi waktu antara pelayanan dan tesis. Sungguh karena corono aku bisa punya waktu untuk mengerjakan tesis.

Cell Group diadakan secara online, menggunan media zoom, wa, google meet atau hangout sesuai dengan kesepakatan CG. Bahan cell group online tentu tidak sama dengan cell group offline, untuk itu perlu membuat bahan-bahan cg yang baru yang sesuai dengan kondisi cg online. Aku mengambil kesempatan untuk membuat bahan-bahan cg online. Hal yang unik adalah tesisku berhubungan dengan kecemasan dan aku rasa hal ini sangat cocok dengan kondisi saat corona ini, di mana ada kemungkinan kecemasan ada mendatangi kita semua.

Hal itu terbukti ketika aku mendengar sharing di cell group, beberapa teman memang mengalami kecemasan berkaitan karena corona. Sebagian besar bahan CG yang aku buat diambil dan diinspirasi dari tesisku.  

Aku bersyukur jika apa yang aku buat atas pertolongan Allah bisa menjadi penolong untuk teman-teman di masa pandemi ini. Bahan cg online ini juga aku bagikan kepada beberapa alumni yang menghubungiku. Aku bersyukur untuk hal itu, aku bersyukur bahan cg online bisa memberkati. Aku merasa Allah sungguh tahu apa yang kita butuhkan saat ini.

Salah satu hal yang hilang di masa pandemi adalah kesempatan konseling secara tatap muka. Jadwal konseling tatap muka semua dibatalkan. Tetapi aku terus terheran dengan cara Allah bekerja, di masa pandemi ini justru Allah membukakan kesempatan untuk melakukan konseling secara online. Walau tidak rutin dan tidak bisa bertatap muka dan aku sendiri merasa ada yang kurang, tapi aku bersyukur Allah percayakan beberapa kali untuk melakukan konseling online.

Mulai minggu ini aku mencoba untuk melakukan konseling secara tatap muka. Belum setiap hari aku ke kantor, hanya pas hari konseling dan aku kumpulkan di hari yang sama, sehingga aku tidak perlu bolak-balik ke kantor.

Demikian kesaksianku berkaitan dengan pelayananku selama masa pandemi ini. Tuhan memberkati kita semua (Riana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *