Mendengarkan Secara Aktif/Active Listening (A Training Resume)

ditulis oleh Oya Citra

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang mendengarkan secara aktif. melanjutkan materi sebelumnya Etika Konseling dan Tujuan Konseling.

Kunci dalam mendengarkan secara aktif adalah konselor tidak hanya mendapatkan informasi, melainkan mendorong konseli untuk tetap atau terus berbicara.

Hal-hal yang harus kita dengarkan adalah :

Mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi dibalik kata-kata.

  1. Dengarkan perasaan konseli
    a. Mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi dibalik kata-kata. Alasan mengapa konselor mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi karena konselor menunjukkan bahwa ia mengerti perasaan konseli
    b. Memantulkan perasaan-perasaan yang konselor dengar itu kepada konseli.
    c. Mencerminkan sikap yang menerima (menerima tidak berarti menyetujui). Misal: “saya mengerti perasaan itu kalau pernah dalam posisi itu

Catatan; kalau memang belum pernah ada di posisi tersebut: jangan mengatakan “aku mengerti perasaanmu” konselor tidak pernah paham dan sungguh dapat mengerti perasaan tersebut. Kata-kata ini sangat sensitif buat konseli

2. Dengarkan isi cerita atau buah pikiran konseli.

3. Mencapai kesamaan persepsi atau makna dengan cara mengecek kembali dengan konseli apa yang telah dikatakannya. Misalnya: “jadi yang kamu maksudkan adalah…?”

  1. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
  2. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
  3. Memperhatikan intonasi suara
  1. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
  2. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
  3. Memperhatikan intonasi suara
  4. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
    a. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
    b. Memperhatikan intonasi suara
    c. Memperhatikan pergerakan emosi. Contohnya dia mengatakan begini “Saya tidak sedih kok”. Padahal saat itu matanya sedang berkaca-kaca seperti ingin menangis.
  5. Tindakan memotong pembicaraan
    Tindakan ini boleh dilakukan oleh konselor dengan catatan : hal ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan atau dengan semena-mena. Kasus ini memang jarang terjadi. Namun untuk menangani kasus ini, dibutuhkan skill dan juga latihan.
  6. Jangan mencari jawaban ketika konseli bercerita.
  7. Perhatian dan jangan melamun. Jaga pikiran kita dari pikiran yang mengembara dan fokus pada konseli.
  8. Bereaksi secara tepat, misalnya dengan anggukan, senyum, komentar,dan dukungan.

Ingat bahwa: komunikasi terdiri 35% perkataan yang diungkapkan dan 65% yang tidak diucapkan (john Back)

  • Mendengarkan isi atau buah pikiran  konseli.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang isi/parafrase (bisa ada perasaan juga di dalamnya).

Contoh :

  • Konseli : Orang tuaku selalu tidak pernah puas dengan apa yang aku capai, semuanya selalu salah di depan mereka, berbeda kalau dengan kakakku, dia selalu dipuji.

Konselor : Kamu sedih ya, karena orang tuamu memperlakukan mu berbeda dengan kakak mu.

  • Konseli : Nilai saya selalu jelek, saya tidak cocok dengan jurusan saya, setiap kali baca jurnal bawaannya gantuk terus.

Konselor : Jadi kamu tidak suka dengan jurusan mu ?

Bahasa non Verbal

Di dalam komunikasi, pemahaman terhadap bahasa non-verbal akan mendukung lancarnya komunikasi. Hampir tidak ada manusia di dunia yang berkomunikasi tanpa menggunakan dukungan bahasa non-verbal. Bila bahasa menjadikan hambatan, maka komunikasi dengan bahasa non-verbal justru menjembatani adanya hambatan bahasa tersebut.

Misalnya: saya mencintaimu, tetapi ada senyum sinis di bibirnya

                     Saya tidak sedihà tetapi matanya berkata-kata

Aspek-aspek bahasa non-verbal

  1. Cara berbicara

♣ Artikulasi

♣ Ritme berbicara

♣ Aksen/nada suara (penekanan pada suku kata tertentu)

2. Nada suara

nada suara mewakili 35-40% pesan. Nada suara meliputi volume, tingkat dan bentuk emosi dapat muncul melalui kata-kata yang dipilih.
Dampak nada suara pada kalimat yang sama, memiliki makna yang berbeda atau ganda tergantung pada kata yang ditekankan.

Hal-hal yang dapat menghalangi komunikansi dalam konseling :

  1. Memerintah: “kamu harus…..”, “kamu akan…”
  2. Peringatan, ancaman: “jika kamu tidak melakukannya maka…
  3. Memoralkan, berkotbah: “kamu harus….”, “ kamu bertanggung jawab untuk…
  4. Menasehati, memberi solusi: “ apa yang saya lakukan adalah…., “kenapa kamu tidak melakukan…..”
  5. Menghakimi, mengkritik, menyalahkan: “kamu tidak dewasa…”, “kamu malas…”
  6. Nama panggilan-ejekan: “ cry-baby..”, “baiklah,Mr smart…”
  7. Menentramkan hati, simpati: “jangan kuatir..”, “tersenyumlah..”
  8. Menggunakan terlalu banyak penyelidikan atau pertanyaan: “mengapa…”, “siapa…”,  apa yang kamu lakukan…”
  9. Sindiran yang tajam/sarkatis, withdrawal: “mari bicara hal-hal yang menyenangkan..”, “mengapa kamu tidak coba untuk menaklukkan dunia..”

Tujuan konseling (A Training Resume)

ditulis oleh Prestiwani N

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang tujuan konseling. Melanjutkan materi sebelumnya tentang Etika Konselor dan Mekanisme Pertahanan diri.

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dalam pelaksanaan konseling, antara lain:

  • Membantu konseli untuk menemukan dan melihat permasalahannya secara objektif dan menyeluruh.

Kebanyakan konseli yang datang untuk konseling merasa bahwa permasalahannya lebih berat dari yang seharusnya.

Kadang konseli juga merasa bahwa orang lain selalu menjadi sumber permasalahannya.

  • Membantu konseli untuk menemukan jalan keluar / mengembangkan insight untuk masalahnya sendiri.
  • Mendorong konseli untuk bertumbuh mandiri.
  • Melihat sumber kekuatan konseli dan  menemukan support system.
  • Menurunkan tekanan yang tidak perlu
  • Memberikan pilihan-pilihan realistik
  • Memperbaiki hubungan interpersonal

Seorang konselor bukanlah problem-solver untuk konseli

Seorang konselor bukanlah problem-solver untuk konseli. Lewat proses konseling, konselor memandu konseli untuk menemukan jawaban dan mengambil keputusan bagi permasalahan konseli sendiri.

Panduan dasar konseling

Ada beberapa langkah sebagai panduan dasar dalam melakukan konseling. Langkah-langkah ini harus dilakukan secara berurutan, tidak boleh dilangkahi atau dilakukan secara acak.

  1. Mempersilahkan konseli menceritakan apapun yang ingin dia kemukakan/sharingkan.

Ini merupakan kesempatan konselor untuk mengumpulkan data dan kesempatan konseli untuk mengeluarkan unek-unek (perasaan yang dirasakan seperti kekecewaan, sakit hati dan perasaan lainnya yang dipendam).

  • Membantu konseli mengeluarkan dan menyadari emosi (perasaan) yang ada, yang belum muncul di langkah pertama (1). Dalam istilah psikologi, tahap ini dinamakan katarsis.

Proses tidak bisa maju ke langkah ke 3, jika emosi konseli belum keluar semua.

Di tahap ini konselor perlu memperhatikan adanya unsur budaya dalam hal pengungkapan perasaan, contohnya: jika yang diceritakan berkaitan dengan orang tua atau yang sudah meninggal (terutama di budaya Asia, menceritakan kesalahan atau keburukan orang yang lebih tua atau orang yang sudah meninggal dianggap perilaku tidak sopan), atau menceritakan orang yang sudah berubah menjadi baik (merasa tidak enak karena seperti menjelek-jelekkan orang tersubut).

Cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan emosi, antara lain:

  • Menulis dan membaca surat
  • Teknik kursi kosong
  • Psycho-imagery, sebuah latihan mental yang mengoptimalkan pada proses membayangkan yang menggunakan seluruh panca indera.
  • Di Langkah ini ada dua cabang (langkah ini dipilih salah satu sesuai dengan keadaan konseli):
  • Jika berkaitan dengan masalah yang membutuhkan problem-solving: yang dilakukan adalah cognitive therapy.

Untuk kasus tertentu (seperti depresi), kognitif terapi perlu didahulukan sebelum mengeluarkan emosi.

  • Jika berkaitan dengan masalah dengan orang lain (luka batin): yang dilakukan adalah menolong konseli berdiri di “kakinya” atau berdiri di sisi yang lain. Contoh: seseorang yang memiliki luka batin karena seringkali dikritik oleh ibunya, melihat bahwa ibunya dulu mengalami kekerasan verbal dari orang lain.

Langkah ini bisa dilakukan dengan cara: membuat Genogram (pohon keluarga) dan wawancara

  • Melepaskan pengampunan. Konselor mendorong konseli berdoa dan mengucapkan “saya mengampuni…”
  • Memperbaiki perilaku dampak dari luka batin (bisa bersamaan dengan tahap 4).

Contoh: karena sering dikritik, seseorang punya kecenderungan untuk mengritik. Luka batin, seperti layaknya luka fisik, seringkali meninggalkan bekas. Bekas luka ini menjadi perjuangan seumur hidup seseorang. Dengan konseling, kita seperti membantu memasang peredam atau penyaring sehingga dampaknya dapat kita kurangi.

Counseling Ethics(A Training Resume)

oleh Diljerti Panggalo

Hari ini pelatihan staff masih seputar peer konseling. Kali ini yang dibahas terkait etika konseling dan segala yang berkaitan dengan konselor.

Sebagai seorang konselor sudah seharusnya mengenal diri sebelum mengkonseling klien. Hal ini berkaitan dengan keefektifan konseling yang akan dilakukan.


Apa saja yang harus dikenali dalam diri sebelum menjadi konselor :

  1. Mengenali hal sensitif (perasaan-perasaann yang membuat tidak nyaman), kemungkinan berkaitan dengan masa lalu, luka.
  2. Kebutuhan-kebutuhan kita yang merupakan titik rawan kita. Misal: kebutuhan diterima, kebutuhan akan kasih
  3. Apakah saya mau mendengarkan? Bagaimana saya menerima orang yang bercerita? Empati saya bagaimana
  4. Apakah ada topik-topik tertentu yang membuat saya tidak nyaman? Mengapa?
  5. Kapasitas diri dalam mendengarkan (contoh: 1 hari tidak lebih dari orang yang dikonseling)
  6. Waspadalah dengan transferensi dan countertransferensi
    Transferensi: pengalihan perasaan yang tanpa di sadari dari konseli kepada konselor
    Countertranferensi: pengalihan perasaan yang tanpa di sadari dari konselor kepada konseli
    Kalau saya tidak mengenal diri saya, bagaimana saya dapat menolong orang lain? Kalau saya tidak terbuka dengan diri saya, bagaimana saya dapat menolong orang lain lebih efektif?.

Attending
Attending adalah cara-cara konselor dapat “bersama” dengan konseli, baik secara fisik dan psikologi. Attending juga berarti konselor menjadi perhatian dengan apa yang konseli katakan dan lakukan.

Effective attending, mengatakan kepada konseli bahwa konselor ada bersama dengan mereka dan mereka dapat membagi ceritanya kepada konselor.

Bagaimana Cara Untuk Attand
A. Bahasa Tubuh Konselor

  1. Kontak mata dengan konseli.
  2. Posisi duduk (Agak condong ke arah konseli, posisi di depan konseli)
  3. Bahasa tubuh yang penuh perhatian
    • Sikap yang mendukung, menunjukkan ekpresi ketertarikan pada wajah dan hindari kegelisahan, tenang
    • Duduk dengan lengan yang terbuka, hindari tangan di silangkan di depan dada
  4. Kualitas vokal (Gunakan intonasi yang tepat dan berbicara yang jelas)
  5. Vokal tracking
    • Menjaga topik diajukan oleh konseli
    • Memberikan “encourage” lewat gestrure lewat anggukan atau kata-kata atau seperti kata eem
    B. Mendengarkan:
    Mendengarkan adalah sebuah pelayanan. Dengan mendengarkan, akan menolong kita membina relasi yang lebih kuat dengan orang lain. Orang cenderung mencari seseorang yang mendengarkan karena mendengarkan itu menunjukkan kasih.
    Belajar Listening bukan hearing (sambil lalu). listen with your heart, listen with your mind. When you really listen, love is what you find.
    Saat mendengarkan terkadang ada saja halangan yang dialami oleh seorang konselor. Diantaranya:
    • Gangguan internal
    Misal:sakit, masalah pribadi, banyak pekerjaanbelajar meletakkan masalah kepada Tuhan sebelum konseling seperti jaket dilepaskan
    • Gangguan eksternal
    Misal, banyak orang lalu lalang.
    • Gangguan secara subyektif
    tidak suka dengan orangnya,tidak suka sama topiknya (yang dibicarakan klien), topik berulang jadinya konselor membenarkan diri (defensivenness)
    • Waktu ceritanya gak tepat. Misal konselor ada kegiatan yang lain
    Dampak setelah mendengarkan cerita orang lain :
    • Merasa bertanggung jawab atas masalah orang lain (mesias sindrom, perasaan berharga karena dibutuhkan oleh orang lain)
    • Hati-hati dengan Vicorius Trauma (efek trauma klien yang berdampak pada kehidupan konselor)
    • Klien yang bergantung pada konselor. Perlu mengecek apakah yang salah dalam proses mendampingi klien: apakah konselor berperan sebagai problem solving, apakah tanpa sadar membuat klien bergantung pada konselor.
    • Dampak pada fisik yang kadang dialami konselor : pusing, mual, sakit kepala, lemas, lelah fisik dan pikiran
    • Mempengaruhi relasi konselor dengan orang yang diceritakan orang yang diceritakan klien.
    • Pandangan konselor terhadap klien bisa berubah. Misal menjadi tidak suka dengan klien karena nilai-nilai konselor yang berbeda dengan klien.
    Etika Konseling
  6. Kerahasian untuk semua informasi pribadi
    Hasil konseling dirahasiakan karena dalam cerita klien berkaitan dengan orang lain. Jika ingin memberitahukan hasil konseling kepada pihak lain, harus dengan persetujuan si klien. Misal klien remaja, orang tua harus tahu maka sebelumnya diinfokan kepada klien bahwa akan memberitahu hasil konseling kepada orang tua jika klien berada dibawah umur.
    ada kasus yang diperbolehkan untuk pihak lain mengetahui hasil koseling seperti hal yang sudah menyangkut nyawa, abuse, kesehatan mental
  7. Kerahasian untuk semua informasi yang tertulis
  8. Penggunaan kasus-kasus untuk ilustrasi harus meminta ijin terlebih dahulu dan merahasiakan identitas klien
  9. Jangan membicarakan konselor yang lain (jika klien sudah pernah konseling sebelumnya).
  10. Sebagai konselor tidak membicarakan orang yang sedang dan pernah ia konseling kepada orang lain (juga kepada klien yang lain) tidak boleh juga menjadi pokok doa
  11. Konselor tidak memberi sentuhan yang tidak perlu kepada konseli (terutama kepada yang lawan jenis) karena klien bisa memproyeksikan perasaan pada konselor (transfer perasaan).
  12. Lakukan konseling di tempat yang tepat (mis jangan di tempat tertutup, di kamar hotel, di mobil)
  13. Seorang konselor harus mengenal keterbatasannya.
    • Bukan berarti menyerah di awal. Melakukan dulu, kalau sampai tidak bisa, dapat bilang: “gimana kalau kamu bicara dengan….” Karena saya merasa tidak mampu
    • Agak sulit mengkonseling orang-orang yang terlibat secara emosi misal suami, istri, ortu,dll (relasi ganda)
  14. Informed consent
    • berkaitan dengan kerahasiaan dan informasi terkait rangkaian konseling yang akan dilakukan, di informasikan di pertemuan awal sebelum konseling dimulai.

Defense Mechanism (A Training Resume)

oleh Gloria P. M.

Hari ini pertemuan Ke-2 Staff JOY Fellowship akan pelatihan Peer Counseling, dimana pada pertemuan pertama senin yang lalu membahas mengenai “Bagaimana Mengenal Perasaan” maka di pertemuan kali ini, Kak Riana sebagai pengajar menyampaikan materi “ Defense Mechanism” yang diartikan dalam Bahasa Indonesia yaitu “Mekanisme Pertahanan Diri”. Didalam dunia konseling, Defense Mechanism sangat sering dijumpai oleh para konselor ketika menangani kliennya.

Defence Mechanism adalah sebuah proses yang tidak disadari untuk melindungi diri sendiri sebagai upaya untuk mengatasi kecemasan.

Seorang konselor harus bisa membedakan jenis-jenis pertahana diri yang diungkapkan oleh klien dan bagaimana cara untuk menaggapinya.

Ada beberapa jenis mekanisme pertahanan diri yaitu:

1. Denial/penolakan/pengingkaran
Denial adalah penolakan untuk menerima kenyataan atau fakta, bertindak seolah-olah peristiwa menyakitkan, pikiran atau perasaan tidak ada.

Penyangkalan kenyataan juga mengandung unsur penipuan diri.

Contohnya: ah, merokok itu tidak terlalu berbahaya. Ayahku tidak menyakitiku, perlakuannya tidak menyakitkan sama sekali.

2. Rasionalisasi
Rasionalisasi dengan mengajukan alasan yang baik untuk menggantikan alasan yang sesungguhnya.

Contoh:
• kenalanmu mengadakan pesta tetapi ia tidak mengundangmu. Kamu merasa dianggap sepi dan disingkirkan, tetapi untuk menyembunyikan perasaan yang terluka dan membuat lebih mudah menangani perasaan itu, kamu berkata pada diri sendiri, “untunglah, bagaimanapun juga saya sungguh-sungguh tidak berminat hadir dalam pesta mereka. Mereka selalu saja membosankan. Atau alasan: ah, sepertinya dia lupa memberikan undangan kepada saya
• Seorang gadis (kate) hamil dan mengatakan hal itu terhadap pacarnya. Setelah mengatakan hal itu pada pacarnya, cowoknya itu menghilang. Kate mengatakan di dalam hatinya bahwa: “ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Saya tahu ia akan menghubungi saya jika ada waktu. Kejadian ini pasti mengejutkan dia. Ia adalah pria yang hebat.”Sangat mengerikan jika Kate harus mengakui bahwa pacarnya mungkin saja melarikan diri, ketakutan dan menghilang untuk selamanya. Demikian juga ia harus mengakui bahwa pacarnya bukan pria yang hebat. Kate membuat perisai bagi dirinya sendiri untuk melawan kenyataan yang menyakitkan.

Ia melakukan hal itu dengan mengajukan alasan yang baik untuk menggantikan alasan yang sebenarnya.

3. Intelektualisasi
mengarahkan segala sesuatu pada konsep-konsep pemikiran. Menekan perasaan dengan cara analitik, intelektual dan sedikit menjauh dari persoalan. Dengan kata lain, bila individu menghadapi situasi yang menjadi masalah, maka situasi itu akan dipelajarinya atau merasa ingin tahu apa tujuan sebenarnya supaya tidak terlalu terlibat dengan persoalan tersebut secara emosional. Contoh: seorang yang didiagnosa sakit kanker, dia langsung mengalihkan dengan mencari tahu langkah-langkah pengobatan

4. Regresi

Keadaan dimana seseorang kembali ke tingkat yang lebih awal (lebih muda dari usianya) dan kurang matang. Banyak dari antara kita akan mengalami saat-saat ketika berbagai hal tidak beres dan kita membiarkan diri kita menjadi pemarah dan merasa jemu. Kita mengharapkan orang memaklumi keadaan kita yang sulit. Bahkan kita mungkin melarikan diri dalam tidur tak berkesudahan, menyelimuti diri kita, meringkukkan badan seperti seorang bayi dan berusaha untuk kembali ke rahim.

Contoh: seorang remaja yang dilanda ketakutan, kemarahan menjadi lengket dan mulai menunjukkan perilaku masa kanak-kanak awal ia sudah lama diatasi, seperti mengompol. Orang dewasa mungkin mundur ketika berada di bawah banyak stres, menolak untuk meninggalkan tempat tidur mereka dan terlibat dalam normal, kegiatan sehari-hari.

5. Proyeksi
Kita semua cenderung tak mengakui beberapa kekurangan kita dan ‘melemparkannya’ pada orang-orang lain. Kita mencoba mencuci diri dari kekurangan kita dengan menempelkannya pada orang lain.melemparkan atau memproyeksikan kesalahan kita kepada orang lain dan kemudian memarahi orang lain atas kesalahan yang kita perbuat.
Contoh:
• seorang yang selalu gagal dalam kuliah, menyalahkan dosen atas kegagalannyaProyeksi seperti ini membantu mengurangi perasaan bersalah karena tidak belajar sungguh-sungguh untuk studinya
• Proyeksi juga berlaku untuk perasaan-perasaan yang baik. Ketika kita malu mengakui prestasi-prestasi kita, kita siap untuk berkata bahwa semua keberhasilan itu adalah berkat orang lain.

6. Displacement/pengalihan
Membelokkan perasaan-perasaan kita ke suatu sasaran yang berbeda. Dapat juga Pemindahan sasaran seperti kita ‘mencari kambing hitam’. Arti kedua dari pengalihan ialah cara menyembunyikan kenyataan yang tak menyenangkan tetapi tidak dapat diakui (dan karenanya dipendam)dengan jalan menonjolkan sesuatu hal lain yang tak begitu mengganggu egonya.
Contoh:
• di kantor dimarahi oleh pemimpin, karena tidak bisa membalas kepada pemimpinnya, ketika di rumah ia mengalihkannya ke anaknya.
• Misalnya saya cemburu kepada saudara, tetapi saya tidak mungkin mengakui. Maka saya memperlihatkan hal kecil-kecil seperti misal saudaranya kurang perhatian padanya.
• Anak laki-laki yang ibunya diktaktor terhadap ayahnya, kelak akan memperlakukan istri sebagai bawahannya. Akan tetapi ia tidak dapat mengakui rasa bencinya terhadap ibu. Maka ia mengalihkannya pada istrinya.

7. Kompensasi
Kompensasi adalah usaha menyeimbangkan berbagai hal dalam kehidupan membuat melejit naik dalam satu bidang untuk menutup kelemahan dalam bidang lainnya.
Contoh:
• Seorang anak yang merasa seringkali tidak dianggap penting oleh orang tuanya, belajar giat, meraih prestasi tinggi untuk menunjukkan bahwa ia bisa dan penting
• Sepasang suami istri, sudah lama menikah dan belum dikaruniai anak. Mereka sudah berkunjung ke beberapa dokter dan menjalani pengobatan, tetapi masih belum juga dikarunia anak. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengangkat anak. Mereka berusaha keras untuk memberikan yang terbaik untuk anak itu

8. Represi
Represi adalah Perasaan-perasaan di yang tekan ke alam bawah sadar. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang sebagai bukti akan adanya represi. Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak terlalu menekan.

9. Reaksi formasi:
Reaksi fomasi adalah proses membentuk tingkah laku, perasaan berlawanan dengan apa yang ia rasakan
Contoh: rina tidak suka dengan anaknya, ia justu memperlakukan baik anaknya

10. Fantasi
Fantasi atau disebut juga menghayal membantu menghilangkan perasaan yang tidak menyenangkan dengan membayangkan hal-hal yang menyenangkan.
Contoh: tidak punya kerja, membayangkan menjadi orang kaya

11. Sublimasi
Sublimasi merupaka proses mengalihkan keinginan yang tidak diterima disalurkan menjadi sesuatu yang diterima dan memiliki nilai sosial.
Contoh: orang tua yang anaknya meninggal ditabrak pemabuk, ia melayani support group untuk ortu yang anaknya meninggal karena pemabuk

12. Merohanikan (tambahan)
Mengalihakan segala sesuatu yang terjadi atasnya dengan dasar rohani.
Hampir semua orang yang menjalani konseling ataupun mengalami suatu kejadian yang traumatis atau menyakitkan, secara otomatis mengeluarkan reaksi “Defense Mechanism” atau Mekanisme pertahanan diri sebagai perisai mereka untuk menenangkan diri ataupun bertahan hidup.

Perlu dimengerti bahwa “Defence Mechanism” tidak selalu bernilai negatif.

Terkadang dalam konseling, ada kalanya membiarkan seseorang memakai perisai itu.

Misal seorang ibu yang punya anak kecil-kecil, suaminya meninggal mendadak. Ia merasionalisasikan semuanya untuk menenangkan diri dan memberikan kekuatan bagi dirinya sendiri. Maka kita harus membiarkan dia memakai perisai itu. Sampai waktunya tepat, kita mulai membuka sedikit demi sedikit melepas perisai itu.

Tanpa mengetahui macam-macam mekanisme pertahanan diri ini, proses konseling akan menjadi lamban dan tidak bisa berpindah ke tahap yang lebih dalam.

Kita tidak dapat mengenal karakter dari partner konseling kita, apakah mereka adalah orang yang terbuka atau orang yang menutup diri.

Ketika kita sudah dapat membedakan berbagai macam mekanisme pertahanan diri, maka kita pun dapat menentukan langkah bijak apa yang harus kita ambil untuk menanggapi klien dan melanjutkan proses konseling ke level yang lebih dalam dan intim lagi.

Para staff JOY Fellowship pun sangat perlu dibekali ilmu untuk mengenal dan dapat membedakan berbagai mekanisme pertahanan diri ini. Dimana kedepan diharapkan para staff JOY Fellowship dapat bisa mendampingi mahasiswa-mahasiwa yang membutuhkan bimbingan konseling di masing-masing cellgroup.

Peer Counseling (a Training Resume)

oleh Ria Alfrida Tonapa

Peer Counseling atau Konseling Sebaya merupakan salah satu bentuk pelayanan yang digunakan JOY Fellowship untuk membantu dan mendampingi mahasiswa(i) dalam memahami diri sendiri dengan lebih tepat terhadap kemampuan memecahkan berbagai masalah dalam diri baik secara personal maupun dalam kelompok.

Selama beberapa minggu ke depan, para Staf JOY dibekali/diperlengkapi melalui pelatihan Peer Counseling yang dimentori oleh Kak Riana setiap dua kali dalam  satu minggu.

Hari Senin, 10 Agustus 2020 merupakan hari pertama Staf JOY Fellowship mengikuti pelatihan Peer Counseling. Dalam pertemuan perdana ini, secara garis besar berisikan materi tentang perasaan.  

Jelas salah satu modal menjadi peer counselor adalah mengenal perasaan karena dalam proses konseling/curhat pastilah melibatkan perasaan.

Peer Counselor memiliki peran yang cukup besar untuk membantu konseli (orang dikonselingi) mengeluarkan perasaannya. Pada dasarnya, perasaan yang terpendam seperti teori gas, bila cukup banyak terkumpul mereka menjadi kuat dan akan meledak jika sudah tidak dapat tertampung. Pelatihan ini mengajarkan para staff dalam memahami bagaimana dan apa saja yang perlu kita lakukan ketika mendampingi teman-teman mahasiswa ketika mereka sharing, curhat atau mengeluarkan perasaannya. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konseling antara lain : permasalahan luka batin yang perlu disadari dan dikenali oleh konseli melalui perasaan-perasaan yang mucul pada kondisi yang berkaitan dengan titik sensitif yang belum diketahui dan melihat dibalik alasan sulit mengeluarkan perasaannya.

Dalam materi pendampingan Peer Counseling ada beberapa hal yang menjadi hambatan diantaranya adalah tidak mengenal perasaan dan berusaha menyembunyikan perasaan. Kedua faktor penghambat ini bisa jadi dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, budaya, kepribadian, trauma, jenis kelamin dsbnya. Sebagai contoh, ketika seorang konseli adalah seorang pemimpin, bisa jadi hambatannya mengutarakan perasaan bukan karena tidak mengenali perasaannya namun karena berusaha menyembunyikannya dengan alasan tidak mau menunjukkan kelemahannya kepada bawahannya.

Karena itu, adalah wajib bagi seorang Konselor untuk mengenali dan menggali lebih dalam latar belakang para konseli sehingga bisa membantunya mengeluarkan perasaannya. Beberapa metode yang telah dipakai dalam pendampingan atau konseling di JOY adalah menulis surat, kursi kosong maupun katarsis dengan mengeluarkan emosi melalui media-media tertentu atau berteriak di suatu tempat.

Baru pertemuan pertama, namun banyak hal telah diajarkan terkait perasaan. Ruang lingkupnya adalah memahami emosi baik dan dampak negatif dari emosi atau perasaan-perasaan yang terpendam. Dampak negatifnya tidak hanya dirasakan oleh konseli saja tetapi juga akan mempengaruhi hubungan mereka dengan orang lain. Sebaliknya konseli akan merasakan manfaat ketika mereka mampu mengenali perasaannya dan juga mampu mengeluarkan emosi atau perasaan-perasaan yang terpendam saat proses konseling berlangsung. Selain itu, konseli bisa berkembang baik dalam hal pengetahuan, mencintai, petualang, berkreasi, memberi dan menerima.

Emosi-emosi yang disadari dapat menerangi isi hati kita dan membukakan hal-hal yang tak terduga sama sekali. Mengenal diri serupa inilah permulaan menjadi dewasa.

Setelah tahu apa yang kita butuhkan, apa yang harus kita ubah, maka kita akan menjadi manusia yang utuh. Perasaan-perasaan kita adalah sesuatu yang bernilai dan menjadi bagian penting dari kemanusiaan kita yang utuh.

Jika diperlakukan secara hormat dan diperlihara secara tepat, perasaan-perasaan itu dapat menjadi dasar yang kokoh untuk bertumbuh secara dewasa.

Pelatihan ini sangat menarik buat saya karena saya bisa belajar menjadi seorang pendengar yang baik khususnya dalam pelayanan saya ketika mendampingi teman-teman mahasiswa(i) tentunya. Tidak sedikit dari mereka yang mau sharing ataupun curhat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pergumulan pribadi mereka kepada saya. Melalui pelatihan ini saya juga bisa menerapkan itu kepada mereka yang saya layani meskipun belum sebagai konselor profesional namun langkah-langkah profesional bisa saya terapkan guna menolong JOYer mengeluarkan emosi dan mengelolanya dengan baik.

Menjadi seorang konselor membutuhkan ketulusan hati mendengarkan bukan sekedar mendengar. Bayangkan, berjam-jam mendengar seseorang bercerita (seringkali tanpa arah dan alur) tentunya bisa terasa membosankan atau menjemukan.

Awalnya, saya sempat berfikir mengapa saya perlu tahu detail cerita mereka? Apakah saya sanggup untuk mendengar seluruh keluh kesah mereka? pelatihan ini mengingatkan saya proses konseling yang saya alami sendiri. Menolong karena sudah lebih dulu ditolong dalam hal mengungkapkan perasaan.

Sebelum saya mengikuti konseling, sayapun pernah merasakan bagaimana ketika emosi itu terpendam lama dalam diri saya, dan memang benar, emosi tersebut menjadi seperti bom yang meledak-ledak ketika semakin menumpuk.

Akhirnya setelah mengikuti konseling sayapun sangat terbantu, dan saya bisa merasakan manfaatnya dimana saya bisa lebih mengenali diri sendiri dan juga mengetahui/ menemukan pola-pola reaksi saya ketika berada dalam situasi yang memicu saya untuk meluapkan emosi-emosi saya sehingga pola-pola yang menjadi toxic bisa saya ubah. Manfaat lain yang saya rasakan adalah berkaitan dengan cara saya berelasi dengan orang lain tentunya lebih sehat dibandingkan sebelum saya mengikuti konseling dimana emosi saya bisa terkontrol dan lebih stabil.

Kini saya semakin menyadari bahwa setiap orang perlu dibantu untuk mengeluarkan emosinya. Terlihat sepele namun dampaknya sangat besar dalam kehidupan.

Saya secara pribadi sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan peer konseling ini karena semakin memperlengkapi saya secara pribadi dan tentunya saya juga punya bekal untuk melayani orang-orang yang Tuhan percayakan untuk saya layani. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.