Peer Counseling (a Training Resume)

oleh Ria Alfrida Tonapa

Peer Counseling atau Konseling Sebaya merupakan salah satu bentuk pelayanan yang digunakan JOY Fellowship untuk membantu dan mendampingi mahasiswa(i) dalam memahami diri sendiri dengan lebih tepat terhadap kemampuan memecahkan berbagai masalah dalam diri baik secara personal maupun dalam kelompok.

Selama beberapa minggu ke depan, para Staf JOY dibekali/diperlengkapi melalui pelatihan Peer Counseling yang dimentori oleh Kak Riana setiap dua kali dalam  satu minggu.

Hari Senin, 10 Agustus 2020 merupakan hari pertama Staf JOY Fellowship mengikuti pelatihan Peer Counseling. Dalam pertemuan perdana ini, secara garis besar berisikan materi tentang perasaan.  

Jelas salah satu modal menjadi peer counselor adalah mengenal perasaan karena dalam proses konseling/curhat pastilah melibatkan perasaan.

Peer Counselor memiliki peran yang cukup besar untuk membantu konseli (orang dikonselingi) mengeluarkan perasaannya. Pada dasarnya, perasaan yang terpendam seperti teori gas, bila cukup banyak terkumpul mereka menjadi kuat dan akan meledak jika sudah tidak dapat tertampung. Pelatihan ini mengajarkan para staff dalam memahami bagaimana dan apa saja yang perlu kita lakukan ketika mendampingi teman-teman mahasiswa ketika mereka sharing, curhat atau mengeluarkan perasaannya. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konseling antara lain : permasalahan luka batin yang perlu disadari dan dikenali oleh konseli melalui perasaan-perasaan yang mucul pada kondisi yang berkaitan dengan titik sensitif yang belum diketahui dan melihat dibalik alasan sulit mengeluarkan perasaannya.

Dalam materi pendampingan Peer Counseling ada beberapa hal yang menjadi hambatan diantaranya adalah tidak mengenal perasaan dan berusaha menyembunyikan perasaan. Kedua faktor penghambat ini bisa jadi dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, budaya, kepribadian, trauma, jenis kelamin dsbnya. Sebagai contoh, ketika seorang konseli adalah seorang pemimpin, bisa jadi hambatannya mengutarakan perasaan bukan karena tidak mengenali perasaannya namun karena berusaha menyembunyikannya dengan alasan tidak mau menunjukkan kelemahannya kepada bawahannya.

Karena itu, adalah wajib bagi seorang Konselor untuk mengenali dan menggali lebih dalam latar belakang para konseli sehingga bisa membantunya mengeluarkan perasaannya. Beberapa metode yang telah dipakai dalam pendampingan atau konseling di JOY adalah menulis surat, kursi kosong maupun katarsis dengan mengeluarkan emosi melalui media-media tertentu atau berteriak di suatu tempat.

Baru pertemuan pertama, namun banyak hal telah diajarkan terkait perasaan. Ruang lingkupnya adalah memahami emosi baik dan dampak negatif dari emosi atau perasaan-perasaan yang terpendam. Dampak negatifnya tidak hanya dirasakan oleh konseli saja tetapi juga akan mempengaruhi hubungan mereka dengan orang lain. Sebaliknya konseli akan merasakan manfaat ketika mereka mampu mengenali perasaannya dan juga mampu mengeluarkan emosi atau perasaan-perasaan yang terpendam saat proses konseling berlangsung. Selain itu, konseli bisa berkembang baik dalam hal pengetahuan, mencintai, petualang, berkreasi, memberi dan menerima.

Emosi-emosi yang disadari dapat menerangi isi hati kita dan membukakan hal-hal yang tak terduga sama sekali. Mengenal diri serupa inilah permulaan menjadi dewasa.

Setelah tahu apa yang kita butuhkan, apa yang harus kita ubah, maka kita akan menjadi manusia yang utuh. Perasaan-perasaan kita adalah sesuatu yang bernilai dan menjadi bagian penting dari kemanusiaan kita yang utuh.

Jika diperlakukan secara hormat dan diperlihara secara tepat, perasaan-perasaan itu dapat menjadi dasar yang kokoh untuk bertumbuh secara dewasa.

Pelatihan ini sangat menarik buat saya karena saya bisa belajar menjadi seorang pendengar yang baik khususnya dalam pelayanan saya ketika mendampingi teman-teman mahasiswa(i) tentunya. Tidak sedikit dari mereka yang mau sharing ataupun curhat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pergumulan pribadi mereka kepada saya. Melalui pelatihan ini saya juga bisa menerapkan itu kepada mereka yang saya layani meskipun belum sebagai konselor profesional namun langkah-langkah profesional bisa saya terapkan guna menolong JOYer mengeluarkan emosi dan mengelolanya dengan baik.

Menjadi seorang konselor membutuhkan ketulusan hati mendengarkan bukan sekedar mendengar. Bayangkan, berjam-jam mendengar seseorang bercerita (seringkali tanpa arah dan alur) tentunya bisa terasa membosankan atau menjemukan.

Awalnya, saya sempat berfikir mengapa saya perlu tahu detail cerita mereka? Apakah saya sanggup untuk mendengar seluruh keluh kesah mereka? pelatihan ini mengingatkan saya proses konseling yang saya alami sendiri. Menolong karena sudah lebih dulu ditolong dalam hal mengungkapkan perasaan.

Sebelum saya mengikuti konseling, sayapun pernah merasakan bagaimana ketika emosi itu terpendam lama dalam diri saya, dan memang benar, emosi tersebut menjadi seperti bom yang meledak-ledak ketika semakin menumpuk.

Akhirnya setelah mengikuti konseling sayapun sangat terbantu, dan saya bisa merasakan manfaatnya dimana saya bisa lebih mengenali diri sendiri dan juga mengetahui/ menemukan pola-pola reaksi saya ketika berada dalam situasi yang memicu saya untuk meluapkan emosi-emosi saya sehingga pola-pola yang menjadi toxic bisa saya ubah. Manfaat lain yang saya rasakan adalah berkaitan dengan cara saya berelasi dengan orang lain tentunya lebih sehat dibandingkan sebelum saya mengikuti konseling dimana emosi saya bisa terkontrol dan lebih stabil.

Kini saya semakin menyadari bahwa setiap orang perlu dibantu untuk mengeluarkan emosinya. Terlihat sepele namun dampaknya sangat besar dalam kehidupan.

Saya secara pribadi sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan peer konseling ini karena semakin memperlengkapi saya secara pribadi dan tentunya saya juga punya bekal untuk melayani orang-orang yang Tuhan percayakan untuk saya layani. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *