Counseling Ethics(A Training Resume)

oleh Diljerti Panggalo

Hari ini pelatihan staff masih seputar peer konseling. Kali ini yang dibahas terkait etika konseling dan segala yang berkaitan dengan konselor.

Sebagai seorang konselor sudah seharusnya mengenal diri sebelum mengkonseling klien. Hal ini berkaitan dengan keefektifan konseling yang akan dilakukan.


Apa saja yang harus dikenali dalam diri sebelum menjadi konselor :

  1. Mengenali hal sensitif (perasaan-perasaann yang membuat tidak nyaman), kemungkinan berkaitan dengan masa lalu, luka.
  2. Kebutuhan-kebutuhan kita yang merupakan titik rawan kita. Misal: kebutuhan diterima, kebutuhan akan kasih
  3. Apakah saya mau mendengarkan? Bagaimana saya menerima orang yang bercerita? Empati saya bagaimana
  4. Apakah ada topik-topik tertentu yang membuat saya tidak nyaman? Mengapa?
  5. Kapasitas diri dalam mendengarkan (contoh: 1 hari tidak lebih dari orang yang dikonseling)
  6. Waspadalah dengan transferensi dan countertransferensi
    Transferensi: pengalihan perasaan yang tanpa di sadari dari konseli kepada konselor
    Countertranferensi: pengalihan perasaan yang tanpa di sadari dari konselor kepada konseli
    Kalau saya tidak mengenal diri saya, bagaimana saya dapat menolong orang lain? Kalau saya tidak terbuka dengan diri saya, bagaimana saya dapat menolong orang lain lebih efektif?.

Attending
Attending adalah cara-cara konselor dapat “bersama” dengan konseli, baik secara fisik dan psikologi. Attending juga berarti konselor menjadi perhatian dengan apa yang konseli katakan dan lakukan.

Effective attending, mengatakan kepada konseli bahwa konselor ada bersama dengan mereka dan mereka dapat membagi ceritanya kepada konselor.

Bagaimana Cara Untuk Attand
A. Bahasa Tubuh Konselor

  1. Kontak mata dengan konseli.
  2. Posisi duduk (Agak condong ke arah konseli, posisi di depan konseli)
  3. Bahasa tubuh yang penuh perhatian
    • Sikap yang mendukung, menunjukkan ekpresi ketertarikan pada wajah dan hindari kegelisahan, tenang
    • Duduk dengan lengan yang terbuka, hindari tangan di silangkan di depan dada
  4. Kualitas vokal (Gunakan intonasi yang tepat dan berbicara yang jelas)
  5. Vokal tracking
    • Menjaga topik diajukan oleh konseli
    • Memberikan “encourage” lewat gestrure lewat anggukan atau kata-kata atau seperti kata eem
    B. Mendengarkan:
    Mendengarkan adalah sebuah pelayanan. Dengan mendengarkan, akan menolong kita membina relasi yang lebih kuat dengan orang lain. Orang cenderung mencari seseorang yang mendengarkan karena mendengarkan itu menunjukkan kasih.
    Belajar Listening bukan hearing (sambil lalu). listen with your heart, listen with your mind. When you really listen, love is what you find.
    Saat mendengarkan terkadang ada saja halangan yang dialami oleh seorang konselor. Diantaranya:
    • Gangguan internal
    Misal:sakit, masalah pribadi, banyak pekerjaanbelajar meletakkan masalah kepada Tuhan sebelum konseling seperti jaket dilepaskan
    • Gangguan eksternal
    Misal, banyak orang lalu lalang.
    • Gangguan secara subyektif
    tidak suka dengan orangnya,tidak suka sama topiknya (yang dibicarakan klien), topik berulang jadinya konselor membenarkan diri (defensivenness)
    • Waktu ceritanya gak tepat. Misal konselor ada kegiatan yang lain
    Dampak setelah mendengarkan cerita orang lain :
    • Merasa bertanggung jawab atas masalah orang lain (mesias sindrom, perasaan berharga karena dibutuhkan oleh orang lain)
    • Hati-hati dengan Vicorius Trauma (efek trauma klien yang berdampak pada kehidupan konselor)
    • Klien yang bergantung pada konselor. Perlu mengecek apakah yang salah dalam proses mendampingi klien: apakah konselor berperan sebagai problem solving, apakah tanpa sadar membuat klien bergantung pada konselor.
    • Dampak pada fisik yang kadang dialami konselor : pusing, mual, sakit kepala, lemas, lelah fisik dan pikiran
    • Mempengaruhi relasi konselor dengan orang yang diceritakan orang yang diceritakan klien.
    • Pandangan konselor terhadap klien bisa berubah. Misal menjadi tidak suka dengan klien karena nilai-nilai konselor yang berbeda dengan klien.
    Etika Konseling
  6. Kerahasian untuk semua informasi pribadi
    Hasil konseling dirahasiakan karena dalam cerita klien berkaitan dengan orang lain. Jika ingin memberitahukan hasil konseling kepada pihak lain, harus dengan persetujuan si klien. Misal klien remaja, orang tua harus tahu maka sebelumnya diinfokan kepada klien bahwa akan memberitahu hasil konseling kepada orang tua jika klien berada dibawah umur.
    ada kasus yang diperbolehkan untuk pihak lain mengetahui hasil koseling seperti hal yang sudah menyangkut nyawa, abuse, kesehatan mental
  7. Kerahasian untuk semua informasi yang tertulis
  8. Penggunaan kasus-kasus untuk ilustrasi harus meminta ijin terlebih dahulu dan merahasiakan identitas klien
  9. Jangan membicarakan konselor yang lain (jika klien sudah pernah konseling sebelumnya).
  10. Sebagai konselor tidak membicarakan orang yang sedang dan pernah ia konseling kepada orang lain (juga kepada klien yang lain) tidak boleh juga menjadi pokok doa
  11. Konselor tidak memberi sentuhan yang tidak perlu kepada konseli (terutama kepada yang lawan jenis) karena klien bisa memproyeksikan perasaan pada konselor (transfer perasaan).
  12. Lakukan konseling di tempat yang tepat (mis jangan di tempat tertutup, di kamar hotel, di mobil)
  13. Seorang konselor harus mengenal keterbatasannya.
    • Bukan berarti menyerah di awal. Melakukan dulu, kalau sampai tidak bisa, dapat bilang: “gimana kalau kamu bicara dengan….” Karena saya merasa tidak mampu
    • Agak sulit mengkonseling orang-orang yang terlibat secara emosi misal suami, istri, ortu,dll (relasi ganda)
  14. Informed consent
    • berkaitan dengan kerahasiaan dan informasi terkait rangkaian konseling yang akan dilakukan, di informasikan di pertemuan awal sebelum konseling dimulai.

2 Replies to “Counseling Ethics(A Training Resume)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *