Tujuan konseling (A Training Resume)

ditulis oleh Prestiwani N

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang tujuan konseling. Melanjutkan materi sebelumnya tentang Etika Konselor dan Mekanisme Pertahanan diri.

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dalam pelaksanaan konseling, antara lain:

  • Membantu konseli untuk menemukan dan melihat permasalahannya secara objektif dan menyeluruh.

Kebanyakan konseli yang datang untuk konseling merasa bahwa permasalahannya lebih berat dari yang seharusnya.

Kadang konseli juga merasa bahwa orang lain selalu menjadi sumber permasalahannya.

  • Membantu konseli untuk menemukan jalan keluar / mengembangkan insight untuk masalahnya sendiri.
  • Mendorong konseli untuk bertumbuh mandiri.
  • Melihat sumber kekuatan konseli dan  menemukan support system.
  • Menurunkan tekanan yang tidak perlu
  • Memberikan pilihan-pilihan realistik
  • Memperbaiki hubungan interpersonal

Seorang konselor bukanlah problem-solver untuk konseli

Seorang konselor bukanlah problem-solver untuk konseli. Lewat proses konseling, konselor memandu konseli untuk menemukan jawaban dan mengambil keputusan bagi permasalahan konseli sendiri.

Panduan dasar konseling

Ada beberapa langkah sebagai panduan dasar dalam melakukan konseling. Langkah-langkah ini harus dilakukan secara berurutan, tidak boleh dilangkahi atau dilakukan secara acak.

  1. Mempersilahkan konseli menceritakan apapun yang ingin dia kemukakan/sharingkan.

Ini merupakan kesempatan konselor untuk mengumpulkan data dan kesempatan konseli untuk mengeluarkan unek-unek (perasaan yang dirasakan seperti kekecewaan, sakit hati dan perasaan lainnya yang dipendam).

  • Membantu konseli mengeluarkan dan menyadari emosi (perasaan) yang ada, yang belum muncul di langkah pertama (1). Dalam istilah psikologi, tahap ini dinamakan katarsis.

Proses tidak bisa maju ke langkah ke 3, jika emosi konseli belum keluar semua.

Di tahap ini konselor perlu memperhatikan adanya unsur budaya dalam hal pengungkapan perasaan, contohnya: jika yang diceritakan berkaitan dengan orang tua atau yang sudah meninggal (terutama di budaya Asia, menceritakan kesalahan atau keburukan orang yang lebih tua atau orang yang sudah meninggal dianggap perilaku tidak sopan), atau menceritakan orang yang sudah berubah menjadi baik (merasa tidak enak karena seperti menjelek-jelekkan orang tersubut).

Cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan emosi, antara lain:

  • Menulis dan membaca surat
  • Teknik kursi kosong
  • Psycho-imagery, sebuah latihan mental yang mengoptimalkan pada proses membayangkan yang menggunakan seluruh panca indera.
  • Di Langkah ini ada dua cabang (langkah ini dipilih salah satu sesuai dengan keadaan konseli):
  • Jika berkaitan dengan masalah yang membutuhkan problem-solving: yang dilakukan adalah cognitive therapy.

Untuk kasus tertentu (seperti depresi), kognitif terapi perlu didahulukan sebelum mengeluarkan emosi.

  • Jika berkaitan dengan masalah dengan orang lain (luka batin): yang dilakukan adalah menolong konseli berdiri di “kakinya” atau berdiri di sisi yang lain. Contoh: seseorang yang memiliki luka batin karena seringkali dikritik oleh ibunya, melihat bahwa ibunya dulu mengalami kekerasan verbal dari orang lain.

Langkah ini bisa dilakukan dengan cara: membuat Genogram (pohon keluarga) dan wawancara

  • Melepaskan pengampunan. Konselor mendorong konseli berdoa dan mengucapkan “saya mengampuni…”
  • Memperbaiki perilaku dampak dari luka batin (bisa bersamaan dengan tahap 4).

Contoh: karena sering dikritik, seseorang punya kecenderungan untuk mengritik. Luka batin, seperti layaknya luka fisik, seringkali meninggalkan bekas. Bekas luka ini menjadi perjuangan seumur hidup seseorang. Dengan konseling, kita seperti membantu memasang peredam atau penyaring sehingga dampaknya dapat kita kurangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *