Mendengarkan Secara Aktif/Active Listening (A Training Resume)

ditulis oleh Oya Citra

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang mendengarkan secara aktif. melanjutkan materi sebelumnya Etika Konseling dan Tujuan Konseling.

Kunci dalam mendengarkan secara aktif adalah konselor tidak hanya mendapatkan informasi, melainkan mendorong konseli untuk tetap atau terus berbicara.

Hal-hal yang harus kita dengarkan adalah :

Mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi dibalik kata-kata.

  1. Dengarkan perasaan konseli
    a. Mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi dibalik kata-kata. Alasan mengapa konselor mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi karena konselor menunjukkan bahwa ia mengerti perasaan konseli
    b. Memantulkan perasaan-perasaan yang konselor dengar itu kepada konseli.
    c. Mencerminkan sikap yang menerima (menerima tidak berarti menyetujui). Misal: “saya mengerti perasaan itu kalau pernah dalam posisi itu

Catatan; kalau memang belum pernah ada di posisi tersebut: jangan mengatakan “aku mengerti perasaanmu” konselor tidak pernah paham dan sungguh dapat mengerti perasaan tersebut. Kata-kata ini sangat sensitif buat konseli

2. Dengarkan isi cerita atau buah pikiran konseli.

3. Mencapai kesamaan persepsi atau makna dengan cara mengecek kembali dengan konseli apa yang telah dikatakannya. Misalnya: “jadi yang kamu maksudkan adalah…?”

  1. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
  2. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
  3. Memperhatikan intonasi suara
  1. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
  2. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
  3. Memperhatikan intonasi suara
  4. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
    a. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
    b. Memperhatikan intonasi suara
    c. Memperhatikan pergerakan emosi. Contohnya dia mengatakan begini “Saya tidak sedih kok”. Padahal saat itu matanya sedang berkaca-kaca seperti ingin menangis.
  5. Tindakan memotong pembicaraan
    Tindakan ini boleh dilakukan oleh konselor dengan catatan : hal ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan atau dengan semena-mena. Kasus ini memang jarang terjadi. Namun untuk menangani kasus ini, dibutuhkan skill dan juga latihan.
  6. Jangan mencari jawaban ketika konseli bercerita.
  7. Perhatian dan jangan melamun. Jaga pikiran kita dari pikiran yang mengembara dan fokus pada konseli.
  8. Bereaksi secara tepat, misalnya dengan anggukan, senyum, komentar,dan dukungan.

Ingat bahwa: komunikasi terdiri 35% perkataan yang diungkapkan dan 65% yang tidak diucapkan (john Back)

  • Mendengarkan isi atau buah pikiran  konseli.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang isi/parafrase (bisa ada perasaan juga di dalamnya).

Contoh :

  • Konseli : Orang tuaku selalu tidak pernah puas dengan apa yang aku capai, semuanya selalu salah di depan mereka, berbeda kalau dengan kakakku, dia selalu dipuji.

Konselor : Kamu sedih ya, karena orang tuamu memperlakukan mu berbeda dengan kakak mu.

  • Konseli : Nilai saya selalu jelek, saya tidak cocok dengan jurusan saya, setiap kali baca jurnal bawaannya gantuk terus.

Konselor : Jadi kamu tidak suka dengan jurusan mu ?

Bahasa non Verbal

Di dalam komunikasi, pemahaman terhadap bahasa non-verbal akan mendukung lancarnya komunikasi. Hampir tidak ada manusia di dunia yang berkomunikasi tanpa menggunakan dukungan bahasa non-verbal. Bila bahasa menjadikan hambatan, maka komunikasi dengan bahasa non-verbal justru menjembatani adanya hambatan bahasa tersebut.

Misalnya: saya mencintaimu, tetapi ada senyum sinis di bibirnya

                     Saya tidak sedihà tetapi matanya berkata-kata

Aspek-aspek bahasa non-verbal

  1. Cara berbicara

♣ Artikulasi

♣ Ritme berbicara

♣ Aksen/nada suara (penekanan pada suku kata tertentu)

2. Nada suara

nada suara mewakili 35-40% pesan. Nada suara meliputi volume, tingkat dan bentuk emosi dapat muncul melalui kata-kata yang dipilih.
Dampak nada suara pada kalimat yang sama, memiliki makna yang berbeda atau ganda tergantung pada kata yang ditekankan.

Hal-hal yang dapat menghalangi komunikansi dalam konseling :

  1. Memerintah: “kamu harus…..”, “kamu akan…”
  2. Peringatan, ancaman: “jika kamu tidak melakukannya maka…
  3. Memoralkan, berkotbah: “kamu harus….”, “ kamu bertanggung jawab untuk…
  4. Menasehati, memberi solusi: “ apa yang saya lakukan adalah…., “kenapa kamu tidak melakukan…..”
  5. Menghakimi, mengkritik, menyalahkan: “kamu tidak dewasa…”, “kamu malas…”
  6. Nama panggilan-ejekan: “ cry-baby..”, “baiklah,Mr smart…”
  7. Menentramkan hati, simpati: “jangan kuatir..”, “tersenyumlah..”
  8. Menggunakan terlalu banyak penyelidikan atau pertanyaan: “mengapa…”, “siapa…”,  apa yang kamu lakukan…”
  9. Sindiran yang tajam/sarkatis, withdrawal: “mari bicara hal-hal yang menyenangkan..”, “mengapa kamu tidak coba untuk menaklukkan dunia..”

One Reply to “Mendengarkan Secara Aktif/Active Listening (A Training Resume)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *