Paraphrase dan Question (A Training Resume)

ditulis oleh Ria Alfrida TB

Topik yang kami bahas dalam pertemuan Training of Existing Staff of JOY kali ini adalah Paraphrase dan Question dalam melakukan konseling, melanjutkan materi sebelumnya yaitu Mendengarkan secara aktif / Active Listening.

  1. Paraphrase

Secara umum Paraphrase adalah mengulang cerita konseli dengan menggunakan kalimat sendiri.

Paraphrase merefleksikan hal yang penting yang telah dikatakan konseli.

Berdasarkan pernyataan di atas, perlu diketahui bahwa Paraphrase memiliki manfaat dalam konseling baik kepada konselor sendiri maupun kepada konseli, berikut ini adalah beberapa manfaat Paraphrase yaitu :

  • Paraphrase menumbuhkan empati konselor
  • konseli merasa di dengarkan dan dimengerti
  • Paraphrase membantu konseli menyimpulkan isu penting lebih mendalam dan terpusat
  • Paraphrase membantu mengecek persepsi konselor
  • Membantu konseli memahami perasaannya

Langkah-langkah dalam melakukan Paraphrase adalah :

  • Dengar (mendengarkan dengan seksama cerita konseli)
  • Indentifikasi bagian dari cerita yang mengidentifikasikan kejadian, situasi, ide, atau orang yang konseli bicarakan
  • Tangkap kata kunci
    Kata kunci tidak selamanya adalah kata-kata yang sering diucapkan konseli
  • Memberikan pertanyaan (biasanya dalam bentuk pertanyaan singkat)

Dalam proses mengidentifikasi Paraphrase kita perlu memperhatikan dengan seksama Key word/kata kunci yang diucapkan oleh konseli, oleh karena itu ada beberapa hal yang sebaiknya kita pahami secara seksama, yaitu :

  • Kata-kata yang keluar dari mulut konseli itu sendiri
  • Sebuah tema bagi konseli
  • Dapat dipakai konselor untuk diingat yang dapat menjadi pijakan
  • Kata ini tidak selalu sering diucapkan tapi kata yang penting yang keluar dari mulut konseli
  • Semakin sering melakukan konseling, maka akan semakin peka dengan kata kunci

Catatan: Paraphrase yang tidak akurat dapat memunculkan respon “hah?”

Contoh memparaprasekan cerita konseli:

  1. Konseli: “Aku tidak tahu tentang dia. Satu saat dia sangat ramah, dan berikutnya aku melihatnya, dia benar-benar dingin. “

Konselor:  “kamu bingung tentang siapakah dia sebenarnya.”

  • Konseli : Dia sangat payah. Pekerjaannya tidak beres. Dia tidak terlatih. Hubungan dengan anggota CGnya juga tidak baik

Konselor: kamu mengganggap dia tidak kompeten

2. Pertanyaan

Setelah mempelajari topik tentang Paraphrase, selanjutnya kita sama-sama mempelajari topik terkait Question/pertanyaan yang akan diajukan kepada konseli.

Fungsi pertanyaan dalam konseling:

  • Membantu konselor untuk menggali informasi dari konseli

(pertanyaan bisa membantu memahami situasi konseli. Informasi yang sesuai dengan konteks konseling).

  • mengklarifikasi informasi
  • membantu mengarahkan fokus konseli.
  • Pertanyaan dapat membuka area baru untuk diskusi di dalam konseling

gunakan teknik bertanya yang membuat konseli merasa nyaman

Ada 2 tipe pertanyaan:

  1. Pertanyaan tertutup/closed questions
  2. Pertanyaan yang dijawab dengan respon minimal (‘ya’ atau ‘tidak’).
  3. Mengklarifikasi informasi
  4. Mengarahkan fokus konseli
  5. Pertanyaan yang mengarah sesuai dengan hal yang dilihat konselor dalam cerita konseli. Misalnya “jadi kamu merasa kecewa karena perbuatannya kepadamu?
  • Pertanyaan terbuka/open questions
  • Pertanyaan terbuka memberi kemungkinan besar akan mendapat jawaban yang panjang
  • Pertanyaan terbuka mendorong konseli untuk berbicara
  • menawarkan kesempatan bagi konselor untuk mengumpulkan informasi tentang konseli

Pertanyaan

  • Apa :  mengarah pada fakta dan informasi
  • Kapan :  menampilkan waktu masalah
  • Dimana :  memungkinkan diskusi tentang lingkungan dan situasi kejadian.
  • Mengapa : memunculkan alasan.

Catatan:

Perlu berhati-hati saat menanyakan pertanyaan ‘mengapa’. Pertanyaan mengapa dapat memicu perasaan defensif pada konseli dan dapat mendorong konseli untuk merasa seolah-olah mereka perlu membenarkan diri sendiri dalam beberapa cara.

  • Bagaimana : memungkinkan pembicaraan tentang perasaan  atau proses.
  • Who : mengarah kepada fakta

Perhatian:

penggunaan pertanyaan yang berlebihan atau menggunakan teknik bertanya yang dapat berdampak negatif pada sesi. Teknik bertanya yang salah, pada waktu yang salah, di tangan konselor yang tidak terampil, dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kebingungan bagi konseli.

Dalam proses konseling, konselor perlu memperhatikan setiap pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada konseli agar tidak mengakibatkan kesalahan yang fatal atau membuat konseli merasa tidak nyaman saat konseling. Berikut adalah 5 teknik bertanya yang salah :

  1. Pengeboman

ketika konselor terjebak dalam pola memberikan pertanyaan-pertanyaan satu demi-satu (bisa terjadi karena konselor terburu-buru segera ingin tahu).

  • Pertanyaan ganda.

konselor mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Misalnya “Tolong ceritakan tentang diri anda, berapa usia anda, di mana Anda lahir, apakah Anda punya anak dan apa pekerjaan Anda?.

  • Pertanyaan sebagai suatu pernyataan

Terjadi ketika konselor menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk menjual sudut pandang mereka sendiri. Misalnya, “Tidakkah menurut anda akan berguna jika anda belajar lebih banyak?” atau “Apa pendapat anda tentang mencoba latihan relaksasi daripada apa yang anda lakukan sekarang?

Harus hati-hati karena ini seperti memberikan jawaban tetapi lebih dengan cara yang halus.

  • Pertanyaan dan perbedaan budaya

Perlu diperhatikakn misalnya menyangkut budaya yang tidak sesuai dengan budaya konseli.

  • Pertanyaan mengapa

kecenderungan konseli mencari pembelaan terhadap pernyataan yang disampaikannya.

Disarankan menggunakan teknik bertanya yang membuat konseli merasa nyaman dan menghindari teknik bertanya seperti yang dijelasankan diatas.

One Reply to “Paraphrase dan Question (A Training Resume)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *