Cognitive Therapy (A Training Resume)

ditulis oleh Diljerti Panggalo

Dalam pertemuan Pelatihan Staff kali ini, kami belajar materi Terapi kognitif. Pada pertemuan sebelumnya membahas tentang Rapport, Kesimpulan dan Konseling Rasa Bersalah. Terapi Kognitif adalah salah satu cara yang dapat digunakan dalam proses konseling.

Cognitive Therapy

jika pola pikir berubah maka akan mempengaruhi semua aspek kehidupan

Memberikan terapi atau insight yang berkaitan dengan pikiran, data dan fakta. Dasar pemikirannya jika pola pikir berubah mempengaruhi semua aspek (lihat gambar)

pola-dalam-kehidupan
Ini semacam circle tidak pernah berakhir, dengan kata lain saling mempengaruhi dan berhubungan

fokus adalah membantu konseli untuk membuat keputusan atau mengubah pola pikir (kognitif) agar bisa menghadapi masalah yang ada.

Kasus yang sering  menggunakan terapi kognitif seperti kasus depresi, kecemasan, penghargaan diri (khusus kasus-kasus ini kognitif yang terapi pertama yang digunakan). Terapi kognitif  membatu melihat pola pikiran yang salah dan mengubahnya. Terapi kognitif  bisa di kombinasikan dengan terapi lain,

Beberapa Distorsi/ kesalahan kognitif :

    Umum terjadi pada kecemasan dan depresi

  • Pemikiran segalanya atau tidak sama sekali (all or nothing)

Distorsi kognitif ini membuat sesorang berpikir hanya di dua titik ekstrem. Orang-orang pasti baik atau jahat. Hidup akan berjalan lancar atau buruk.

  •  Over-generalisasi

Seseorang yang memandang suatu peristiwa negatif sebagai pola yang tiada akhir.

Contoh: seorang pemuda yang pernah dikhianati oleh pacaranya, berpikir bahwa semua wanita juga akan mengkhianatinya

  • Filter mental

Hal kecil yang negatif yang terus dipikirkan sehingga pandangannya hanya berpusat pada hal negatif yang kecil tadi. (Distorsi kognitif ini adalah seperti memakai kacamata hitam untuk memandang dunia. Seseorang akan terfokus hanya pada hal-hal yang negatif saja dan mengabaikan aspek positif yang ada.). Contoh: seorang mahasiswa yang mengerjakan 30 soal, ia dapat menyelesaikan 25 soal dengan yakin, tetapi karena tidak yakin dengan 5 jawaban yang lain, ia terus menerus merasa muram sepanjang hari tersebut.

  • Mendiskualifikasi hal positif yang diterimanya

Menolak pengalaman-pengalaman positif dengan bersikeras bahwa semua itu “bukan apa-apa”. Dengan berbuat seperti itu, seseorang mempertahankan suatu keyakinan negatif, bahkan ia dapat merubah yang positif menjadi negatif.

  • Loncatan ke Kesimpulan

Langsung membuat kesimpulan negatif tanpa memiliki bukti yang ada

  1. Seolah-olah bisa membaca pikiran, dia merasa orang lain membicarakan dia saat ada yang melihat kearahnya
  2. Meramalkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Meramalkan bahwa segala sesuatu akan menjadi sangat butuk, dan merasakan bahwa ramalan itu benar-benar akan terjadi
  • Pembesaran dan Mengecilkan

Saat seseorang memandang sesuatu tidak sesuai dengan porsinya. Kemungkinan pertama adalah pembesaran, yaitu saat kita membesarkan hal negatif yang terjadi lebih dari apa yang sebenarnya menjadi porsinya. Kemudian, kemungkinan kedua adalah mengecilkan pencapaian atau hal positif.

  • Penalaran Emosional

Emosi yang dianggap sebagai suatu realita. Saat kita terlalu fokus pada emosi dan memberikan porsi yang terlalu banyak pada sisi emosional saat memandang atau memutuskan sesuatu.

  • Pemikiran “Harus”

Distorsi kognitif membuat kita terjebak dalam suatu ideal yang menurut kita harus orang lain atau kita sendiri lakukan.

  • Labeling

Mirip dengan black and white thinking, distorsi kognitif ini membuat kita memberi label pada siapapun; orang lain, ataupun kita sendiri.

  • Personalisasi

Saat seseorang terlalu fokus pada emosi dan memberikan porsi yang terlalu banyak pada sisi emosional saat memandang atau memutuskan sesuatu.

Kebanyakan distorsi kognitif dapat ditangani dengan mengerjakan tugas yang diberikan konselor, hal yang diberikan konselor adalah hal-hal yang berlawanan dari distorsi yang dialami konseli (bagi konseli yang bermasalah dengan distorsi penghargaan diri, kecemasan).

Contoh Tugas bagi kasus yang suka marah: mendata keuntungan dan kerugian jika marah.

 Hal yang menjadi fokus terapi ini adalah membantu konseli untuk membuat keputusan atau mengubah pola pikir (kognitif) agar bisa menghadapi masalah yang ada. karena masalah akan terus ada di lingkungan konseli setiap hari.

masalah akan terus ada di lingkungan konseli setiap hari.

Dalam diri seseorang bisa saja mengalami lebih dari satu distorsi kognitif.

  1. Apa penyebab Distori kognitif

Disebabkan dari nilai yang dipengaruhi oleh bentukan keluarga, contoh: harus dapat nilai tinggi untuk menunjukan kalau seseorang itu sukses. Selain itu Tekanan hidup dan Luka batin juga menjadi penyebab distorsi kognitif.

2. kasus kecemasan:

Berawal dari kecemasan yang berlebihan

3. Kasus penghargaan diri

Berawal dari cara seseorang memandang dirinya.

One Reply to “Cognitive Therapy (A Training Resume)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *