Validasi, Konfrontasi, Silent , Simbol & Word Picture (A Training Resume)

ditulis oleh Gloria PM

Dalam pertemuan Pelatihan Staff kali ini, kami belajar tentang materi yang sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu Teknik Konseling Paraphase dan Question dimana kali ini teknik-teknik yang dibahas oleh ak Riana yaitu: Validasi, Konfrontasi, Silent, Simbol & World Picture.

  1. Validasi

“It’s Okay to be who you are”

Adapun pengertian dari validasi yaitu: Sebuah teknik dalam konseling untuk pengukuhan dan penguatan yang diberikan seorang konselor kepada konseli. Artinya memberitahu kepada konseli bahwa “It’s Okay to be who you are”. Yang jika diartikan bahwa tidak masalah dengan apa adanya dirimu saat ini.
Sesuatu yang positif, memberi pengakuan akan usaha yang dilakukan konseli

Sebagai contoh : “ Wah! Kamu luar biasa ya.. sudah bertahan sampai sekarang”, contoh yang lainnya yaitu : “saya sekarang sudah mengerti mengapa Andi banyak tertawa minggu lalu…karena ternyata begitu banyak kesedihan yang Andi alami. Saya senang melihat Andi bisa tertawa.” (setelah menolong konseli melihat kekuatannya, pada tahap selanjutnya konselor akan menunjukkan bahwa hal ini juga membuat hidupnya sekaligus tidak efektif)

  • Menyampaikan insight yang mungkin tidak diketahui oleh konseli.

Dengan teknik validasi, konselor dapat membantu konseli untuk menemukan insight atau menambahkan sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak disadari oleh konseli.

  • Berfungsi sebagai jembatan untuk menolong konseli untuk menggali lebih dalam informasi dan perasaaanya.

Sebagai contoh : “apakah dari dulu Andi suka tertawa?” atau “ apakah yang Andi rasakan setelah Andi tertawa?”- misal jawabannya adalah lupa masalahnya setelah tertawa. Dengan cara ini, kita menyampaikan pesan bahwa “it’s OK kamu tertawa”, dan pada perkembangan sesi berikutnya dapat kita ungkapkan apa yang ada dibalik tertawa setelah dia bebas menjadi dirinya.

  • Teknik validasi bukan merupakan sesuatu yang” murahan”, butuh waktu yang tepat untuk diungkapkan.
  • Konfrontasi

Secara umum, konfrontasi adalah menantang orang lain atas ketidaksesuaian atau ketidak sepakatan. Adapun teknik konfrontasi adalah upaya konselor untuk membangkitkan kesadaran konseli tentang sesuatu yang mungkin tidak sesuai atau yang telah mereka abaikan.

Jika konfrontasi yang diberikan tepat, maka akan memberikan insight kepada konseli.

Hal –hal yang biasanya di konfrontasikan yaitu:

  1. Ketidakkonsistenan

Ada 4  ketidakkonsistenan yang biasanya terjadi dalam proses konseling yaitu:

  • Data

Terdapat ketidaksesuaian cerita sekarang dengan cerita sebelumnya yang diutarakan oleh konseli.

Sebagai contoh : “dulu bilang masa remaja menyedihkan sekarang ia bilang masa remaja adalah masa yang menyenangkan”

  • Ekspresi

Perasaan yang dirasakan dengan ekspresi tubuh dikeluarkan selama konseling tidak sesuai.

Sebagai contoh: “cerita tentang kesedihan tetapi dengan senyuman, mengatakan kemarahan berada di tingkat 2 tetapi ekpresinya seperti di tingkat 9 (demikian sebaliknya)

  • Reaksi

Reaksi yang berbeda dikeluarkan oleh konseli kepada dua contoh kasus yang diberikan.

contoh :  “terhadap kasus A konseli marah, tetapi dengan kasus B yang mirip, konseli tidak marah”

  • Perlakuan

Adanya perlakuan yang berbeda dari konseli terhadap dua orang

Sebagai contoh : “perlakukan konseli terhadap A dan B berbeda”

Teknik Konfrontasi ini bertujuan menolong konseli untuk  melihat ada apa dengan ketidakonsistenan tersebut.

  • Penyangkalan/Denial

Teknik konfrontasi dapat juga diterapkan dalam hal penyangkalan, jika konselor merasa alasan yang diungkapkan tidak sesuai.

Sebagai catatan, perlu hati-hati untuk melakukan konfrontasi dengan penyangkalan dari konseli, karena terkadang ada beberapa orang yang sementara perlu bertahan/berpijak dengan penyangkalan/denialnya dulu, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Maka konselor harus dengan bijak menggunakan teknik konfrontasi terhadap penyangkalan di waktu yang tepat.

Hal-hal yang menjadi perhatian ketika menggunakan teknik konfrontasi ini adalah:

  1. Dalam konfrontasi perlu hati-hati, jangan menghina konseli/jangan merendahkan konseli
  2. Jangan langsung “penggempur” dengan semua konfrontasi
  3. Efek samping: konseli tidak suka dengan apa yang dihadapkan kepadanya, konseli merasa disudutkan, tapi konselor juga tidak perlu untuk  merasa bersalah
  4. Jika sudah konfrontasi tetapi konseli berkelit, hal yang sebaiknya dilakukan oleh konselor adalah diam saja, jangan berebut kekuasaan. Dan jangan juga jika di sesi selanjutnya konseli mengungkapkan hal yang sudah konselor ungkapkan sebelumnya, jangan bilang “nah, benerkan yang aku ngomong”
  • Silent

Sering kali kita beranggapan bahwa proses konseling adalah hanya berisi kegiatan saya, tetapi dalam konseling butuh yang namanya “ diam” juga.

 Adapun fungsi dari Teknik Silence ini adalah:

  1. Agar konseli bisa merasakan perasaannya

Yang terpenting adalah agar konseli bisa merasakan perasaannya

Diam dalam pikirannya, terutama untuk orang-orang yang memiliki kecemasan tinggi atau fungsional, dengan diam membuat konselor melihat perubahan wajahnya

  • Untuk melihat konseli, apakah merasa tidak nyaman serta untuk melihat reaksinya

melihat reaksi konseli dengan kesunyian (untuk menunjukkan hal-hal yang hilang dalam kesunyian). Melihat apa yang konseli lakukan dalam keheningan. Kadang seseorang tidak nyaman dalam keheningan karena takut dinilai

  • Merubah ritme percakapan apabila konseli berbicara terlalu cepat
  • Merubah arah percakapan
  • Dengan sengaja memberikan waktu kepada konseli untuk mengeluarkan perasaannya.
  • Konselor mau memberikan bola/tanggung jawab kepada konseli sendiri.
  • Simbol & Word Picture

Ilustrasi yang membuat konseli paham akan situasinya

Teknik ini berfungsi sebagai ilustrasi yang membuat konseli paham akan situasinya. Selain itu penggunaan teknik ini membuat konseli bersentuhan dengan perasaan dan juga membuat konseli mudah mengingat. Bisa dikatakan teknik ini seperti ilustrasi saat khotbah.

Adapun contoh teknik konseling menggunakan simbol yaitu:

  • “Andro seperti seorang yang membawa gunting tanaman dan siap memperindah semua kebun yang perlu digunting” siapa andro tanpa gunting tanaman?
  • Hidupmu seperti sebuah tanda tanya ya?
  • Sekarang  tidak ada lagi piring yang harus di cuci yaa (kasus seorang ibu yang terus menerus berusaha menyenangkan hati mertuanya dengan selalu sibuk jika ada di rumah mertuanya)

Teknik konseling menggunakan word picture sama seperti simbol yang menggunakan ilustrasi namun biasanya lebih panjang seperti skenario.

Adapun contoh teknik konseling menggunakan word picture yaitu:

  • Konselor berkata: saya membayangkan ada anak kecil yang bernama Rina, yang ada di tepi jalan, sendiri, menangis karena ditinggal orang tuanya yaa
  • “ketika ibu cerita, saya membayangkan seekor induk ayam yang terus menerus melindungi anak-anaknya. Saya membayangkan ibu seperti induk ayam itu yang terus berjuang keras melindungi anak-anak ibu
  • Bisa juga dipakai untuk menolong konseli menemukan insight , misalnya kamu dan papamu terdampar di sebuah pulau, apa yang akan kamu lakukan dengan papamu.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan yaitu:

  • Bagaimana kalau salah ilustrasi?, it’s ok (tidak masalah)
  • Kalau gambaran/ilustrasinya benar, umumnya akan membuat konseli terdiam. Jika konseli menjawab; “oh, mungkin ada benarnya” Berarti itu belum sepenuhnya benar. Konselor bisa menjawab “bagaimana yang benar menurutmu?”

Demikian beberapa teknik konseling yang telah dibahas di pelatihan staff kali ini, yang pastinya teknik-teknik ini membantu dalam peer konseling.

Paraphrase dan Question (A Training Resume)

ditulis oleh Ria Alfrida TB

Topik yang kami bahas dalam pertemuan Training of Existing Staff of JOY kali ini adalah Paraphrase dan Question dalam melakukan konseling, melanjutkan materi sebelumnya yaitu Mendengarkan secara aktif / Active Listening.

  1. Paraphrase

Secara umum Paraphrase adalah mengulang cerita konseli dengan menggunakan kalimat sendiri.

Paraphrase merefleksikan hal yang penting yang telah dikatakan konseli.

Berdasarkan pernyataan di atas, perlu diketahui bahwa Paraphrase memiliki manfaat dalam konseling baik kepada konselor sendiri maupun kepada konseli, berikut ini adalah beberapa manfaat Paraphrase yaitu :

  • Paraphrase menumbuhkan empati konselor
  • konseli merasa di dengarkan dan dimengerti
  • Paraphrase membantu konseli menyimpulkan isu penting lebih mendalam dan terpusat
  • Paraphrase membantu mengecek persepsi konselor
  • Membantu konseli memahami perasaannya

Langkah-langkah dalam melakukan Paraphrase adalah :

  • Dengar (mendengarkan dengan seksama cerita konseli)
  • Indentifikasi bagian dari cerita yang mengidentifikasikan kejadian, situasi, ide, atau orang yang konseli bicarakan
  • Tangkap kata kunci
    Kata kunci tidak selamanya adalah kata-kata yang sering diucapkan konseli
  • Memberikan pertanyaan (biasanya dalam bentuk pertanyaan singkat)

Dalam proses mengidentifikasi Paraphrase kita perlu memperhatikan dengan seksama Key word/kata kunci yang diucapkan oleh konseli, oleh karena itu ada beberapa hal yang sebaiknya kita pahami secara seksama, yaitu :

  • Kata-kata yang keluar dari mulut konseli itu sendiri
  • Sebuah tema bagi konseli
  • Dapat dipakai konselor untuk diingat yang dapat menjadi pijakan
  • Kata ini tidak selalu sering diucapkan tapi kata yang penting yang keluar dari mulut konseli
  • Semakin sering melakukan konseling, maka akan semakin peka dengan kata kunci

Catatan: Paraphrase yang tidak akurat dapat memunculkan respon “hah?”

Contoh memparaprasekan cerita konseli:

  1. Konseli: “Aku tidak tahu tentang dia. Satu saat dia sangat ramah, dan berikutnya aku melihatnya, dia benar-benar dingin. “

Konselor:  “kamu bingung tentang siapakah dia sebenarnya.”

  • Konseli : Dia sangat payah. Pekerjaannya tidak beres. Dia tidak terlatih. Hubungan dengan anggota CGnya juga tidak baik

Konselor: kamu mengganggap dia tidak kompeten

2. Pertanyaan

Setelah mempelajari topik tentang Paraphrase, selanjutnya kita sama-sama mempelajari topik terkait Question/pertanyaan yang akan diajukan kepada konseli.

Fungsi pertanyaan dalam konseling:

  • Membantu konselor untuk menggali informasi dari konseli

(pertanyaan bisa membantu memahami situasi konseli. Informasi yang sesuai dengan konteks konseling).

  • mengklarifikasi informasi
  • membantu mengarahkan fokus konseli.
  • Pertanyaan dapat membuka area baru untuk diskusi di dalam konseling

gunakan teknik bertanya yang membuat konseli merasa nyaman

Ada 2 tipe pertanyaan:

  1. Pertanyaan tertutup/closed questions
  2. Pertanyaan yang dijawab dengan respon minimal (‘ya’ atau ‘tidak’).
  3. Mengklarifikasi informasi
  4. Mengarahkan fokus konseli
  5. Pertanyaan yang mengarah sesuai dengan hal yang dilihat konselor dalam cerita konseli. Misalnya “jadi kamu merasa kecewa karena perbuatannya kepadamu?
  • Pertanyaan terbuka/open questions
  • Pertanyaan terbuka memberi kemungkinan besar akan mendapat jawaban yang panjang
  • Pertanyaan terbuka mendorong konseli untuk berbicara
  • menawarkan kesempatan bagi konselor untuk mengumpulkan informasi tentang konseli

Pertanyaan

  • Apa :  mengarah pada fakta dan informasi
  • Kapan :  menampilkan waktu masalah
  • Dimana :  memungkinkan diskusi tentang lingkungan dan situasi kejadian.
  • Mengapa : memunculkan alasan.

Catatan:

Perlu berhati-hati saat menanyakan pertanyaan ‘mengapa’. Pertanyaan mengapa dapat memicu perasaan defensif pada konseli dan dapat mendorong konseli untuk merasa seolah-olah mereka perlu membenarkan diri sendiri dalam beberapa cara.

  • Bagaimana : memungkinkan pembicaraan tentang perasaan  atau proses.
  • Who : mengarah kepada fakta

Perhatian:

penggunaan pertanyaan yang berlebihan atau menggunakan teknik bertanya yang dapat berdampak negatif pada sesi. Teknik bertanya yang salah, pada waktu yang salah, di tangan konselor yang tidak terampil, dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kebingungan bagi konseli.

Dalam proses konseling, konselor perlu memperhatikan setiap pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada konseli agar tidak mengakibatkan kesalahan yang fatal atau membuat konseli merasa tidak nyaman saat konseling. Berikut adalah 5 teknik bertanya yang salah :

  1. Pengeboman

ketika konselor terjebak dalam pola memberikan pertanyaan-pertanyaan satu demi-satu (bisa terjadi karena konselor terburu-buru segera ingin tahu).

  • Pertanyaan ganda.

konselor mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Misalnya “Tolong ceritakan tentang diri anda, berapa usia anda, di mana Anda lahir, apakah Anda punya anak dan apa pekerjaan Anda?.

  • Pertanyaan sebagai suatu pernyataan

Terjadi ketika konselor menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk menjual sudut pandang mereka sendiri. Misalnya, “Tidakkah menurut anda akan berguna jika anda belajar lebih banyak?” atau “Apa pendapat anda tentang mencoba latihan relaksasi daripada apa yang anda lakukan sekarang?

Harus hati-hati karena ini seperti memberikan jawaban tetapi lebih dengan cara yang halus.

  • Pertanyaan dan perbedaan budaya

Perlu diperhatikakn misalnya menyangkut budaya yang tidak sesuai dengan budaya konseli.

  • Pertanyaan mengapa

kecenderungan konseli mencari pembelaan terhadap pernyataan yang disampaikannya.

Disarankan menggunakan teknik bertanya yang membuat konseli merasa nyaman dan menghindari teknik bertanya seperti yang dijelasankan diatas.