Perilaku Media Sosial & Psikologi (A Training Resume )

ditulis oleh Oya Citra

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas tentang Perilaku Media Sosial & Psikolog. Setelah beberapa hari yang lalu membahas tentang Kecemasan dan Stress Management.

Berselancar di media sosial membuat hormon dopamin dan oksitosin meningkat.

10 menit berselancar di media sosial, kadar oksitosin dapat meningkat sebanyak 13%.  Jejaring sosial tidak hanya menghadirkan banyak perasaan yang luar biasa, selain itu membuat sangat sulit untuk berhenti.

Swafoto (Selfie)

Kata selfie resmi menjadi kata baru dalam kamus Oxford English Dictionary pada tahun 2013. Fenomena swafoto menggunakan perspektif psikologi sosial.

melakukan swafoto merupakan upaya mengkonstruksikan identitas sosialnya

  1. Wujud dari Eksistensi Diri dan Self Esteem

Berswafoto dan menyebarkannya di media sosial tidak sekadar terfokus pada penampilan diri si pengguna. Swafoto merupakan upaya representasi diri di media sosial, sebuah upaya agar dianggap ‘ada’ atau eksis dalam media. Seseorang yang melakukan swafoto juga tengah berusaha mengkonstruksikan identitas sosialnya dengan cara memaksimalkan atau meminimalkan karakter positif atau negatif dalam dirinya supaya self-esteem tetap terpelihara.

Swafoto yang sukses ditandai dengan banyaknya pujian, pemberian tanda ‘jempol’ atau ‘like’. Bila sudah demikian, maka individu merasa puas dan semakin terdorong untuk kembali melakukan swafoto dan mengunggahnya di media sosial. Namun, bila kondisinya terbalik, individu dapat merasa diacuhkan dan tidak dihargai oleh lingkungan sosialnya. Keadaan tersebut bisa memicu keinginan untuk tidak kembali mengunggah swafoto atau tetap melakukan swafoto, namun dengan evaluasi tertentu.

Media dan self estem

  • Self esteem = ideal self, self image

Diri yang ditampilkan di media sosial adalah diri ideal.

Sebuah penelitian:

  • Responden 150 remaja berusia 15-25 tahun yang aktif menggunakan sosial media.
  • Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar remaja yang aktif menggunakan sosial media ingin terlihat baik dan menampilkan citra konsep diri idealnya di profil media sosial.
  • Imaginary audience adalah kelompok teman-teman (peers) dan orang lain yang dipercaya memperhatikan remaja secara konstan. Imaginary audience-nya menyebabkan kemungkinan akan perbandingan dan kritik secara online tidak akan pernah berakhir .
  • Para remaja mencari informasi tentang teman-temannya di dunia sosial, umpan balik ini membuat mereka membandingkan diri mereka dengan teman-temannya. Hal inilah yang menjadi resiko menurunnya konsep diri remaja.
  • Bisa menandai  kepribadian bergantung narsistik: Nevid mengemukakan perilaku narsisme adalah cinta diri dimana memperhatikan diri secara berlebihan, memiliki keyakinan yang berlebihan tentang dirinya, seperti fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta ideal atau pengakuan akan kecerdasan atau kepandaian. Individu narsisme memanfaatkan hubungan sosial untuk mencapai popularitas, selalu asyik dan hanya tertarik dengan hal-hal yang menyangkut kesenangan diri sendiri. individu dengan kepribadian narsis mempunyai kebutuhan untuk mendapat apresiasi dan penghargaan demi terbentuknya self-esteem.

    2. Swafoto Merupakan Salah Satu Bentuk Narsisme Digital.

swafoto menjadi simbol untuk mewujudkan eksistensi dirinya

Iri, juga sebagai bentuk pertunjukkan di depan panggung untuk menarik kesan pengakses atau pengguna lain dalam jaringan pertemanan di media sosial. Contohnya: foto dengan latar belakang wisata di luar negeri. Pengunggahan swafoto menjadi simbol bahwa pengguna sedang mewujudkan eksistensi dirinya yang tidak sekadar sebagai objek foto, tetapi ada maksud tertentu didalamnya.

3. Swafoto Juga Dapat Menandakan Bahwa Pengguna Melakukan Keterbukaan Diri (Self-Disclosure) Di Media Sosial.

Swafoto menjembatani pertumbuhan wilayah hidup seseorang karena menuntun mereka menjadi terbuka untuk membagikan foto diri kehadapan khalayak melalui akun media sosial yang dimiliki. Efek dari keterbukaan diri itu adalah interaksi dan komunikasi yang terjadi dengan pengguna lain akan semakin erat. Bahkan dalam beberapa kasus, pengunggahan swafoto menyebabkan bertambahnya jalinan pertemanan yang baru, sehingga jaringan sosial yang dimiliki semakin luas, atau dengan kata lain, wilayah hidup seseorang akan semakin lapang.

Perilaku-Perilaku di Media Sosial yang Perlu Diperhatikan:

  • Media Sosial dan Bullying atau Perundungan

           Media sosial seperti memberi kesempatan untuk ‘membully’ orang beramai-ramai. Penyebab munculnya istilah haters ( agresif secara verbal)

  • Media Sosial Trolling

Orang yang memulai dengan sengaja memposting dan menghasut sehingga memunculkan      perang komen di media sosial dan membuat orang lain emosi dan marah.

  • Perilaku Ingin Diperhatikan/Cari Perhatian  (hati-hati ketika menulis status di kala emosi).

Perilaku ingin diperhatikan melalui media sosial biasa terlihat dari story atau status seseorang di media sosial. Contohnya statusnya penuh dengan ungkapan hatinya yang sedang galau, atau meluapkan amarahnya di media sosial. Orang-orang tersebut tidak boleh disepelehkan. Melainkan harus tetap diperhatikan. Karena bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan setelah mengupload status itu. Contohnya ada satu kasus, dimana ada seorang yang mengupload status yang galau, dan keesokan harinya dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

  • Perilaku belanja

Survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2016. Pengguna internet yang paling sering adalah mengunjungi online shop.

  • Kecanduan media sosial

The Graphic, Visualization & Usability Center, The Georgia Institute of Technolgy menetapkan satu indikator untuk seseorang yang disebut kecanduan media sosial:

1. Heavy users (lebih dari 40 jam per bulan).

2. Medium users (antara 10 sampai 40 jam per bulan).

3. Light users (kurang dari 10 jam per bulan).

Ahli psikologi menggunakan istilah dalam menyebutkan kecanduan media sosial, salah satunya Young (1999) menyebutnya dengan internet addiction.

Young (1999) membagi kecanduan internet  ke dalam lima kategori, yaitu:

  1. Cybersexual addiction, yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs‐situs porno atau cybersex secara kompulsif .
  2. Cyber‐relationship addiction, yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber.
  3. Net compulsion, yaitu seseorang yang terobsesi pada situs‐situs per‐dagangan (cyber shopping) atau perjudian (cyber casino).
  4. Information overload, yaitu seseorang yang menelusuri situs‐situs informasi secara kompulsif. Fomo (fearing of missing out) atau agar tidak ketinggalan informasi.
  5. Computer addiction, yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan‐permainan online (online games) seperti misalnya Doom, Myst, Counter Strike, Ragnarok dan lain sebagainya

Menurut Suller, seseorang dinyatakan telah kecanduan suatu stimulus jika :

  • Sampai melalaikan hal‐hal penting karena stimulus tersebut.
  • Hubungan dengan orang‐orang terdekatnya terganggu karena stimulus tersebut.
  • Orang‐orang yang dekat dengannya mengeluh, terganggu, kecewa, dan merasa diabaikan karena stimulus tersebut.
  • Marah, tersinggung, dan tidak suka jika perilakunya tersebut dikritik.
  • Merahasiakan atau menutup‐nutupi perilakunya tersebut.
  • Berusaha untuk berhenti tapi tidak mampu atau tidak bisa karena seperti sudah terikat dengan hal tersebut.

NB bisa membaca
Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan. Mulawarman Mulawarman, Aldila Dyas Nurfitri 2017

One Reply to “Perilaku Media Sosial & Psikologi (A Training Resume )”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *