KONSELING KEDUKAAN 2 (A Training Resume)

ditulis oleh Diljerti Panggalo

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas Konseling Kedukaan sebagai lanjutan pertemuan minggu lalu. Minggu lalu kami belajar mengenai Konseling Pengampunan dan Konseling Kedukaan.

Cara tidak sehat dalam menghadapi kedukaan pada orang dewasa

  1. Terus menerus berada pada tahap keterkejutan (menyangkali bahwa mendiang sudah meninggal).  Di awal-awal tahap ini suatu yang wajar, tetapi kalau terus menerus maka sudah menjadi masalah, bisa menjadi depresi.
  2. Menyangkali kematian mendiang dan tidak mau mendengar apapun yang berhubungan dengan kematian itu
  3. Tidak dapat hidup mandiri, selalu membutuhkan orang lain
  4. Menolak semua pertolongan orang
  5. Terus menerus bersikap apatis (patah semangat, sikap negatif)
  6. Menyediri dan memutuskan semua kontak dengan orang
  7. Terganggu persepsinya akan realitas, seperti halusinasi atau mengalami kehadiran mendiang. Jika hanya sesekali masih termasuk normal, jika terus menerus hal itu akan menjadi masalah
  8. Aktif secara berlebihan dan memaksa diri untuk ceria
  9. Marah secara berlebihan terhadap lingkungan dan diri sendiri
  10. Mengembangkan kecemasan yang bersifat paranoid, keinginan untuk bunuh diri dan pikiran terus dikuasai oleh kematian mendiang
  11. Insomnia terus berlanjut
  12. Mimpi buruk yang bersifat agrresif dan destruktif
  13. Kesehatan dan kualitas kehidupan yang semakin menurun
  14. Makin sering merokok, minum miras atau obat penenang

Ball of Grief

Proses berduka itu unik, tidak ada yang sama.

Berdukamu tidak sama dengan orang lain. Jadwal berduka juga unik. Jangan membandingkan time table dukamu dengan orang lain. Dukacita bukan musuh kita

Perasaan-perasaan dalam berduka dan peran konselor

Peran konselor adalah membantu dan menemani orang yang mengalami kedukaan untuk mengeluarkan isi hatinya

  1. Kaget, menyangkal, tidak merasa apa-apa, tidak percaya

Perasaan-perasan ini merupakan perisai alami untuk melindungi dari dari realitas kematian orang yang dikasihi. Perasaan-perasaan ini cenderung bertambah kuat dan berlangsung lama jika kematian itu terjadi tiba-tiba. Pada dasarnya perasaan ini mempersiapkan kita untuk menghadapi kenyataan yang sukar kita terima.


Pada tahap ini, seseorang sulit mengingat hal-hal yang disampaikan orang. Pikiran tersumbat dan sulit mendengat. Reaksi-reaksi fisiologis yang mungkin muncul adalah jantung berdebar-debar, mual, sakit perut dan sakit kepala. Reaksi emosional yang mungkin diperlihatkan adlaah menangis dengan histeris, marah, tertawa, marah dan pingsan.

Peranan konselor:

Konselor seharusnya memberikan kesempatan kepada yang berduka untuk mengekspresikan semua perasaan ini. jangan melarangnnya untuk mengungkapkan semua perasaan ini. tugas utama konselor adalah mendampininya bukan memberikan petuah-petuah karena memang sukar baginya untuk berkonsentrasi dan mendengarkan kita. Yang penting ialah mengkomunikasikan suasanan yang menyejukan dan mendukung. Inilah yang dibutuhkan pada tahap ini.


Penting pada tahap ini konselor tidak mengatakan hal-hal yang ingin atau seharusnya dikatakan oleh yang berduka. Sebab inilah awal proses berduka. Hal-hal praktis lainnya yang dapat dilakukan konselor adalah menyediakan kebutuhan fisik yang berduka, seperti makanan dan suasana yang tenang. Tanyakan kepadanya siapa yang ingin dia kehendaki untuk mendampinginya pada saa ini.

2. Pikiran kalut, bingung, mencari-cari, rindu

Masa paling sulit untuk dilalui adalah masa setelah pemakaman. Pada masa inilah seseorang berhadapan dengan realita kematian itu. Acapkali muncul perasaan resah, tidak sabaran dan mudah menjadi marah. Banyak pikiran yang masuk. Sulit menyelesaikan tugas dan biasanya ada waktu-waktu tertentu (misalnya pagi atau malam hari), di mana merasa bingung. Tubuh menjadi lemah dan cepat letih; tidak tahu harus berbuat apa.


Adakalanya mulai mencari-cari mendiang karena sangat merindukannya dan ini menimbulkan rasa tertekan yang besar. Kadang, salah menafsirkan suara-suara tertentu sebagai bukti bahwa ia hidup kembali, misalnya suara pintu terbuka dan sebagainya. Pada banyak kasus, bahkan ada yang mengalami halusinasi visual-suatu pengalaman trasien yang muncul dari rasa rindu yang mendalam.

Peran konselor:

Pada tahap ini, orang berduka mungkin bertanya-tanya pakah ia sudah menjadi gila karena mengalami hal-hal yang “tidak normal”. Sebagai konselor, perlu menyakinkan bahwa semua yang dilami merupakan gejala yang wajar.
Kita pun mesti mendorongnnya dan membiarkannya menceritakan peristiwa kematian itu meskipun berulang-ulang kali. Kita harus memperlihatkan minat yang tulus untuk mendengarkannya karena jika tidak, ia akan menutup diri.
Satu-satunya cara untuk beranjak dari fase kekalutan ke tahap berikutnya adalah melalui mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Jadi biarkan dia menangis, jangan melarangnnya atau mengajaknya berdiskusi walaupun kalimatnya tidak masuk akal. Kita juga harus menceganya mengambil keputusan yang penting, seperti menjual rumah atau pindah.

3. Cemas/ takut/panik

Kematian orang yang dikasihi, tidak bisa tidak menciptakan perasaan tidak aman.pertanyaan seperti, “Apakah makna hidupku tanpa kehadirannya lagi?” akan mulai berkecamuk dalam pikiran. Inilah penyebabnya muncul kecemasan. Panik muncul tatkala diingatkan akan kehilangan yang baru dialami. Rasa takut berkembang dari pengalamatan bahwa diri mulai menjadi ‘gila’- reaksi yang baru dibahas tadi dan munculnya kekuatiran akan masa depan. Rasa takut kematian itu akan disusul oleh kematian-kematian lainnya; takut mati; sukar konsentrasi dan keletihan baik secara fisik maupun mental, menambah rasa cemas, takut dan panik.

Peran konselor:

Yang pertama adalah membantu mengekpresikan ketakutan itu sendiri. Misalnya dengan bertanya: “orang memberitahukan kepada saya bahwa kematian orang yang dikasihi menimbulkan ketakutan dalam diri mereka. Apakah andapun punya perasaan yang sama” kita juga mengkomunikasikan kepadanya bahwa perasaan takut merupakan reaksi yang wajar.

4. Gangguan fisik

Sebagaimana dibahas sebelumnya, secara jasmani juga akan terpengaruh. Seperti kehabisan nafas, lemas, perut kosong, ketegangan di leher dan dada, sensitif terhadap bunyi yang keras, jantung berdebar, sakit kepala, mual, sukar tidur atau terus tidur, tegang. Pada tahap berduka, rawan terhadap sakit penyakit yang berhubungan dengan sistem imun yang menurun. Dalam kasus tertentu bahkan ada yang mengembangkan peran sebagai “si sakit” seolah-olah menunjukkan kepada orang lain bahwa ia benar-benar sakit. Atau, ada yang mengidentifikasikan sementara, yakni menderita “ sakit” yang diderita oleh mendiang. Jadi jika mendiang meninggal karena sakit jantung, orang yang berduka tiba-tiba mengeluhkan sakit di dada.

Peran konselor:

Untuk mengurangi gangguan fisik, bantu untuk mengekpresikan perasaan dan isi hatinya secara langsung sebab perasaan yang tidak diungkapkan akan memanisfestasikan diri secara fisik. Konselor perlu menjelaskan bahwa apa yang dialaminya secara fisik merupakan bagian yang alamiah dari proses berduka

5. Emosi yang kuat-benci dan marah

Selain marah, ada beberapa perasaan lain yang mungkin dirasakan dengan sangat kuat, misalnya benci, menyalahkan, ketakutan dan cemburu. Sebenarnya dibalik semua perasaan ini tersembunyi perasaan mendasar seperti luka, tak berdaya, frustasi dan takut. Semua perasaan ini merupakan upaya orang berduka untuk menghidupkan kembali orang yang meninggal itu. Dengan kata lain, kemarahan yang keluar merupakan ungkapan protes orang berduka. Protes yang sehat sebab tanpanya, mungkin terjerumus ke dalam depresi.

Peran konselor:

pada kasus kematian yang terduga, emosi yang kuat tidak mengemuka; sebaiknya pada kasus kematian yang tiba-tiba, emosi yang kuat acap muncul. Peran konselor adalah mendorong orang yang berduka untuk mengeluarkan perasaan-perasaan tanpa harus berdebat dengannya.

Kita dapat mengimbangi perasaan yang negatif dengan yang positif jika konselor melihat bahwa ia sengaja hanya memfokuskan pada aspek negatif dari mendiang, karena sebenarnya ia ingin menghindar dari fakta kehilangan diri.

6. Rasa bersalah

Sesungguhnya rekasi menyalahkan diri merupakan upaya untuk memasikan bahwa kita telah benar-benar melakukan semua yang mampu dilakukan untuk menyelamatkan mendiang. Salah satu sumber rasa bersalah ialah pertanyaan mengapa ia harus meninggal, bukan kita. Pertanyaan ini sering muncul dalam kasus kecelakaan. Rasa bersalah lainnya ialah rasa bersalah yang muncul akibat merasakan kelegaan setelah kematian mendiang, misalnya dalam kasus seseorang yang sakit dalam kurun waktu yang lama atau seorang alkoholik yang telah banyak membawa kesusahan. Atau orang yang memang rawan terhadap rasa bersalah karena memiliki struktur kepribadian yang mengharuskannya bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi.

Sebagian lagi merasa bersalah karena gagal berada di samping orang yang meninggal pada saat ia meninggal. Ada juga orang yang merasa bersalah karena dibuat bersalah oleh orang lain, misalnya orang yang menuduh bahwa kematian tersebut karena ia  kurang dekat dengan Tuhan. ada pula yang merasa bersalah sebab ia secara diam-diam berharap bahwa orang itu mati

Peran konselor:

Penting bagi konselor, untuk duduk mendengarkan orang yang berduka mengungkapkan rasa bersalahnya, tanpa memberi penghakiman. Sebaliknya, jangan tergesa-gesa menghapus rasa bersalahnya. Ialah yang harus melakukan “penghapusan” itu, sebaiknya konselor membantunya melihat andilnya dalam kematian itu dengan tepat.

Dalam kasus di mana memang ada andilnya, kita harus mengetahuinya, apa yang harus dilakukannya untuk mendapat pengampunan, berdasarkan kepercayaannya. Ktia mesti memperhatikan pula apakah ia menghukum dirinya melalui sakit penyakit atau depresi yang berkepanjangan.

7. Kehilangan/kehampaan/kesedihan

Perasaan-perasaan ini merupakan bagian terseulit yang harus dilewati oleh orang berduka. Dampak kehilangan barulah mulai terasa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah kematian biasanya orang berduka beranggapan bahwa ia telah melalui bagian tersulit setelah pemakaman,namun kenyataannya adalah bagian tersulit itu justru datang setelah jeda yang agak lama. Ada beberapa momen khusus yang paling susah untuk dilalui, misalnya akhir pekan, hari libur, pagi hari setelah bangung, tengah malam sebelu tidur, waktu makan, takkala pulang ke rumah yang kosong, ulang tahun, hari besar. Begitu berat masa ini sehingga adakalanya pikiran untuk mengakiri hidup muncu

Peran konselor:

Kita perlu mesti sering bertemu dengan orang yang berduka secara teratur. Tujuannya untuk mengurangi rasa kesendirian dan membuatnya tetap menjalin kontak dengan orang di luar sekitranya. Kita mesti berhati-hari dan memberinya kesempatan untuk membuka diri hanya pada saat ini siap menceritakan hal-hal terdalam dan tersulit di alami. Kita juga dapat memberinya pengertian bahwa depresi yang dialami sekarang sebenarnya merupakan waktu baginya untuk beristirahat dan memulihkan dirinya.

8. Kelegaan/kelepasan

Bagi yang harus menyaksiakan penderitaan mendiang untuk kurun waktu yang lama, kematian merupakan kelepasan. Perasan ini kadang sulit untuk diutarakan karena terlihat kejam. Hal ini menimbulkan rasa bersalah. Sebenarnya, selain merasakan kelegaan karena penderitaan mendiang sekarang sudah berakhir, orang yang berduka pun lebih cepat merasa lega sebab sesungguhnya ia telah memulai proses kedukaannya jauh sebelum mendiang meninggal.

Peran konselor: Izinkan untuk mengeluarkan perasaan leganya dan menjelaskan bahwa perasaan itu adalah perasaan yang wajar. Ingatkan bahwa kelegaan tidak mengurangi perasaan kehilangan terhadap mendiang

Kematian Orang Tua

Faktor yang mempengaruhi proses kedukaan:

  1. Relasi dengan orang tua. Anak yang dekat denga orang tuanya memiliki proses kedukaan berbeda dengan anak yang tidak dekat dengan orang tuanya. Yang tidak dekat mungkin ada perasan tidak bersalah
  2. Usia orang tua ketika meninggal dan usia kita ketika pada saat itu
    Jika orang tua meninggal masih dalam usia muda, anak merasa dirampok, dicurangi. Jika orang tua meninggal dalam usia lanjut, anak kemungkinan mengambil peran sebagai perawat
  3. Keadaan orang tua saat meninggal. jika orang tua dalam keadaan sehat, anak akan berpikir, kenapa sekarang. Jika orang tua dalam keadaan sakit, seperti ada persiapan. Kemungkinan anak juga dalam keadaan lelah sebagai caregiver. Mendadak atau tidak
  4. Kematian orang tua yang pertama atau yang kedua
  5. Jika anak tunggal, maka bisa muncul perasan terisolasi

Kehilangan Tambahan Atas Kematian Orang Tua

  1. Kehilangan diri
  2. Orang tua memiliki peran unik dalam kehidupan seorang anak. Anak dibentuk dan dipengaruhi oleh orang tua. Entah sadar atau tidak perasaan-perasaan, harapan-harapan, tindakan-tindakan, nilai-nilai seorang anak dipengaruhi oleh orang tua mereka.

Jika orang tuamu seorang penyedia/pemenuh, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang memecahkan masalah, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang penasehat, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang merawat, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang memberikanmu rasa nyaman, siapa yang akan memainkan peran itu?

Peran-peran itu yang coba diperhatikan jika mendampingi orang yang berduka.

3. Orang tua juga merupakan orang yang mengetahui sejarah kehidupan seorang anak. Jika orang tua meninggal, seorang anak seperti kehilangan memori atau masa lalunya.  Jika orang tua terakhir meninggal, seorang anak merasakan diri mereka yatim piatu. Itu berarti tidak ada lagi untuk bisa pulang, baik secara fisik maupun psikologi.
4. Kehilangan kesempatan untuk memperbaiki relasi. Barangkali juga muncul penyesalan atas relasi yang ada di masa lalu dengan orang tua. Muncul perasaan duka karena tidak dapat memperbaiki relasi dengan mereka. Sering kali kematian orang tua, bukan hanya kesedihan karena meninggalnya orang tua tetapi juga duka cita karena meningalnya diri sendiri.
5. Meninggalnya orang tua juga seringkali kehilangan kasih yang tanpa syarat dan sempurna yang hanya dapat dipernuhi oleh orang tua. Anak kehilangan seseorang yang mendukung.

One Reply to “KONSELING KEDUKAAN 2 (A Training Resume)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *