Test Mengenal Diri (A Training Resume)

oleh Ria Alfrida TB

Minggu lalu membahas tentang Konseling Kedukaan bagian 3. Kali ini topik yang kami bahas dalam pertemuan Training of Existing Staff of JOY adalah terkait mengenai test kepribadian yang banyak menjadi daya tarik di JOY yaitu test MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) dan test D.I.S.C, dimana test ini juga dapat membantu kita untuk mengenal diri.

kepribadian seseorang karena setiap manusia adalah pribadi yang unik.

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) merupakan salah satu tes kepribadian untuk megetahui kecenderungan kita bukan perilaku.Nah,pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah “apakah hasilnya bisa berubah?  “jawabannya adalah bisa” kenapa? karena test ini mengukur kecenderungan seseorang, bukan perilaku yang menetap. Kecenderungan bukan berarti kita tidak bisa melakukan kebiasaan yang lain namun mungkin akan sedikit sulit untuk dilakukan karena kita akan memulai sesuatu yang baru atau jarang  dilakukan.

Ketika mengisi kuesioner jangan merasa ada jawaban yang benar atau salah melainkan jawaban yang  dipilih adalah kecenderungan dari kepribadian seseorang karena setiap manusia adalah pribadi yang unik.

Berikut adalah penjelasan singkat mengenai hasil test MBTI

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai hasil test MBTI yaitu pernyataan yang tidak tepat yang menganggap bahwa ekstrovert adalah orang yang ramai sedangkan introvert berarti pemalu. Ekstrovert dan Introvert merupakan cara seseorang mendapatkan energi lewat kesendirian atau bertemu orang.

Pernyataan yang sulit dijelaskan dari hasil test MBTI adalah tentang Sensing dan Intuisi. Sensing dan Intuisi adalah bagaimana mendapat informasi. Biasanya orang Intuisi lebih sedikit dibandingkan orang sensing.

Hasil tes DISC

kita perlu mengenali apa yang menjadi kelebihan ataupun kekurangan kita agar kita bisa terus belajar dan menggali kemampuan diri kita masing-masing.

Masing-masing dari hasil test tersebut (M.B.T.I dan D.I.S.C) memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi jangan merasa bawa orang yang mendapatkan hasil A dan hasil B lebih baik dari yang mendapat hasil C dan sebaliknya. Setiap kita terlahir dengan keunikan masing-masing jadi setiap kita perlu mengenali apa yang menjadi kelebihan ataupun kekurangan kita agar kita bisa terus belajar dan menggali kemampuan diri kita masing-masing.

KONSELING KEDUKAAN 3 (A Training Resume)

ditulis oleh Oya Citra

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas Konseling Kedukaan bagian 3 sebagai lanjutan pertemuan beberapa hari lalu. Beberapa hari yang lalu kami belajar terkait dengan Konseling Kedukaan bagian 2.

Hal Yang Berkaitan Dengan Kematian Orang Tua :

  1. Membangun ulang atau merubah struktur keluarga. Dalam keluarga ada sebuah struktur, kematian orang tua, benar-benar akan mengobrak-abrik keseimbangan keluarga. Misalnya keputusan selalu ditangan ayah atau ibu yang memegang peranan dalam sebuah keluarga.
  2. Berhadapan dengan keputusan-keputusan penting. Misalnya berkaitan dengan warisan.
  3. Sibling rivalry. Setiap anak memiliki memori dan pengalaman yang berbeda dengan orang tua mereka. Ketika orang tua meninggal relasi dengan saudara menjadi suatu yang penting. Sibling rivaly dari masa lalu dapat muncul kembali, misalnya berkaitan dengan warisan. Relasi antar saudara dapat bertambah kuat setelah orang tua mereka, atau semain goyah, apalagi jika tidak ada lagi orang tua yang menyatukan mereka.

Parent Loss- Seorang Perempuan Kehilangan Ibunya & Seorang Laki-Laki Kehilangan Ayahnya

  1. Seorang Perempuan Kehilangan Ibunya
    a. Jika relasi seorang anak perempuan dan ibunya kurang memiliki relasi yang baik di masa lalu, kematian ibunya membuat kesempatan untuk memiliki relasi yang lebih baik itu hilang. Barangkali seorang anak perempuan memiliki daftar pertanyaan kepada ibunya tetapi semua kesempatan itu hilang.
    b. Seorang ibu sering kali menjadi seperti lem yang menyatukan keluarga yang (rapuh). Meninggalnya ibu sering kali berdampak pada sebuah keluarga. Keluarga terbagi menjadi BMD (before mom’s death) dan AMD (after mom’s death).
  2. Seorang Laki-Laki Kehilangan Ayahnya
    a. Kematian seorang ayah berdampak pada seorang anak laki-laki. Banyak orang mengatakan kepada mereka: ‘kamu mirip seperti ayahmu,  kamu cerminan ayahmu.” Banyak anak laki-laki mengidentifikasikan diri mereka ke ayah mereka, kematian ayah mereka membuat diri mereka seakan hilang.
    b. Ada hal positif juga dari kematian ayah yaitu dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, motivasi pada seorang anak laki-laki.

Pergumulan Teologis

Tiga pertanyaan yang sering muncul dalam masa berduka:

  1. Mengapa Tuhan, mengapa? Mengapa ini terjadi, mengapa harus … dan sebagainya. Dalam alkitab Ayub pun menanyakan pertanyaan mengapa kepada Tuhan, bahkan sebanyak 16x.
  2. Kapan Tuhan, kapan? Kapan semua ini akan berakhir,, dan sebagainya.
  3. Apakah aku akan bertahan?

Seringkali kita tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kita tidak punya jawaban lengkap dan memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kematian adalah sebuah misteri yang terselubung buat kita. Yang dapat kita katakan adalah setiap kematian adalah kehendak Tuhan. Kita perlu iman Habakuk dan Sadrakh, Mesakh, Abednego.

Tuhan memanggil anaknya pulang, pada waktunya untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan, untuk menggenapi rencana Tuhan. Bukan atas kemauan atau pengetahun kita.

Salah satu tugas pendampingan adalah membantu untuk melihat dari sisi rencana Tuhan.

Tapi tidak terburu-buru. Bahannya kita tidak tahu, muncul dalam proses pendampingan, kita memerlukan hikmat Tuhan. Tidak dapat ditemukan dalam 1-2 minggu, bisa muncul dalam berbulan-bulan kemudian. Orang yang tidak menemukan itu biasanya tidak bisa membangun ulang kehidupannya

.Dalam Konseling Kita Dapat Menyarankan Untuk Beberapa Hal Praktis di Bawah Ini :

  1. Menulis jurnal dan atau surat kepada mendiang
    Menulis jurnal atau juga menulis surat dapat digunakan untuk menumpahkan sekaligus memproses isi hati dan membacakannya di depan kita. Kemudian kita membalasnya sebagai mendiang. Kemudian surat dapat dibacakan.
  2. Kebaktian penghiburan
    Hal itu berfungsi sebagai sarana untuk mengumpulan memori sekaligus membantu untuk menghadapi realitas kematian.
  3. Barang-barang peninggalan mendiang
    Saran yang diberikan jangan langsung menyingkirkan barang-barang kepunyaanya. Ambilah keputusan setelah sungguh-sungguh siap dan dapat berpikir dengan jernih. Lakukanlah secara bertahap. Misalnya untuk tahap pertama, pindahkan barang-barang itu dari tempat yang mudah dilihat ke tempat yang tidak mudah dilihat dan simpanlah di sana. Setelah itu barulah kita mulai bisa menyingkirkan barang-barang yang tidak mempunyai makna emosional dan ini dilakukan bertahap juga. Pada saat tertentu kembalilah ke tempat penyimpanan itu dan lihatlah apakah ada yang dapat disingkirkan lagi.
  4. Liburan
    Berlibur bukan berarti menghindari kenyataan, melainkan memberikan waktu untuk menyendiri dan merenung.
  5. Bangun ulang penghargaan diri
    Ketika mendiang pergi, orang yang ditinggal sering merasa kehilangan harga diri, misal kehilangan pasangan.
  6. Hiduplah jujur dengan diri sendiri
    Percaya pada perasaan diri dan jangan sungkan untuk menolak permintaan orang.
  7. Hadapi “kali pertama”
    Setelah meninggalnya mendiang, ada banyak “kali pertama” misalnya, ulang tahun pertama tanpa mendiang, ke gereja pertama tanpa mendiang.
  8. Janji dan pengharapan
    Kadang kali sebelum mendiang meninggal kita telah membuat janji tertentu. Jangan terikat dengan janji itu, silahkan evaluasi ulang, janji mana yang harus kita penuhi. Bagaimana menolong supaya tidak merasa bersalah.

    Apa yang tidak boleh/tidak tepat untuk dikatakan

    1. God Cliches (kata-kata klise tentang Tuhan)
    Misal: ini sudah kehendak Tuhan, hal ini akan membuat imanmu kuat, Tuhan lebih memutuhkan dia dari pada kamu, Tuhan lebih mengasihimu dari pada kamu, Tuhan punya alasan untuk hal ini, Tuhan tidak memberikan cobaan lebih dari kekuatan kita, sungguh berkat meninggal di usia muda.

    2. Ekspetasi yang tidak sehat membuat positif tetapi tidak pas
    Misal: bersyukurlah kamu masih punya anak yang lain, paling tidak kamu beruntung, kamu harus tetap membuat dirimu ssbuk, kamu harus fokus pada kenangan-kenangan yang indah saja, kamu harus kuat untuk pasanganmu (atau anakmu), setidaknya kamu beruntung, kamu harus segera mengakhirinya.

    3. Pengabaian
    Misalnya: sudah tidak usah dibicarakan, bukan kamu satu-satunya yang menderita, dia meninggal karena…, ini memang waktunya dia pergi, sesuatu yang baik muncul dari tragedi.

    4. Ketidakpekaan
    Misal: aku tahu perasaanmu, orangtua ku juga meninggal tahun lalu. Waktu akan menyembuhkan luka. Dia sudah cukup menjalani hidup, bilang saja jika ada sesuatu yang dapat saya lakukan, ini akan lebih buruk jika…,

    5. Cerita lucu.
    Berusaha menghibur dengan cerita lucu dengan maksud untuk menghibur.

    6. Cerita “gentayang” bilang melihat mendiang.

    7. Sikap melayat yang tidak menyenangkan. Misal tidak boleh nangis, “nangis karena adat”.

    Kalimat-Kalimat yang Menolong

Misal:
1. Aku akan berdoa untukmu,
2. Kamu tidak sendirian aku ada untukmu,
3. Aku tahu ini pasti seperti mimpi,
4. Katakan perasanmu padaku,
5. Aku akan berikan apapun untukmu untuk membuatmu lebih baik, tetapi aku tidak tahu caranya.
6. Kebanyakan orang yang kehilangan akan bereaksi sepertimu,
7. Critakan tentang mendiang dan bagaimana hidupmu dengannya.
8. Dapatkah aku duduk denganmu?
9. Apakah ada yang ingin kamu hubungi? Saya akan hubungimu nanti,
10. Jika kamu butuh sesuatu, telpon saja aku.

KONSELING KEDUKAAN 2 (A Training Resume)

ditulis oleh Diljerti Panggalo

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas Konseling Kedukaan sebagai lanjutan pertemuan minggu lalu. Minggu lalu kami belajar mengenai Konseling Pengampunan dan Konseling Kedukaan.

Cara tidak sehat dalam menghadapi kedukaan pada orang dewasa

  1. Terus menerus berada pada tahap keterkejutan (menyangkali bahwa mendiang sudah meninggal).  Di awal-awal tahap ini suatu yang wajar, tetapi kalau terus menerus maka sudah menjadi masalah, bisa menjadi depresi.
  2. Menyangkali kematian mendiang dan tidak mau mendengar apapun yang berhubungan dengan kematian itu
  3. Tidak dapat hidup mandiri, selalu membutuhkan orang lain
  4. Menolak semua pertolongan orang
  5. Terus menerus bersikap apatis (patah semangat, sikap negatif)
  6. Menyediri dan memutuskan semua kontak dengan orang
  7. Terganggu persepsinya akan realitas, seperti halusinasi atau mengalami kehadiran mendiang. Jika hanya sesekali masih termasuk normal, jika terus menerus hal itu akan menjadi masalah
  8. Aktif secara berlebihan dan memaksa diri untuk ceria
  9. Marah secara berlebihan terhadap lingkungan dan diri sendiri
  10. Mengembangkan kecemasan yang bersifat paranoid, keinginan untuk bunuh diri dan pikiran terus dikuasai oleh kematian mendiang
  11. Insomnia terus berlanjut
  12. Mimpi buruk yang bersifat agrresif dan destruktif
  13. Kesehatan dan kualitas kehidupan yang semakin menurun
  14. Makin sering merokok, minum miras atau obat penenang

Ball of Grief

Proses berduka itu unik, tidak ada yang sama.

Berdukamu tidak sama dengan orang lain. Jadwal berduka juga unik. Jangan membandingkan time table dukamu dengan orang lain. Dukacita bukan musuh kita

Perasaan-perasaan dalam berduka dan peran konselor

Peran konselor adalah membantu dan menemani orang yang mengalami kedukaan untuk mengeluarkan isi hatinya

  1. Kaget, menyangkal, tidak merasa apa-apa, tidak percaya

Perasaan-perasan ini merupakan perisai alami untuk melindungi dari dari realitas kematian orang yang dikasihi. Perasaan-perasaan ini cenderung bertambah kuat dan berlangsung lama jika kematian itu terjadi tiba-tiba. Pada dasarnya perasaan ini mempersiapkan kita untuk menghadapi kenyataan yang sukar kita terima.


Pada tahap ini, seseorang sulit mengingat hal-hal yang disampaikan orang. Pikiran tersumbat dan sulit mendengat. Reaksi-reaksi fisiologis yang mungkin muncul adalah jantung berdebar-debar, mual, sakit perut dan sakit kepala. Reaksi emosional yang mungkin diperlihatkan adlaah menangis dengan histeris, marah, tertawa, marah dan pingsan.

Peranan konselor:

Konselor seharusnya memberikan kesempatan kepada yang berduka untuk mengekspresikan semua perasaan ini. jangan melarangnnya untuk mengungkapkan semua perasaan ini. tugas utama konselor adalah mendampininya bukan memberikan petuah-petuah karena memang sukar baginya untuk berkonsentrasi dan mendengarkan kita. Yang penting ialah mengkomunikasikan suasanan yang menyejukan dan mendukung. Inilah yang dibutuhkan pada tahap ini.


Penting pada tahap ini konselor tidak mengatakan hal-hal yang ingin atau seharusnya dikatakan oleh yang berduka. Sebab inilah awal proses berduka. Hal-hal praktis lainnya yang dapat dilakukan konselor adalah menyediakan kebutuhan fisik yang berduka, seperti makanan dan suasana yang tenang. Tanyakan kepadanya siapa yang ingin dia kehendaki untuk mendampinginya pada saa ini.

2. Pikiran kalut, bingung, mencari-cari, rindu

Masa paling sulit untuk dilalui adalah masa setelah pemakaman. Pada masa inilah seseorang berhadapan dengan realita kematian itu. Acapkali muncul perasaan resah, tidak sabaran dan mudah menjadi marah. Banyak pikiran yang masuk. Sulit menyelesaikan tugas dan biasanya ada waktu-waktu tertentu (misalnya pagi atau malam hari), di mana merasa bingung. Tubuh menjadi lemah dan cepat letih; tidak tahu harus berbuat apa.


Adakalanya mulai mencari-cari mendiang karena sangat merindukannya dan ini menimbulkan rasa tertekan yang besar. Kadang, salah menafsirkan suara-suara tertentu sebagai bukti bahwa ia hidup kembali, misalnya suara pintu terbuka dan sebagainya. Pada banyak kasus, bahkan ada yang mengalami halusinasi visual-suatu pengalaman trasien yang muncul dari rasa rindu yang mendalam.

Peran konselor:

Pada tahap ini, orang berduka mungkin bertanya-tanya pakah ia sudah menjadi gila karena mengalami hal-hal yang “tidak normal”. Sebagai konselor, perlu menyakinkan bahwa semua yang dilami merupakan gejala yang wajar.
Kita pun mesti mendorongnnya dan membiarkannya menceritakan peristiwa kematian itu meskipun berulang-ulang kali. Kita harus memperlihatkan minat yang tulus untuk mendengarkannya karena jika tidak, ia akan menutup diri.
Satu-satunya cara untuk beranjak dari fase kekalutan ke tahap berikutnya adalah melalui mengungkapkan perasaan dan isi hatinya. Jadi biarkan dia menangis, jangan melarangnnya atau mengajaknya berdiskusi walaupun kalimatnya tidak masuk akal. Kita juga harus menceganya mengambil keputusan yang penting, seperti menjual rumah atau pindah.

3. Cemas/ takut/panik

Kematian orang yang dikasihi, tidak bisa tidak menciptakan perasaan tidak aman.pertanyaan seperti, “Apakah makna hidupku tanpa kehadirannya lagi?” akan mulai berkecamuk dalam pikiran. Inilah penyebabnya muncul kecemasan. Panik muncul tatkala diingatkan akan kehilangan yang baru dialami. Rasa takut berkembang dari pengalamatan bahwa diri mulai menjadi ‘gila’- reaksi yang baru dibahas tadi dan munculnya kekuatiran akan masa depan. Rasa takut kematian itu akan disusul oleh kematian-kematian lainnya; takut mati; sukar konsentrasi dan keletihan baik secara fisik maupun mental, menambah rasa cemas, takut dan panik.

Peran konselor:

Yang pertama adalah membantu mengekpresikan ketakutan itu sendiri. Misalnya dengan bertanya: “orang memberitahukan kepada saya bahwa kematian orang yang dikasihi menimbulkan ketakutan dalam diri mereka. Apakah andapun punya perasaan yang sama” kita juga mengkomunikasikan kepadanya bahwa perasaan takut merupakan reaksi yang wajar.

4. Gangguan fisik

Sebagaimana dibahas sebelumnya, secara jasmani juga akan terpengaruh. Seperti kehabisan nafas, lemas, perut kosong, ketegangan di leher dan dada, sensitif terhadap bunyi yang keras, jantung berdebar, sakit kepala, mual, sukar tidur atau terus tidur, tegang. Pada tahap berduka, rawan terhadap sakit penyakit yang berhubungan dengan sistem imun yang menurun. Dalam kasus tertentu bahkan ada yang mengembangkan peran sebagai “si sakit” seolah-olah menunjukkan kepada orang lain bahwa ia benar-benar sakit. Atau, ada yang mengidentifikasikan sementara, yakni menderita “ sakit” yang diderita oleh mendiang. Jadi jika mendiang meninggal karena sakit jantung, orang yang berduka tiba-tiba mengeluhkan sakit di dada.

Peran konselor:

Untuk mengurangi gangguan fisik, bantu untuk mengekpresikan perasaan dan isi hatinya secara langsung sebab perasaan yang tidak diungkapkan akan memanisfestasikan diri secara fisik. Konselor perlu menjelaskan bahwa apa yang dialaminya secara fisik merupakan bagian yang alamiah dari proses berduka

5. Emosi yang kuat-benci dan marah

Selain marah, ada beberapa perasaan lain yang mungkin dirasakan dengan sangat kuat, misalnya benci, menyalahkan, ketakutan dan cemburu. Sebenarnya dibalik semua perasaan ini tersembunyi perasaan mendasar seperti luka, tak berdaya, frustasi dan takut. Semua perasaan ini merupakan upaya orang berduka untuk menghidupkan kembali orang yang meninggal itu. Dengan kata lain, kemarahan yang keluar merupakan ungkapan protes orang berduka. Protes yang sehat sebab tanpanya, mungkin terjerumus ke dalam depresi.

Peran konselor:

pada kasus kematian yang terduga, emosi yang kuat tidak mengemuka; sebaiknya pada kasus kematian yang tiba-tiba, emosi yang kuat acap muncul. Peran konselor adalah mendorong orang yang berduka untuk mengeluarkan perasaan-perasaan tanpa harus berdebat dengannya.

Kita dapat mengimbangi perasaan yang negatif dengan yang positif jika konselor melihat bahwa ia sengaja hanya memfokuskan pada aspek negatif dari mendiang, karena sebenarnya ia ingin menghindar dari fakta kehilangan diri.

6. Rasa bersalah

Sesungguhnya rekasi menyalahkan diri merupakan upaya untuk memasikan bahwa kita telah benar-benar melakukan semua yang mampu dilakukan untuk menyelamatkan mendiang. Salah satu sumber rasa bersalah ialah pertanyaan mengapa ia harus meninggal, bukan kita. Pertanyaan ini sering muncul dalam kasus kecelakaan. Rasa bersalah lainnya ialah rasa bersalah yang muncul akibat merasakan kelegaan setelah kematian mendiang, misalnya dalam kasus seseorang yang sakit dalam kurun waktu yang lama atau seorang alkoholik yang telah banyak membawa kesusahan. Atau orang yang memang rawan terhadap rasa bersalah karena memiliki struktur kepribadian yang mengharuskannya bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi.

Sebagian lagi merasa bersalah karena gagal berada di samping orang yang meninggal pada saat ia meninggal. Ada juga orang yang merasa bersalah karena dibuat bersalah oleh orang lain, misalnya orang yang menuduh bahwa kematian tersebut karena ia  kurang dekat dengan Tuhan. ada pula yang merasa bersalah sebab ia secara diam-diam berharap bahwa orang itu mati

Peran konselor:

Penting bagi konselor, untuk duduk mendengarkan orang yang berduka mengungkapkan rasa bersalahnya, tanpa memberi penghakiman. Sebaliknya, jangan tergesa-gesa menghapus rasa bersalahnya. Ialah yang harus melakukan “penghapusan” itu, sebaiknya konselor membantunya melihat andilnya dalam kematian itu dengan tepat.

Dalam kasus di mana memang ada andilnya, kita harus mengetahuinya, apa yang harus dilakukannya untuk mendapat pengampunan, berdasarkan kepercayaannya. Ktia mesti memperhatikan pula apakah ia menghukum dirinya melalui sakit penyakit atau depresi yang berkepanjangan.

7. Kehilangan/kehampaan/kesedihan

Perasaan-perasaan ini merupakan bagian terseulit yang harus dilewati oleh orang berduka. Dampak kehilangan barulah mulai terasa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah kematian biasanya orang berduka beranggapan bahwa ia telah melalui bagian tersulit setelah pemakaman,namun kenyataannya adalah bagian tersulit itu justru datang setelah jeda yang agak lama. Ada beberapa momen khusus yang paling susah untuk dilalui, misalnya akhir pekan, hari libur, pagi hari setelah bangung, tengah malam sebelu tidur, waktu makan, takkala pulang ke rumah yang kosong, ulang tahun, hari besar. Begitu berat masa ini sehingga adakalanya pikiran untuk mengakiri hidup muncu

Peran konselor:

Kita perlu mesti sering bertemu dengan orang yang berduka secara teratur. Tujuannya untuk mengurangi rasa kesendirian dan membuatnya tetap menjalin kontak dengan orang di luar sekitranya. Kita mesti berhati-hari dan memberinya kesempatan untuk membuka diri hanya pada saat ini siap menceritakan hal-hal terdalam dan tersulit di alami. Kita juga dapat memberinya pengertian bahwa depresi yang dialami sekarang sebenarnya merupakan waktu baginya untuk beristirahat dan memulihkan dirinya.

8. Kelegaan/kelepasan

Bagi yang harus menyaksiakan penderitaan mendiang untuk kurun waktu yang lama, kematian merupakan kelepasan. Perasan ini kadang sulit untuk diutarakan karena terlihat kejam. Hal ini menimbulkan rasa bersalah. Sebenarnya, selain merasakan kelegaan karena penderitaan mendiang sekarang sudah berakhir, orang yang berduka pun lebih cepat merasa lega sebab sesungguhnya ia telah memulai proses kedukaannya jauh sebelum mendiang meninggal.

Peran konselor: Izinkan untuk mengeluarkan perasaan leganya dan menjelaskan bahwa perasaan itu adalah perasaan yang wajar. Ingatkan bahwa kelegaan tidak mengurangi perasaan kehilangan terhadap mendiang

Kematian Orang Tua

Faktor yang mempengaruhi proses kedukaan:

  1. Relasi dengan orang tua. Anak yang dekat denga orang tuanya memiliki proses kedukaan berbeda dengan anak yang tidak dekat dengan orang tuanya. Yang tidak dekat mungkin ada perasan tidak bersalah
  2. Usia orang tua ketika meninggal dan usia kita ketika pada saat itu
    Jika orang tua meninggal masih dalam usia muda, anak merasa dirampok, dicurangi. Jika orang tua meninggal dalam usia lanjut, anak kemungkinan mengambil peran sebagai perawat
  3. Keadaan orang tua saat meninggal. jika orang tua dalam keadaan sehat, anak akan berpikir, kenapa sekarang. Jika orang tua dalam keadaan sakit, seperti ada persiapan. Kemungkinan anak juga dalam keadaan lelah sebagai caregiver. Mendadak atau tidak
  4. Kematian orang tua yang pertama atau yang kedua
  5. Jika anak tunggal, maka bisa muncul perasan terisolasi

Kehilangan Tambahan Atas Kematian Orang Tua

  1. Kehilangan diri
  2. Orang tua memiliki peran unik dalam kehidupan seorang anak. Anak dibentuk dan dipengaruhi oleh orang tua. Entah sadar atau tidak perasaan-perasaan, harapan-harapan, tindakan-tindakan, nilai-nilai seorang anak dipengaruhi oleh orang tua mereka.

Jika orang tuamu seorang penyedia/pemenuh, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang memecahkan masalah, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang penasehat, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang merawat, siapa yang akan memainkan peran itu?

Jika orang tuamu adalah seorang yang memberikanmu rasa nyaman, siapa yang akan memainkan peran itu?

Peran-peran itu yang coba diperhatikan jika mendampingi orang yang berduka.

3. Orang tua juga merupakan orang yang mengetahui sejarah kehidupan seorang anak. Jika orang tua meninggal, seorang anak seperti kehilangan memori atau masa lalunya.  Jika orang tua terakhir meninggal, seorang anak merasakan diri mereka yatim piatu. Itu berarti tidak ada lagi untuk bisa pulang, baik secara fisik maupun psikologi.
4. Kehilangan kesempatan untuk memperbaiki relasi. Barangkali juga muncul penyesalan atas relasi yang ada di masa lalu dengan orang tua. Muncul perasaan duka karena tidak dapat memperbaiki relasi dengan mereka. Sering kali kematian orang tua, bukan hanya kesedihan karena meninggalnya orang tua tetapi juga duka cita karena meningalnya diri sendiri.
5. Meninggalnya orang tua juga seringkali kehilangan kasih yang tanpa syarat dan sempurna yang hanya dapat dipernuhi oleh orang tua. Anak kehilangan seseorang yang mendukung.

KONSELING PENGAMPUNAN & KONSELING KEDUKAAN (A Training Resume)

ditulis oleh Gloria PM

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas Konseling Pangempuanan dan Konseling Kedukaan. Setelah minggu lalu kami belajar dan membahas Kasus Khusus yang pernah ada.

KONSELING PENGAMPUNAN

Pengampunan adalah sebuah perjalanan

Konseling pengapunan adalah konseling yang bertujuan menolong seseorang yang membutuhkan sikap mengampuni, seperti mengampuni orang yang telah menyakiti hatinya.

Sebagai seorang Kristen, kita tahu bahwa kita harus mengampuni, tetapi kenyataanya kita tidak bisa menutup mata bahwa pengampunan adalah sebuah proses perjalanan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita akan bisa langsung untuk mengampuni seseorang.

Ada beberapa orang yang datang kepada konselor dengan rasa bersalah karena tidak bisa mengampuni. Sebagai konselor kita harus memberikan satu jaminan bahwa tidak masalah apabila belum bisa mengampuni.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menolong seseorang untuk mengampuni sebagai berikut : (dengan catatan, langkah-langkah ini tidak boleh diacak dan harus sesuai urutannya)

  1. Jelaskan kepada mereka bahwa kita akan melakukan perjalanan pengampunan, dan membantu mereka untuk mengeluarkan semua emosi perasaaan yang dirasakan saat itu.
  2. Menyadari Luka (mengingat kejadian-kejadian yang telah terjadi)
  3. Mengidentifikasi emosi-emosi yang terlibat. Membantu mereka untuk mendengarkan perasaan.
  4. Membantu mereka untuk mengekspresikan luka dan emosinya.
  5. Membangun Set Boundaries (ada yang memerlukan membangun ulang, ada juga yang tidak perlu)
    Pastikan 5 Langkah d=sudah selesai sebelum melanjutkan ke langkah 6. Jika belum selesai, ulangi lagi lankah 1-5.
  6. “Berdiri di Kakinya” (orang yang mau kita ampuni)
  7. Waktunya untuk mengampuni, dengan cara berdoa kepada Tuhan untuk melepaskan pengampunan. (jika konseli belum mengampuni maka kembali lagi ke langkah 1-6)
  8. Mempertimbangkan kemungkinan adanya rekonsiliasi, dengan catatan rekonsiliasi ini tidak mesti terjadi. Jika mengiginkan adanya rekonsiliasi maka perlu mempertimbangkan kesiapan kedua bela pihak. Rekonsiliasi yang belum siap dapat membahayakan relasi dan dapat memunculkan trauma.

Adapun langkah-langkah diatas dapat memberikan kita satu kesimpulan bahwa, pengampunan adalah sebuah perjalanan yang panjang, dan seseorang tidak perlu terburu-buru atau terpaksa mengampuni ketika dirinya masih belum siap.

KONSELING KEDUKAAN

Definisi:

  1. Kehilangan (Bereavement) adalah suatu keadaan yang timbul akibat kehilangan, seperti kematian.
  2. Duka (Grief) bukanlah perasaan atau emosi tertentu melainkan kumpulan beragam pikiran, perasaan dan perilaku.
  3. Meratap (Mourning) merupakan ekspresi luar dari duka dan kehilangan atau dengan kata lain duka yang diekspresikan secara terbuka

Ada 2 Jenis Kehilangan yaitu:

  1. Kehilangan-Kematian
  2. Kehilangan aspek tertentu dalam diri. Misalnya kehilangan anggota tubuh, kesehatan atau pekerjaan.

Kematian seseorang yang dikasihi merupakan sebuah bentuk kehilangan relasi yang paling intens, dengan arti lain berakhirnya kesempatan untuk berhubungan, berbicara, berbagi pengalaman, bercinta, menyentuh, berdamai, berkelahi, dan bersama seseorang baik secara emosional maupun jasmaniah.

10 Faktor yang mempengaruhi keduakaan

Orang melewati kedukaan dengan cara yang berbeda-beda. Semua respon kedukaan tergantung pada faktor-faktor di bawah ini;

  1. Relasi dengan mendiang) orang yang telah meninggal)

Contonya: apabila seserang memiliki konfilk dengan mendiang yang belum selesai, maka ada kemungkinan hal ini dapat menambah komplikasi dalam proses kedukaan. Jadi ada sebuah relasi yang ambivalen, dimana kedukaan dapat merambah keluar menjadi sesuatu yang tidak wajar dan berwarna. Misalnya : Perasaaan diwarnai dengan kebencian kepada mendiang (jadi suatu perasaan yang membingungkan sedih dan benci)

2. Tentang mendiang sendiri.

Contohnya : Apabilah seseorang yang telah meninggal memiliki sikap buruk, maka kematiannya akan dihadapi dengan perasaan bercampur. Disatu sisi orang yang ditinggalkan sedih tetapi disisi lain merasa lega, sehingga muncul perasaan bersalah karena adanya perasaan lega itu.

3. Berapa kuatnya dukungan yang diterima dari lingkungan.

Semakin kuat dukungan yang diberikan maka semakin mudah melewati masa kedukaan. Disarankan paling sedikit 1 bulan sekali dalam setahun untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang sedang berduka.

4. Penghargaan diri, Nilai-nilai hidup, dan cara seseorang menghadapi kehilangan.

Contohnya: Seseorang yang memiliki penghargaan diri rendah, yang membuat dirinya bergantung pada mendiang, kehilangan ini sangat menghancurkan. Nilai-nilai hidup, misalnya : nilai-nilai rohani (orang yang percaya Yesus akan mendapat hidup yang kekal) ini akan membatu seseorang menghadapi kedukaan.

5. Tentang kematiannya.

Contohnya: Usia seseorang saat meninggal, apakah kematiannya dapat dicegah atau tidak. (semakin mendadak suatu kematian, proses kedukaan semakin lama dan semakin akut.

6. Latar belakang budaya/religi dari seseorang yang berduka.

Contohnya : Ada budaya yang berpikir bahwa kematian sudah kehendak Tuhan, atau ada juga budaya yang kematian harus segera dikubur langsung.

7. Kehilangan atau masalah lain yang timbul akibat kematian.

Contohnya : Kesulitan Finansial, Tanggung jawab keluarga, dan kehilangan pergaulan

Semakin drastis perubahan setelah kehilangan akan semakin sulit dan biasanya ada kasus yang berkembang menjadi depresi.

8. Pengalaman sebelumnya, menghadapi kematian.

Contohnya: pengalaman seseorang yang telah kehilangan salah satu dari orang tua, biasanya akan lebih protektif kepada orang tua yang masih ada, hal ini bisa jadi dikarenakan oleh trauma kehilangan sebelumnya.

9. Pemakaman.

Proses pemakaman mempengaruhi secara psikologis, beberapa orang yang merasakan manfaat kalau melihat pemakaman orang yang dikasihi atau jasad orang yang dikasihi sebelum dikuburkan. Pemakaman diibaratkan sebagai ucapan perpisahan.

10. Tipe kepribadian dan jenis kelamin.

Perbedaan kepribadian akan mempengaruhi proses kedukaan, misalnya orang yang cenderung feeling akan hanyut dalam perasaan sedih, sedangkan orang yang lebuh thinking akan bernalar tentang penyebab kematian itu.

Mengenai perbedaan jenis kelamin, beberapa budaya mengizinkan perempuan untuk meratapi kematian dibandingkan dengan laik-laki.

Adapun manifestasi kedukaan secara fisik, yaitu:

  1. Menangis
  2. Dada terasa sesak
  3. Tidak nafsu makan
  4. Mimpi buruk
  5. Insomnia

Adapun manifestasi kedukaan secara perasaan dan pikiran, yaitu:

  1. Sedih
  2. Cemas
  3. Hanyut dalam diri sendiri
  4. Kehilangan minat pada kegiatan sehari-hari
  5. Sukar konsentrasi
  6. Melamun

Proses Kedukaan.

Ada 3 alasan yang membuat kita berduka, yaitu:

  1. Kehilangan pasangan/orang yang dikasihi
  2. Kehilangan kendali
    Kehilangan seseorang, membuat kita meraka kehilangan kendali atas kehidupan ini, kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun kita sadar bahwa Tuhan yang mempunyai kendali dan kontrol atas kehidupan manusia, tetapi tetap saja kita merasa kehilangan kontrol.
  3. Kecewa kepada Tuhan

Tanpa sadar, ketika kehilangan seseorang, kita kecewa kepada Tuhan dan merasa Tuhan itu tidak adil. Seolah-olah kita kehilangan pengharapan dan jaminan janji pemenuhan dari Allah.

Hambatan dalam berduka, yaitu:

  1. Ketidaksediaan untuk membiarkan diri berduka
  2. Ketidakmampuan untuk berduka, karena terbiasa menekan perasaanya. Perasaanya tumpul atau sudah terlalu sering berduka.
  3. Kehilangan yang berturut-turut, sehingga menjadi kebal
  4. Situasi yang tidak mengizinkan karena harus melanjutkan hidup dengan segera.
  5. Tidak tahu dengan pasti apakah orang itu sudah meninggal atau belum. Misalnya : belum melihat jenazahnya atau tidak mendapatkan informasi yang pasti.
  6. Sikap Ambivalen terhadap mendiang yakni membencinya tapi juga merasa kehilangan.
  7. Tuntutan religius atau sosial budaya yang mengharuskan kita tabah.

Adapun hal-hal yang telah dijabarkan diatas ini, dapat memberikan kita pengertian dan dan dapat membantu kita dalam untuk memberikan dukungan kepada seseorang yang mengalami kedukaan

KASUS KHUSUS (A Training Resume)

ditulis oleh Ria Alfrida TB

Beberapa hari lalu dalam training of existing staff of JOY kami belajar mengenai Perilaku Media Sosial & Psikologi. Kali ini topik yang kami bahas dalam Training of Existing Staff of JOY adalah Pendampingan dalam Kasus Khusus yang akan sering dijumpai dalam melayani teman-teman mahasiswa(i).

Beberapa point penting yang kami bahas adalah terkait pendampingan dalam study (secara umum dan dalam pergumulan tugas akhir), pendampingan dalam penyelesaian konflik (sesama JOYers maupun di luar komunitas), pendampingan dalam kecanduan (merokok maupun seksual), dan pendampingan okultisme.

a. Study : Yang menjadi hambatan dalam pendampingan adalah Joyers menolak untuk dibantu dan tidak ada niat untuk memperbaiki study. Sesuatu yang dilakukan tidak dari hati akan lebih sulit untuk dilakukan.Langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh coach dalam pendampingan adalah:

  1. Mengajak bertemu (2 kali seminggu atau sekali sebulan)
  2. Mendata acaman yang menjadi hambatan dalam study dan buat langkah untuk mengatasi ancaman
  3. Buat daftar tugas kuliah dan deadline pengumpulannya
  4. Buat target dan langkah konkret yang tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan
  5. Evaluasi diri sendiri
  6. Buat reward jangka panjang (akhir semester) dan jangka pendek (ganti ancaman sebagai reward setelah menyelesaikan target)
  7. Jangan lupa untuk selalu memberikan encourage

b. Skripsi : Mendampingi mahasiswa bisa membantu mereka lebih terjadwal dalam menentukan target kelulusan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan coach saat mendampingi :

  1. Coach tentukan waktu untuk bertemu setiap minggu (1 kali seminggu)
  2. Buat reward jika skripsi selesai (pilih sesuatu yang dia suka dan ga boleh melakukan itu sampai skripsinya selesai)
  3. Buat target besar (pendadaran bulan berapa)
  4. Buat target tiap minggu (sesuai porsinya :tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan)
  5. Saat pertemuan untuk evaluasi target
  6. Mendata ancaman yang dapat menjadi hambatan sekonkrit mungkin dan dilaporkan kepada coach (misalnya HP, Drakor, MedSos)
  7. Jangan lupa memberikan encourage
  8. Dorong untuk mencari teman untuk mengerjakan skripsi

PENDAMPINGAN PENYELESAIAN KONFLIK

butuh waktu untuk mengampuni

Perlu memahami bahwa hubungan tidak akan sama lagi ketika terjadi konflik. Pada prinsipnya ketika ada orang yang menyakiti akan butuh waktu untuk mengampuni. Namun ada beberapa kasus jika kedua pihak berhasil menyelesaikan konflik bisa memperbaiki relasi. Dalam pendampingan penyelesaian konflik biasanya terjadi pada sesama teman komunitas (JOYers) maupun teman di luar komunitas. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam pendampingan tersebut :

a. Sesama Joyers

  1. Berada diposisi netral
  2. Dengar dari masing-masing pihak
  3. Evaluasi dan coba pahami situasi dari masing-masing pihak
  4. Janjian pertemuan dengan persetujuan kedua belah pihak (yakinkan bahwa kita bersikap netral)
  5. Dalam pertemuan membuat kesepakatan dalam berkomunikasi untuk mendengakan dulu dan tidak memotong pembicaraan
  6. Ajarkan mereka menggunakan I-message

b. Diluar Komunitas (JOY)

Ketika JOYer memiliki masalah dengan seseorang yang berada di luar lingkungan JOY (Coach tidak bisa terlibat banyak, tapi mengajarkan mereka cara menyelesaikan). Kita  harus hati-hati dengan ceritanya karena kita hanya tau dari satu sisi Intinya melakukan hal yang sama dengan konflik sesama JOYer tetapi kemungkinan kita menjadi penengah kecil jadi mendorong JOYer untuk menyelesaikan konflik.

Ajarkan cara menyelesaikan konflik:

  1. meminta waktu untuk bertemu kepada temannya (tidak memaksa jika teman belum mau), tanggung jawab joyer adalah meminta untuk menyelesaikan konflik, jika temannya tidak/belum siap itu bukan tanggung jawab joyer).
  2. Ajarkan cara berbicara yang baik dan assertif. mis dengan I message

PENDAMPINGAN OKULTISME

Lebih dari 90% orang yang menganut/ percaya dengan okultisme berkaitan dengan masalah kejiwaan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam mendampingi JOYers dengan kasus okultisme yaitu masalah kejiwaan dan kepercayaan mereka terkait okultisme. Lebih dari 90% orang yang menganut/ percaya dengan okultisme berkaitan dengan masalah kejiwaan. Prinsip buka celah, misalnya pernah melakukan hal-hal yang berkaitan dengan okultisme maka ada celah, oleh karena itu perlu menelusuri latar belakang mereka.

1. Tidak ada manifestasi

Jika belum ada manifestasi, yang pertama harus kita lakukan adalah mencari tahu cara pandang mereka terhadap okultisme (merubah pola pikir). Yang menjadi hambatan adalah budaya sudah bercampur dengan pola pikir.  

2. Ada manifestasi

Perlu mengatasi manifestasinya, menjaga mereka karena kemungkinan akan kembali lagi

berdoa pelepasan

Setelah sadar langkah selanjutnya sama seperti jika tidak ada manifestasi

Membedakan Gangguan Jiwa dan Kerasukan

PERBEDAAN YANG NYATA

  1. Kerasukan Setan

Ada pengetahuan baru/ intelektual

Muncul kepribadian baru

Membenci kegiatan doa/rohani

Punya kekuatan yang besar (misal badannya kecil tapi kekuatannya besar)

Ketika diusir (bisa terlihat langsung sembuh)

2. Gangguan jiwa

Halusinasi, delusi

Jarang  menyebut dirinya setan, menyebut dirinya baik-baik

Ga bisa langsung sembuh

KEMIRIPAN KERASUKAN DAN GANGGUAN JIWA (SKIZOFRENIA)

  1. Keinginan kuat untuk menyakiti diri sendiri, umumnya mereka punya konsep diri yang rendah
  2. Adanya delusi (waham), halusinasi
  3. Bicaranya mulai menyimpang, perilaku aneh (mempengaruhi sosial)
  4. Cemas , tegang, depresi, cepat marah (mengalami perubahan mood)
  5. Pasif

Perilaku Media Sosial & Psikologi (A Training Resume )

ditulis oleh Oya Citra

Training of Existing Staff of JOY kali ini membahas tentang Perilaku Media Sosial & Psikolog. Setelah beberapa hari yang lalu membahas tentang Kecemasan dan Stress Management.

Berselancar di media sosial membuat hormon dopamin dan oksitosin meningkat.

10 menit berselancar di media sosial, kadar oksitosin dapat meningkat sebanyak 13%.  Jejaring sosial tidak hanya menghadirkan banyak perasaan yang luar biasa, selain itu membuat sangat sulit untuk berhenti.

Swafoto (Selfie)

Kata selfie resmi menjadi kata baru dalam kamus Oxford English Dictionary pada tahun 2013. Fenomena swafoto menggunakan perspektif psikologi sosial.

melakukan swafoto merupakan upaya mengkonstruksikan identitas sosialnya

  1. Wujud dari Eksistensi Diri dan Self Esteem

Berswafoto dan menyebarkannya di media sosial tidak sekadar terfokus pada penampilan diri si pengguna. Swafoto merupakan upaya representasi diri di media sosial, sebuah upaya agar dianggap ‘ada’ atau eksis dalam media. Seseorang yang melakukan swafoto juga tengah berusaha mengkonstruksikan identitas sosialnya dengan cara memaksimalkan atau meminimalkan karakter positif atau negatif dalam dirinya supaya self-esteem tetap terpelihara.

Swafoto yang sukses ditandai dengan banyaknya pujian, pemberian tanda ‘jempol’ atau ‘like’. Bila sudah demikian, maka individu merasa puas dan semakin terdorong untuk kembali melakukan swafoto dan mengunggahnya di media sosial. Namun, bila kondisinya terbalik, individu dapat merasa diacuhkan dan tidak dihargai oleh lingkungan sosialnya. Keadaan tersebut bisa memicu keinginan untuk tidak kembali mengunggah swafoto atau tetap melakukan swafoto, namun dengan evaluasi tertentu.

Media dan self estem

  • Self esteem = ideal self, self image

Diri yang ditampilkan di media sosial adalah diri ideal.

Sebuah penelitian:

  • Responden 150 remaja berusia 15-25 tahun yang aktif menggunakan sosial media.
  • Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar remaja yang aktif menggunakan sosial media ingin terlihat baik dan menampilkan citra konsep diri idealnya di profil media sosial.
  • Imaginary audience adalah kelompok teman-teman (peers) dan orang lain yang dipercaya memperhatikan remaja secara konstan. Imaginary audience-nya menyebabkan kemungkinan akan perbandingan dan kritik secara online tidak akan pernah berakhir .
  • Para remaja mencari informasi tentang teman-temannya di dunia sosial, umpan balik ini membuat mereka membandingkan diri mereka dengan teman-temannya. Hal inilah yang menjadi resiko menurunnya konsep diri remaja.
  • Bisa menandai  kepribadian bergantung narsistik: Nevid mengemukakan perilaku narsisme adalah cinta diri dimana memperhatikan diri secara berlebihan, memiliki keyakinan yang berlebihan tentang dirinya, seperti fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta ideal atau pengakuan akan kecerdasan atau kepandaian. Individu narsisme memanfaatkan hubungan sosial untuk mencapai popularitas, selalu asyik dan hanya tertarik dengan hal-hal yang menyangkut kesenangan diri sendiri. individu dengan kepribadian narsis mempunyai kebutuhan untuk mendapat apresiasi dan penghargaan demi terbentuknya self-esteem.

    2. Swafoto Merupakan Salah Satu Bentuk Narsisme Digital.

swafoto menjadi simbol untuk mewujudkan eksistensi dirinya

Iri, juga sebagai bentuk pertunjukkan di depan panggung untuk menarik kesan pengakses atau pengguna lain dalam jaringan pertemanan di media sosial. Contohnya: foto dengan latar belakang wisata di luar negeri. Pengunggahan swafoto menjadi simbol bahwa pengguna sedang mewujudkan eksistensi dirinya yang tidak sekadar sebagai objek foto, tetapi ada maksud tertentu didalamnya.

3. Swafoto Juga Dapat Menandakan Bahwa Pengguna Melakukan Keterbukaan Diri (Self-Disclosure) Di Media Sosial.

Swafoto menjembatani pertumbuhan wilayah hidup seseorang karena menuntun mereka menjadi terbuka untuk membagikan foto diri kehadapan khalayak melalui akun media sosial yang dimiliki. Efek dari keterbukaan diri itu adalah interaksi dan komunikasi yang terjadi dengan pengguna lain akan semakin erat. Bahkan dalam beberapa kasus, pengunggahan swafoto menyebabkan bertambahnya jalinan pertemanan yang baru, sehingga jaringan sosial yang dimiliki semakin luas, atau dengan kata lain, wilayah hidup seseorang akan semakin lapang.

Perilaku-Perilaku di Media Sosial yang Perlu Diperhatikan:

  • Media Sosial dan Bullying atau Perundungan

           Media sosial seperti memberi kesempatan untuk ‘membully’ orang beramai-ramai. Penyebab munculnya istilah haters ( agresif secara verbal)

  • Media Sosial Trolling

Orang yang memulai dengan sengaja memposting dan menghasut sehingga memunculkan      perang komen di media sosial dan membuat orang lain emosi dan marah.

  • Perilaku Ingin Diperhatikan/Cari Perhatian  (hati-hati ketika menulis status di kala emosi).

Perilaku ingin diperhatikan melalui media sosial biasa terlihat dari story atau status seseorang di media sosial. Contohnya statusnya penuh dengan ungkapan hatinya yang sedang galau, atau meluapkan amarahnya di media sosial. Orang-orang tersebut tidak boleh disepelehkan. Melainkan harus tetap diperhatikan. Karena bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan setelah mengupload status itu. Contohnya ada satu kasus, dimana ada seorang yang mengupload status yang galau, dan keesokan harinya dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

  • Perilaku belanja

Survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) tahun 2016. Pengguna internet yang paling sering adalah mengunjungi online shop.

  • Kecanduan media sosial

The Graphic, Visualization & Usability Center, The Georgia Institute of Technolgy menetapkan satu indikator untuk seseorang yang disebut kecanduan media sosial:

1. Heavy users (lebih dari 40 jam per bulan).

2. Medium users (antara 10 sampai 40 jam per bulan).

3. Light users (kurang dari 10 jam per bulan).

Ahli psikologi menggunakan istilah dalam menyebutkan kecanduan media sosial, salah satunya Young (1999) menyebutnya dengan internet addiction.

Young (1999) membagi kecanduan internet  ke dalam lima kategori, yaitu:

  1. Cybersexual addiction, yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs‐situs porno atau cybersex secara kompulsif .
  2. Cyber‐relationship addiction, yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber.
  3. Net compulsion, yaitu seseorang yang terobsesi pada situs‐situs per‐dagangan (cyber shopping) atau perjudian (cyber casino).
  4. Information overload, yaitu seseorang yang menelusuri situs‐situs informasi secara kompulsif. Fomo (fearing of missing out) atau agar tidak ketinggalan informasi.
  5. Computer addiction, yaitu seseorang yang terobsesi pada permainan‐permainan online (online games) seperti misalnya Doom, Myst, Counter Strike, Ragnarok dan lain sebagainya

Menurut Suller, seseorang dinyatakan telah kecanduan suatu stimulus jika :

  • Sampai melalaikan hal‐hal penting karena stimulus tersebut.
  • Hubungan dengan orang‐orang terdekatnya terganggu karena stimulus tersebut.
  • Orang‐orang yang dekat dengannya mengeluh, terganggu, kecewa, dan merasa diabaikan karena stimulus tersebut.
  • Marah, tersinggung, dan tidak suka jika perilakunya tersebut dikritik.
  • Merahasiakan atau menutup‐nutupi perilakunya tersebut.
  • Berusaha untuk berhenti tapi tidak mampu atau tidak bisa karena seperti sudah terikat dengan hal tersebut.

NB bisa membaca
Perilaku Pengguna Media Sosial beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan. Mulawarman Mulawarman, Aldila Dyas Nurfitri 2017

STRESS MANAGEMENT (A Training Resume)

ditulis oleh Gloria PM

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang Stress Management. Melanjutkan materi sebelumnya tentang Kecemasan dan Kognitive Therapy.

Stress Management adalah bagaimana cara seseorang untuk mengolah stress yang terjadi dengan cara yang benar. Tetapi sebelum itu, perlu mengenali apa yang menjadi pemicu stress.

Mengelolah stress (Stress Management) tidak serta merta dapat diatasi dengan waktu yang singkat tetapi butuh proses serta kedisiplinan dan konsisten dalam melakukannya.

Ketika mengetahui bahwa diri kita rentan untuk terkena stress, maka kita perlu tahu apa yang menjdi pemicunya, diantaranya:

  1. Situasi
  2. Emosi
  3. Kata-kata
  4. Suara
  5. Sight/ Pandangan
  6. Bau
  7. Memori

Selain perlu mengetahui apa yang memicu stress terjadi, kita juga perlu tahu bagaimana pola stress ketika kita dipicu, yaitu:

  1. Volcano/slow build up yaitu pola yang munculnya pelan-pelan tapi kemudian meledak
  2. Dipengaruhi oleh mood

Selain itu perlu juga mengetahu tanda-tanda fisik yang muncul ketika seseorang mengalami stress, diantaranya:

  1. Kepala terasa akan meledak
  2. Frustasi
  3. Meningkatnya detak jantung
  4. Kepala pusing
  5. Otot-otot tegang
  6. Nafsu Makan Naik/Turun
  7. Banyak Pikiran/Over thinking

Dengan mengetahui penyebab yang memicu, pola stress serta tanda-tanda fisik yang muncul ketika seseorang mengalami stress, maka langkah pertama atau sederhana yang bisa di lakukan untuk menanganinya adalah:

  1. Kontrol tubuh
    – Say to myself STOP
    – Imagine a red STOP sign
    Nafas dalam (Ambil nafas, hitung 1..2, lepaskan. Lakukan itu selama beberapa kali)
  2. Lakukan aktifitas
    Pilih aktivitas pasling sedikit ½ jam. Jika pikiran tentang masalah muncul perlu mengatakan kepada diri sendiri: ‘maaf, aku sedang sibuk sekarang, aku akan kembali dan berhadapan dengan mu nanti”
  3. Manajemen pikiran
     – Self talk
    – Think (10 menit). Ini namanya paradocal therapy. maksudnya seseorang diijinkan memikirkan tetapi dapat dikendalian. Diperbolehkan biar tidak keluar lagi.Kamu bisa menggunakan alarm dengan di set 10 menit, belajar mengendalikan pikiran tidak mikir negatif terus.
    – Simpulkan pikiranmu. Ambil waktu tidak lebih dari 5 menit. Simpulkan apa yang kamu pikirkan dan tuliskan. Misal bilang orang tua tidak mencintai saya.
    – To do listàapa yang saya lakukan (membuat diri melakukan kegiatan sepanjang hari sehingga tidak terlalu memikirkan masalah tersebut)
  4. Ulangi sampai pikiran tentang masalah berubah

Ketika mencoba untuk berubah, jangan mengharapkan akan selalu sukses.

Ketika mencoba untuk berubah, jangan mengharapkan akan selalu sukses. Lihat lah TREND

  • 1 dari 10x=10% perbaikan
  • 2-3x dari 10= 20-30%
  • 6 dari 10 =
  • 8 dari 10=bagus

Penenang Alami

di dalam diri sesorang terdapat penenang alami yang Tuhan sudah ciptakan

Mungkin ada sebagian dari kita belum mengetahui, bahwa di dalam diri sesorang terdapat penenang alami yang Tuhan sudah ciptakan. Penenang alami ini berupa zat yang ada didalam tubuh dan ketika dikeluarkan oleh tubuh akan memberikan perasaan tenang.

Penenang alami ini berupa GABA (Gamma Aminobutyric Acid),  & serotonin adalah sebagai pembawa kabar gembira ke tubuh.

Penenang buatan seperti obat-obatan hanya meniru apa yang dilakukan oleh otak, dengan membuat zat yang mirip dengan zat yang dikeluarkan oleh otak.

Berikut perilaku yang dapat mengurangi penenang alami dalam tubuh, yaitu:

  • Stres
  • Konflik
  • Mengalah membuat orang senang dan menekan perasaan sendiri
  • Kurang tidur
  • Perfectionis

Perilaku yang dapat meningkatkan penenang alami dalam tubuh, yaitu:

  • Sediakan waktu istirahat
  • Tidur yang cukup
  • Meditasi/relaksasi
  • Humor
    Ada beberapa cara meningakatkan faktor kelucuan: baca buku-buku yang lucu, tontonlah film yang lucu, bacalah komik yang lucu, pada akhir hari coba tinjau kejadian-kejadian yang memalukan yang mungkin kamu alami dan lihat apakah kamu dapat mengubahnya menjadi suatu pengalaman yang lucu
  • Kurangi perfeksionis

Selain itu, berikut adalah beberapa makanan yang dapat mengurangi penenang alami didalam tubuh, yaitu:

  • Cafein, ada yang meneliti tentang stimulan yang dapat meningkatkan kecemasan dan serangan panik, kafein ada di daftar paling atas. Kafein ditemukan dalam kopi, teh, cola, cokelat, kakau

Jika memakai kafein, batasilah konumsi kafein satu cangkir kopi dan dua cola sehari.

  • Makanan, beberapa orang merasa resah ketika memakan makanan tertentu, perlu di cek lagi karena setiap orang berbeda terkait makanan yang menimbulkan stress.

Beberapa makanan/minuman yang dapat meningkatkan penenang alami di dalam tubuh yaitu:

  • Sayuran dan buah
  • Makanan yang mengandung mineral dan vitamin.
  • Makanan yang banyak mengandung serat diet (gandum, kacang, sayuran mentah)
  • Minum air putih yang cukup
  • Perhitungan kandungan kalori dibawah yang direkomendasikan

Adapun tanaman-tanaman herbal yang berguna untuk relaksasi, yaitu :

  • Akar-akaran
  • Paper mint
  • Lemon grass

Tidur dan Ketenangan

Sebuah survey dilakukan oleh suatu lembaga penelitian Gallup, kurang lebih setengah orang Amerika tidak tidur sepanjang malam dan banyak dari mereka yang enggan mencari bantuan. Alasan utama dari kurangnya waktu tidur yaitu dikrenkan oleh stress dan pekerjaan.

Ada 2 jenis tidur, yaitu:

  • REM (Rapid Eye Movement) = tidur mimpi dan
  • Tiidur non REM (tidur tanpa mimpi)

Ada beberapa cara untuk memperbaiki kebiasaan tidur seseorang, yaitu:

  • Pergi tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari termasuk akhir pekan.

Jika anda tidur pada waktu-waktu yang berbeda setiap malam, maka jangan heran jika anda tidak mempunyai kebiasaan tidur yang baik. Tubuh anda menjadi bingung oleh karena waktu yang tidak teratur.

Body clock atau lebih tepatnya “jam otak” terdapat di pusat otak yang disebut kelenjar pineal. Dan merupakan suatu daerah otak yang merupakan gudang pembawa berita gembira serotonin

  • Hindari untuk melakukan pekerjaan apapun yang menyebabkan adrenalin anda naik sebelum tidur.

Tiap orang berbeda-beda yang memicu adrenalinnya meningkat. Misalnya menyentuh buku atau menggunakan komputer bisa membuat adrenalin seseorang meningkat, sehingga sulit untuk tidur. Ada yang menonton membuat adrenalinnya meninggkat. Tubuh harus diijinkan untuk menurunkan adrenalin untuk persiapan tidur.

  • Kurangi jumlah cahaya

Kegelapan memicu hormon otak yaitu melatonin. Hormon ini membantu dalam permulaan tidur. Terlalu banyak cahaya mencegah melatonin ini untuk muncul

  • Hindari semua bentuk stimulan di waktu senja.

Misalnya : kafein

  • Jangan memaksakan tidur

Karena masih belajar memperbaiki pola tidur. Jangan marah ketika gagal diawal

  • Pastikan punya tempat yang tenang buat tidur

Lingkungan yang berisik dapat mengganggu tidur

  • Pastikan berlatih secara teratur
  • Pelajari teknik relaksasi
  • Lepaskan pikiran yang mengganggu sebelum tidur
  • Jika terbangun di malam hari. Jangan turun dari tempat tidur jika tidak terpaksa.

Jika bangun secara fisik, adrenalin akan mengalir kembali dan menyebabkan anda terbangun.jangan melakukan kegiatan.

Cara-cara diatas dapat diterapkan sebagai permualaan untuk kita menangani stress dengan mengetahui pemicu, pola serta tanda-tanda fisik tubuh, juga perlu mengetahui makanan/minuman apa saja yang dapat mengurangi/meningkatkan penenang alami dalam tubuh serta dapat mengatur pola tidur akan membantu kita mengatasi dan mengelola stress yang kita hadapi.