Mission Korea 2018 (Journal 12)

Tanggal 9 Agustus 2018

Kami bangun dengan cukup berat pagi ini. Rasa capek karena International Festival masih bergelantungan di betis kami. Tapi selalu tepat waktu untuk bergabung dengan partisipan negara lain menunggu bis menuju Sejong University.

Setelah antrian dan sarapan pagi dengan sepotong roti dan sekotak susu kedelai, kami memulai Global South Forum yang dipimpin oleh Andrew Kim. Ini sebenarnya kali kedua saya bertemu dengan beliau dan terlibat dalam forum ini. Dalam dua puluh menit, beliau memaparkan misi yang sudah berlangsung puluhan tahun ini di berbagai negara. Beliau sendiri adalah mobilisator gerakan misi dan church planting di negara-negara Asia termasuk Indonesia.

Seperti sharing-sharing kami sebelumnya, Nagaland adalah provinsi Kristen yang mempengaruhi perkembangan misi di seluruh India. Mereka sudah empat generasi Kristen sejak misionaris Amerika membawakan injil ke sana. Direktur misi dari North East India diberi kesempatan untuk menyampaikan perkembangan misi di India.

Ada tiga hal yang menjadi isu di sana a.l :

  1. Mental bahwa misi hanya bagi org senior atau yang sudah menikah
  2. Kristen sudah generasi ke-empat dan mulai kehilangan passion untuk membagikan injil karena sekarang banyak orang hanya mengikuti iman kristen bukan mengikuti Kristus
  3. Gereja sibuk dengan program bukan mencari yang terhilang.

 

Ada tiga hal yang harus dilakukan gereja:

  1. Gereja harus membagikan Kristus kepada yang terhilang dan hidup dengan hati misi
  2. Kelompok kristen harus terkoneksi dg gereja yang bermisi

Bagaimana orang muda terlibat?

  1. Mission trip regular
  2. Youth Service tiap bulan harus menekankan misi.
  3. Church planting harus melibatkan orang muda

Di akhir sesi, Patrick Fung yakni Direktur OMF International mengencourage dengan Kis 13:13 agar kita terus mendorong generasi muda utk reach out.

Observe, Learn and live with people.

Setelah sesi Global South Mission, sesi plenary diadakan di Daehyang Hall membahas tentang isu-isu di masa depan.

Isu-isu inilah yang menjadi landasan kenapa tema besar Mission Korea 2018 adalah Re_ a.l :

  1. Belajar dari Laussane Movement (setelah 40 tahun berlalu, ada 100 lebih isu, fokusnya sekarang lebih ke economic dan environmental issue.
  2. Tahun 2017, pertemuan 40 pemimpin gereja di Korea dan berdiskusi untuk menentukan masa depan misi korea. Dari 12 issue hasil survey a.l : revolutionary church, multicluture ministry, tentmaker, dll. Isu paling besar adalah revolutionary church. Isu besar lain adalah bagaimana mempersiapkan diri menghadapi reunifikasi dg korea utara.

Merevolusi gereja menjadikan tema Re-call, Re-Bible, Re-Tune, Re-Build dan Re-Start ini muncul. Artinya gereja bertindak mulai dari membenahi identitas, sehingga perilaku sesuai dengan karakter Kristus, Tuhan yang bermisi. Dengan kata lain, To Do = To Be.

Misi masa depan :

  1. Mission for everyone
  2. Mission out the square
  3. Mission Through every aspect of life.

Jumlah bunuh diri di dunia paling banyak Rusia kemudian Korea. Jadi, bagaimanakah caranya kita bermisi “out of the square” di zaman big data dan AI ini?

Mission Integral

Kita perlu membagikan injil tapi juga nyata memberi impact bagi society kita, semuanya tidak terpisah. Orang-orang yang hidupnya telah ditransformasi oleh Allah akan memberi dampak bagi lingkungan melalui profesionalitasnya. Salah satu yang menarik setelah kegiatan makan siang adalah exhibition. Ada 41 lembaga misi yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dari 41 lembaga, yang paling menarik ada dua yakni The Frontiers dengan tagline “Jesus for Muslims”-nya dan ET (Enterpreneurship Team) – BAM (Business as Mission).

Ada satu ruang galeri tempat sejarah misi diceritakan. Hal yang sama dari semua lembaga yang ada di galeri tersebut baik lembaga penerjemah Alkitab, lembaga kesehatan misi maupun sekolah adalah semuanya dimulai dari misionaris barat (Amerika).

Pada exhibition itu juga, kami sempat bertemu dengan Pak Kyung yang hadir mewakili Global Partners, lembaga misi yang mengadakan pelatihan khusus bagi para misionaris.

Bermisi Melalui Profesi

Setelah exhibition, kami menuju lantai B1 untuk evaluasi akhir dan encouragement di tim International. Di kesempatan ini, beberapa orang menyampaikan masukan dan ucapan terima kasih. Hal yang paling menggembirakan adalah dari 27 negara yang terlibat, pertama kalinya ada seorang yang datang langsung dari Brunei Darusalam. Jimmy menyampaikan harapan dan terima kasihnya sambil memberikan bendera Brunei. Doanya adalah setelah China Kristen pertama mengikuti Mision Korea ini (yaitu dirinya), berikutnya adalah saudara muslimnya yang menjadi percaya yang ikut. Dorkas sari Chile juga, wanita Amerika Latin pertama yang ikut kegiatan misi ini. Secara pribadi, dia sangat diberkati.

Sesi setelah makan malam adalah sesi sharing dari tiga orang. Seorang pegawai HR sebuah perusahaan di Jakarta hadir memberi kesaksian. Dia adalah orang Korea yang sudah tiga tahun di Indonesia sebagai profesional misionaris. Beliau sharing banyak tentang bagaimana membagi hidup dan memberi dampak kepada teman-teman kerjanya yang muslim sebagai bagian dari misi. Dengan mengasihi mereka, salah satu cara membagikan Kristus bagi orang-orang muslim.

Sharing kedua datang dari Yaman dalam bentuk video. Suami istri ini melayani sebagai dokter di Yaman. Mereka mengalami bahkan ketika perang dan Refugee berdatangan. Saya sangat terharu melihat keteguhan hati mereka terutama sembari membesarkan dua anaknya di sana.

Sharing ketiga dari Pastor Kim Hyung Gook. Beliau mengajak peserta untuk membaca dari Efesus 1:22-23. Bermisi dengan apa yang ada, sebanyak yang bisa kita lakukan. Salah satunya dimulai dengan mendoakan karena Roh Kuduslah yang menggerakkan orang Kristen untuk bermisi, Roh Kudus juga yang meletakkan hati misi ke dalam diri masing-masing kita hingga tergerak untuk melayani orang lain dan membagikan Kristus.

Korea juga perlu belajar misi. Tidak harus pergi jauh untuk melayani orang lintas budaya. Di Korea sendiri sangat banyak Refugee. Sudah seharusnya gereja bersatu untuk membagikan Kristus kepada mereka yang Tuhan percayakan ke sini. Mereka yang Tuhan kirim untuk dilayani.

Salah satu misionaris muda memulai dari Jeju khusus melayani orang Syria yang mencari suaka di sana. Sungguh satu langkah yang tepat.

 

Setelah selesai, penutupan dilakukan termasuk serah terima untuk penyelenggara berikutnya. Dari IVF menyerahkan kepada YWAM untuk tiga tahun ke depan. Jadi sejak 30 tahun, mulai berikutnya, Mission Korea akan diadakan setiap tiga tahun. Acara penutup berjalan dengan baik. Kami pamit dan saling menyalami dan peluk satu dengan yang lain karena ini hari terakhir kami bertemu. Entah kapan lagi bisa bertemu dengan teman-teman yang berasal dari negara lain. Secara khusus banyak diberkati dengan saudara-saudara dari Ghana, Kongo, Ethiopia, Siera Leone, Brunei, Chile, Filipina, Thailand, Jepang, Vietnam, Laos dan China.

Terima kasih untuk kesempatan bisa ikut Mission Korea dan disegarkan lagi tentang panggilan utama sebagai orang percaya adalah bermisi, membagikan Kristus melalui hidup setiap hari sehingga orang lain melihat Kristus yang hidup di dalam kita.

Mission for everyone from everywhere![GN]

 

Mission Korea 2018 (Journal 11)

Tanggal 8 Agustus 2018

Pagi ini kami berangkat ke kampus Sejong bersama-sama dengan menggunakan bus yang disediakan oleh panitia. Setelah sarapan kami mengikuti kelas Internasional yang dimulai dengan presentasi dari direktor Mission Korea tentang mission korea (MK). MK merupakan kerjasama dari 3 bagian yaitu dari gereja, campus ministry dan mission agency. Di dalam logo tahun ini ada tulisan 8818 artinya dimulai tahun 1988 dan MK tahun ini di tahun 2018. Tahun ini peringatan MK yang ke 30 tahun. Hal yang paling menarik dalam penjelasan ini adalah prinsip partnership dan service dalam penyelenggaraan MK.

Setelah itu kami melanjutkan diskusi kami dengan beberapa pertanyaan yang diajukan yaitu:
Apa itu misi dan mengapa harus berpartnership? Bagimana mempersiapakan generasi selanjutnya.

Setelah itu kami berkumpul bersama di aula besar dan memulai dengan mendengar satu orang misionaris yang melayani di Bhutan. Ia pernah menjadi peserta MK 2006 dan 2010. Ia menceritakan tentang pengalaman dan juga tantangan yang dihadapi. Dia mengatakan bahwa orang percaya adalah orang yang punya kehidupan yang bermisi.

Sesudah kesaksian diadakan penjelasan tentang trend misi secara global. Tentang bagaimana teknologi sekarang berkembang. Generasi yang ada sekarang adalah generasi milenium. Kunci dalam misi untuk menjangkau generasi sekarang adalah partnership bukan bekerja sendiri.

Setelah itu wakil beberapa negara menyanyikan lagu “How Great is our God” dalam bahasa masing-masing. Gina mewakili menyanyi dalam bahasa Indonesia. Sebagai tambahaan info yang menyegarkan panita menyebut wakil masing-masing negara dengan sebutan International Singer.

International Festival

International festival dimulai jam 13.30-17.00. Kami membawa kripik tempe, sambel terasi botol dan sambel roa yang diberikan oleh Wens kepada kami. Oh ya, tak ketinggalan juga kami bawa 5 indomie goreng, gantungan kunci, slayer batik, kopi sachet, kopi Toraja. Hal yang lucu ketika pengunjung stan kami mencoba sambal terasi dan sambal roa, ekpresinya berbeda-beda ada yang kepedasan ada yang mengatakan tidak pedas sama sekali. Satu hal yang kami temukan adalah bagi orang Jepang dan Ghana sambal tersebut pedas, tetapi bagi kebayakan orang korea tidak terasa apa-apa. Senang sekali dapat berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai negara.

Sambil ngobrol tak lupa dong berfoto bersama. Aku dan Gina sempat mencoba pakaian adat Ghana.
Setelah makan kami mengadakan Ibadah sore yang
dimulai dengan praise and worship. Yang unik dari praise and worship kali ini adalah menyanyikan beberapa theme song MK. Dimulai dengan theme song MK 1988.

Rev Lee Tae-woong kemudian membagikan firman Tuhan dari
Yohanes 3:16-21, yang mengingatkan kembali tentang kasih karunia Allah kepada kita orang berdosa. Kita mendapat garansi bahwa kita akan bersama dengan Allah selamanya.
Setelah itu ada kesaksian juga dari satu misionaris yang melayani di Laos, yang kembali mengingatkan bahwa hal pertama yang penting dalam misi adalah relasi dengan Allah.

Setelah itu kami menaikkan beberapa pokok doa. Yang paling berkesan dan menyentuh adalah ketika kami berdoa untuk para misionaris yang hadir. Para misionaris kemudian diundang untuk naik ke panggung daan kemudian kami mendoakan bersama-sama. Pak Son ada diantara misionaris tersebut. Secara pribadi ketika melihat Pak Son maju rasanya sangat-sangat terharu. Mengucap syukur atas pribadi Pak Son yang menjadi bagian rencana Tuhan untuk memanggil dan membentuk kita semua melalui persekutuan JOY.

Sesudah berdoa, kembali ibu direktur MK memberikan penjelasan tentang sejarah MK. Di antaranya sepanjang tahun 1988-2016, MK telah mengirim 35.567 misionaris. Hal yang paling menonjol dari MK menurutku adalah partnership. Dimulai dari JOY mission kemudian IVF meneruskannya demikian seterusnya. Spirit of unity menjadi hal yang indah. Mission bukan satu orang tetapi banyak orang yang terlibat. Banyak organisasi misi yang terlibat. Hal yang menarik sepanjang 16x penyelenggaraan MK ada 2 lembaga misi yang selalu ada yaitu GBT ( Global Bible Translation) dan OMF.

Setelah itu kami mengisi lembar komitmen dan menyatakan komitmen kami bersama-sama.

Hari ketiga Mission Korea sudah hampir berlalu. Bersyukur untuk pemeliharaan Tuhan terutama kesehatan selama tiga hari di universitas Sejong ini. [RN]

Mission Korea 2018 (Journal 10)

Tanggal 7 Agustus 2018

Youth Mission

Selasa pagi yang hangat menyambut kami di Lakehouse – asrama mahasiswa Konkuk University – tempat kami menginap. Hari kedua Mission Korea telah dimulai. Jika hari senin tema besar adalah Re_Calling, tema besar hari Selasa adalah Re_Bible. Tema besar keseluruhan Mission Korea 2018 adalah Re_.

Jam 8:20, Pak Son menjemput kami bertiga dari Asrama Lakehouse menuju Sejong University. Kegiatan pagi dimulai dengan antrian sarapan berupa sepotong roti dan sebotol air putih. Setelah itu, partisipan Internasional berkumpul di gedung Gunja dan mengikuti forum. Kami dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan bahasa perantara. Bergabung dalam bahasa Inggris bersama kami, Direktur IVF, CMF, para mahasiswa Torch yang berasal dari Ghana, Pakistan dan Kongo serta missionaris dari Amerika yang bulan depan akan berangkat ke Irak. Dalam kelompok, kami berdiskusi terkait Youth Mission di masing-masing negara, kekuatannya apa dan apa harapan kami sebagai International Partisipan melalui Mission Korea ini.

Dibandingkan dengan Pakistan yang sama-sama mayoritas muslim, Indonesia masih punya sejarah gerakan misi orang muda karena pelayanan kampus masih ada di Indonesia.

Saya teringat salah satu pencapaian besar yang pernah JOY lakukan adalah Mahasiswa Indonesia Menuai tahun 2005.

Setelah diskusi kelompok, kami menuju lantai 6 untuk makan siang kemudian dilanjutkan dengan sesi kapita selekta.

Misi yang Sesuai Alkitab

Kak Riana mengikuti kelas “Misi di India”, Bang Sopar mengikuti kelas Dr.Fung terkait pelayanan kreatif untuk negara-negara yang melarang Injil dan saya mengambil kelas “Missional Bible”.

Ketika makan malam kami saling membagikan isi sesi siang tadi. Bang Sopar tidak bisa mensharingkan, karena isi pertemuan dan isi materi bersifat sangat rahasia bahkan untuk dicatat dan direkam sekalipun.

Materi sesi Misi di India juga menarik bagi Kak Riana. Terkhusus mengenai gerakan misi di India bagian Timur hingga 99% penduduk provinsi Nagaland sekarang adalah Kristen.

Materi missional Bible yang saya ikuti juga sangat menarik. Pembicara adalah seorang Pastor dari Kanada yang sudah melayani puluhan tahun di Wycliff – Lembaga misi yang menerjemahkan Alkitab dalam berbagai bahasa. Di Indonesia, lembaga ini lebih dikenal dengan nama Kartidaya.

Kelas dibuka dengan pertanyaan berapa banyak bahasa di Indonesia? Dia mengambil sampel Indonesia karena tercatat ada 600 lebih bahasa di Indonesia kecuali Papua. Untuk Papua (termasuk PNG) ada sekitar 700 bahasa, jadi total sebenarnya ada 1300 lebih bahasa di Indonesia. Dari 6912 bahasa di dunia, 1300nya dimiliki oleh Indonesia saja. Wow!

 

Tema hari kedua adalah Re_Bible artinya Return to Bible. Mengapa kita perlu kembali ke Alkitab?

Karena sekali lagi Allah kita adalah Allah yang bermisi, itu nyata dalam seluruh pesan di Kitab Suci.

Lukas 4:14-30 menjelaskan siapa Yesus menurut-Nya dan menurut orang Nazaret ketika itu. Kalimat Yesus sangat keras bagi orang-orang se-kampungnya itu.

Lukas 4 ini menyatakan dengan jelas bahwa Yesus diutus kepada seluruh dunia, seluruh ciptaan bukan hanya kepada orang Israel. Dialah Mesias yang dinantikan dan disampaikan oleh Yesaya itu.

Orang Yahudi pada masa itu mengharapkan mesias dalam pengertian yang berbeda. Ini juga yang sering terjadi pada orang Kristen jaman sekarang, men-stereotipe Yesus. Allah yang bermisi, Actio Dei, Allah yang bertindak.

Pelajaran di kelas “Missional Bible” ini terkait erat dengan evening session setelah makan malam yang dibawakan oleh Rev. Lee Hyun Mo.

Sebelum ibadah malam, kami diberi kesempatan untuk mengikuti exhibition dari lembaga-lembaga misi di Korea. Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah The Frontier karena baju mereka yang sangat mencolok dengan tulisan “Jesus For Muslims”. Saya paling lama berkunjung ke stand ini. Saya banyak sharing dan saling encourage dengan mission staff-nya. Sangat memberkati!

Rev. Lee membagikan tentang The Mission of God.

Arti praising (dalam bahasa aslinya yada artinya mengenali) adalah mengenali/menyatakan Tuhan sebagai Tuhan. Bayangkan jika kita ini robot/program yang terus memuji Tuhan “hosana haleluya” bahkan ketika Tuhan sedang tidak di situ. Rasanya hampa karena itu cuma program. Oleh karena itu manusia diberikan kebebasan.

Ketika kita praise & worship, kita mengenali dan menyatakan Tuhan adalah Tuhan.

Mengenali Yesus sebagai Tuhan, itulah yg membuat Petrus menjadi benar-benar Petrus/manusia.

Jadi tujuan utama dari alkitab adalah restorasi antara hubungan kita dengan Allah.Hidup seperti apakah yang dimiliki oleh orang-orang yang hidupnya telah direstorasi oleh Allah? Restorasi dimulai dengan mengenali Tuhan sebagai Tuhan atas hidup pribadi.

Kej 1-6, 12:1-3, Tuhan selalu berusaha untuk merestorasi hubungannya dengan manusia. Bukan hanya Abraham, Musa, Yunus tapi Tuhan juga memanggil dan memakai kita semua dalam penggilan khusus ini.

Pertanyaannya bukan apakah kita dipanggil menjadi misionaris melainkan kemana, kapan dan dalam bentuk apa Tuhan ingin memakaiku sehingga hidup orang ikut di-restorasi?

Malam ini ditutup dengan praise and worship. Seperti kata Rev. Lee, kami pun diingatkan dengan kata “yada”, mengenali (acknowledging) Tuhan sebagai Tuhan. Ada satu lagu Korea yang versi bahasa Indonesia-nya “Ada Kuasa dalam Darah Anak Domba Allah” sangat memberkati saya secara pribadi. Kami berdoa secara khusus untuk orang-orang muda di Korea dan seluruh dunia yang hidupnya sekarang sangat sekuler. Ketika masih menjadi mahasiswa setia mengikut Tuhan tapi waktu berlalu, dengan keras dan kejamnya hidup, manusia mulai lupa “mengenali Tuhan sebagai Tuhan” dalam hidupnya sehingga hidup dalam ketidakpuasan, kerakusan, seks bebas, dan dosa.

Kami juga berdoa untuk orang-orang muda agar kembali kepada Allah dan mengikuti kehendak Allah dalam hidupnya.

Setelah acara selesai, kami kembali ke asrama Konkuk University dengan menggunakan shuttle bus yang disediakan.

Hari kedua yang berjalan dengan sangat baik. [GN]

Mission Korea 2018 (Journal 9)

Tanggal 6 agustus 2018

Pagi ini hujan cukup menyejukkan Korea yang sedang musim panas. Kami ikut doa siang untuk para staf JOY Korea. Staf JOY Korea tidak memiliki doa pagi tetapi doa siang. Ada sharing time juga. Kami diminta sharing tentang pencapaian dalam 7 bulan ini, kesedihan dan juga tujuan kami. Kami bertiga sharing dengan Victor kansanim, Staf Internasional JOY yang membantu kami selama ini. Setelah itu kami saling mendoakan. Kami bertiga juga diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri. Pada kesempan ini juga ada pamitan dari salah satu staf JOY Korea yang akan belajar Geografi Alkitab di Israel.

Setelah selesai seperti kebiasaan staf di sana, kami makan siang bersama. Sambil makan, kami berfellowship bersama istri Victor kansanim, Hye Won pernah datang ke Indonesia selama 4 bulan di tahun 1998 dan pada tahun 2006 saat gempa ia ada bersama pak Son datang ke Jogja. Selama 21 tahun bahasa Indonesia-nya masih bagus. Wah hebat!

Setelah itu, kami bersama Myoung Hee (pernah menjadi short term worker selama 2 tahun, 2006-2008), Hye Won dan Noah staf training joy pergi ke satu café untk minum kopi, juice dan satu roti jagung-ubi, sambil ngobrol-ngobrol tentunya.


Setelah fellowship time yang singkat, Myoung Hee mengantar kami ke universitas Sejong tempat diadakan Mission Korea. Mission Korea kali ini merupakan Mission korea yang ke-16 dan berulang tahun ke-30 dengan tema “Re_”.  Mission Korea pertama kali diadakan tahun 1988. Mission Korea diorganisir secara bergantian oleh lembaga pelayanan mahasiswa yang ada di Korea. Mission Korea pertama kali diorganisir oleh JOY Korea. Kami dibantu oleh salah satu staf JOY International. Kami masing- masing memilih kelas pilihan yang kami ikuti. Kami memutuskan memilih kelas yang berbeda sehingga kami bisa saling bertukar informasi apa yang kami dapat.

Pada jam 5 sore, kami mengikuti orentasi untuk peserta Internasional. Orientasi berisi penjelasan teknis untuk kami misalnya tentang akomodasi. Di pertemuan ini kami bertemu Hogi lagi dan satu mahasiswa dari Indonesia yang sedang kuliah teologi di ACTS.
Setelah makan malam, Mission Korea dimulai dengan pembukaan yakni praise and worship. Walau kebanyakan lagu menggunakan bahasa Korea, tetapi dengan adanya terjemahan bahasa inggris sangat membantu kami mengikuti praise and worship. Salah satu lagu yang berkesan kata-katanya jangan hanya menjadi orang yang beragama tetapi jadilah orang yang dewasa di dalam Kristus.

Setelah itu, ada kesaksian dari satu misionaris Korea yang melayani di Turki. Ia menceritakan tentang pengalamannya mendampingi Husain, satu orang Turki yang diinjili oleh istrinya, yang menerima Kristus beberapa hari sebelum meninggal. Ia juga menceritakan tentang istrinya yang sakit kanker perut. Tetapi dengan banyak pergumulan panggilannya tetap di dalam misi.
Setelah itu, kami praise and worship lagi, kemudian khotbah di bawakan oleh Rev. Patrick Fung, Director of OMF International. Firman diambil dari kisah 11: 19-21.Ada 3 hal yang menjadi poinnya, yakni :

  1. The Power of The Nameless People.
    Allah bisa memakai orang-orang yang tidak terkenal untuk melakukan misi. Kita semua dipanggil untuk misi. Jemaat mula-mula tersebar karena penganiayaan dan itu membuat injil tersebar.
    Penganiayaan tidak membunuh gereja tetapi kehilangan passion utk menceritakan firman Allah dan membaca Alkitab itulah yg membunuh gereja. Yang membuat mereka berani adalah passion yang dari Allah.
    Dalam misi ada tantangan lintas budaya. Orang yahudi yg menjadi kristen juga mengalaminya. Kita harus berpikir secara global. Mission bukanlah program. Mission adalah menceritakan tentang Kristus.
    Pembicara juga bercerita tentang panggilannya. Baru 2 tahun menjadi Kristen ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran, Tuhan sudah menantangnya untuk menyerahkan hidup seluruhnya kepada Allah. Ia kemudian melayani sebagai misionaris.
  2. The Power of Faith. Kis 11:22-25. Ayat 23, Barnabas melihat kasih karunia Allah. Kita juga seharusnya melakukan misi dengan iman.jika kita tidak melakukan apa-apa maka tidak akan terjadi apa-apa. Misson ada di mana-mana. Mission ada di setiap orang. Mission from everywere to everywere. Kita bukan orang kristen yang pasif.
  3. The Power of a Long Term Legacy. Kis 11:26. Di Antiokhia pertama kali disebut kristen. Orang yang bukan percaya menyebut mereka orang Kristen. Kriterianya harus terus mengikuti Kristus, menghormati Firman dan berdoa. Jangan hanya berdoa kehendakmu terjadi. Kamu harus berdoa tentang apa yang mau Tuhan untuk saya lakukan.

Setelah selesai kami bertemu dengan pak Son yang mengantar ke tempat kami menginap di Konkuk University yang tidak jauh dari kampus Sejong.

Hari Pertama Mission Korea yang sangat baik. Ada 27 negara yang tergabung sebagai International Participants dari Brunei, Indonesia, India, Bangladesh, Rusia, China, Pakistan, Filipina, dsbnya.

Semoga cuaca semakin teduh dan kegiatan tiga hari kedepan berjalan lancar. [RN]

Seoul (Journal 8)

Tanggal 5 agustus 2018

Pertolongan Tak Terduga

Hari ini kami bertiga beribadah di Oryun Community Church, sebuah pelayanan Internasional yang dimiliki oleh Gereja Oryun yang terletak kira-kira satu jam perjalanan subway dari Jegidong. Kami mendapat informasi gereja tersebut dari Bang Sopar yang pada 2013 datang ke Korea.

Ketika kami sampai di stasiun subway, abang mengatakan bahwa kami menunggu satu orang indonesia yang dikenalnya ketika berkunjung di gereja tersebut di tahun 2013. Kami harus menunggu karena abang lupa jalan ke gereja tersebut.  Dikarenakan kami tidak menemukan jaringan wifi, kami memutuskan untuk jalan menuju ke gereja tersebut berdasarkan ingatan abang. Dan alhasil, kami tersesat kira-kira 30 menit, sampai akhirnya memutuskan bertanya pada salah satu pria Korea yang puji Tuhan, bisa berbahasa Inggris. Beberapa menit pacarnya datang dan bergabung bersama kami. Berbekal alamat yang dikirim ke Bang Sopar sebelumnya, mereka mencari di google map sembari menanyakan orang Korea di situ terkait petunjuknya untuk kami. Setelah menemukan, mereka berdua memutuskan untuk mengantar kami, berjalan sampai tujuan.

Sang pria menceritakan bahwa ia pernah pergi ke China selama tiga bulan. Disana dia pernah tersesat juga, dan sangat bingung karena sedikit sekali kemungkinan menemukan orang China yang dapat berbahasa Inggris. Itulah alasannya kenapa dia bisa berempati dengan kami yang tersesat. Wah senang rasanya mendapat pertolongan yang tak terduga.

Dion, teman Bang Sopar yang memberi info jalan kepada kami

Gereja Yang Bermisi

Walau sedikit terlambat, kami akhirnya sampai di Oryun Community Church. Ternyata ibadah ini diadakan untuk melayani orang-orang Indonesia. Gereja ini memang terbeban untuk melayani orang-orang asing. Mereka memiliki pelayanan dalam 7 bahasa ( Vietnam, Indonesia, Bangladesh, Rusia, Kazakhstan, China dan Inggris). Gereja ini secara rutin setahun sekali mengadakan mission trip (pelayanan medis) ke sumba. Tadi siang, ibadah dalam berbahasa Indonesia dihadiri oleh lima wanita Indonesia yang studi di kampus Suk Myong, satu orang pria Indonesia yang bekerja di daerah Incheon,  satu orang wanita dari Lithuania, diajak oleh lima wanita ini utk percaya Yesus dan satu orang Korea yang adalah penatua dari gereja Oryun.

Di tengah-tengah ibadah ada sesi kesaksian dan perkenalan karena saya dan Gina baru pertama kali datang. Ketika saya menyebutkaan diri dari JOY ternyata beberapa orang sudah tahu. Gina membagikan kesaksian tentang perjuangan teman-teman JOY China dalam melakuan pelayanan dan juga pengalamannya dalam melayani teman muslimnya yang belajar mengenal Kristus.
Firman di bawakan oleh salah satu orang Indonesia bernama Hogi. Dia telah menyelesaikan kuliah M.Div di Torch dan sekarang sedang melanjutkan di program M.Th. Hogi juga menjadi pendeta muda di gereja tersebut. Firman Tuhan diambil dari Keluaran 20:18-21. Tentang bangsa Israel yang takut untuk menghadap Allah. Hal yang membuat takut adalah adanya guntur dan kilat yang mereka hadapi. Musa menenangkan mereka untuk tidak takut karena Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba mereka dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada pada bangsa Israel agar bangsa Israel jangan berbuat dosa. Allah yang Maha Besar mau datang ke manusia karena Ia mengasihi manusia. Kita berharga baginya.

Dunia Yang Sempit

Setelah itu kami berfelowship time dengan makan bersama. Kami menemukan bahwa dunia itu sempit. Kami bertemu dengan teman SMA Hendra – alumni JOY, leader music ministry – yang bernama Intan. Kami lalu melakukan video call dengan Hendra karena mereka berdua sudah hilang kontak beberapa lama. Sungguh tepat, akhirnya bisa kontak-kontakkan lagi mulai sekarang.

Hogi juga berpikir dia pernah melihat saya, ternyata dia pernah beberapa kali datang ke SAAT Malang. Gina juga bertemu dengan sesama orang Ambon bernama Theodora yang berasal persis satu desa dengannya. Saya juga bicara dengan satu ibu Korea yang datang di tengah-tengah kebaktian untuk menyiapkan makanan untuk kami. Beliau seorang dokter, suaminya juga dokter. Ia menceritakan pengalamannya di Sumba dan keterbebanan gereja mereka untuk melayani Sumba.

Setelah makan tentu tak terlupakan kami bertukar instagram dan berfoto bersama. Wah rasanya senang sekali mendapat keluarga baru lagi. Sesudahnya kami bersama mengunjungi satu toko untuk membeli beberapa keperluan kami dan kemudian pulang ke Jegidong.
Di Jegidong kami bertemu dengan teman-teman JOY China yang bersiap-siap untuk pergi. Mereka besok akan mengadakan retreat untuk semua staff yang melayani di JOY China.

Semangat! Begitulah kami saling menyemangati! Saya secara pribadi terberkati dengan perjuangan mereka.

Bersyukur untuk hari minggu yang penuh kebaikan ini. Semoga banyak berkat dan kebaikan Tuhan juga buatmu di hari ini! [RN]

Prayer List of JOY Indonesia

 

JOY Prayer Point (August – September 2018):

  1. We are grateful for every prayer and financial support from our alumni and supporter, and we pray that there will be more alumni can be participated to support JOY’s ministry.
  2. We pray for staff monthly financial support and operational funds, may God provide according to His Grace
  3. We pray for every JOYer to be actively involved in every activity such as cell group, creative ministry as well as regular training.
  4. We pray for every leader can be a living model and a booster for the members to be more committed.
  5. We pray for regeneration of leaders in JOY.
  6. We pray for prayer and outreach movement in some universities, we pray many students can be involved in this movement.
  7. We pray that JOY’s student center can be a meeting point for every JOYer to interact and build a good relationship among members, and we also pray for the plan to build a multi-purpose hall, for the licensing and registration requirements.
  8. We pray for new full timer staffs in JOY fellowship (especially man) and also staff’s health in order to do every task and mentoring well

Prayer List for Upcoming Events:

  1. Core Members’ Camp which will be held in 18th – 19th of August 2018.
  2. Additional training (weekend training) in 21st and 25th of August 2018
  3. Encounter Retreat (to affirm new leaders in JOY) in 1st – 2nd of September 2018.
  4. 26th anniversary of JOY in 28th of September 2018.

 

Pengangkatan Kak Geti sebagai Pekerja JOY

           Pengangkatan Diljerti Panggalo

Halo JOYer dan Sahabat JOY, yuk disimak info terbaru dari Friday Meeting kemarin (13 Juli 2018). Seperti info di post sebelumnya, akhirnya Jumat kemarin menjadi hari peneguhan kak Geti sebagai pekerja di persekutuan JOY. Kak Geti akan menjadi Asisten Staff dan secara khusus dipercaya untuk menjadi coach di CG Alfian (Babarsari) dan pendamping ministry Fellowship. Pelatihan Kak Geti sebagai pekerja akan dimulai tanggal 16 Juli 2018. Doakan ya agar proses pelatihan dan penyesuaian kembali dapat berjalan dengan lancar.

Happy Weekend all!

Salam JOY Spirit (Jesus First, Others Second, You Third spell JOY)

Core Members Camp

Halo JOYer dan Sahabat JOY,  Ada info terbaru terkait event dalam Bulan Agustus.

Sebagai Persekutuan mahasiswa, JOY bergerak dalam mengembangkan mahasiswa terutama dalam hal kepemimpinan pada komunitas kreatif dan kerohanian mereka. Setiap tahunnya, Core Members Camp (CMC) adalah kegiatan yang digunakan sebagai sarana untuk merefresh kembali visi gerakan kemahasiswaan yang searah dengan fokus JOY. Fokus JOY di tahun 2018 secara garis besar terkait dengan perawatan anggota inti, penjangkauan di kampus UMBY dan UPN serta meramu ulang peran pertemuan massa dalam kegerakan rohani mahasiswa di Jogja.

So, be ready ya! Core Member Camp akan diadakan pada 18-19 Agustus 2018 di Wisma Salam dengan kontribusi 50rb per orang. Keterangan lengkapnya silahkan klik di sini

Informasi selanjutnya bisa menghubungi Kak Presty.

Salam JOY Spirit (Jesus First, Others Second, You Third)

 

Additional Training

Salam hangat dari Presty dan Agnes. Kami menyampaikan selamat berkunjung ke website JOY  ini.

Sebagai Informasi, dalam waktu dekat ini akan segera diadakan additional Training  pada Selasa dan Sabtu tanggal 21 dan 25 Agustus 2018.

Kelas yang dibuka adalah :

  • 104 : Knowing yourself  –> dengan Pengajar  : Kak Riana
  • 205 :  Study Habit (Advance) –> dengan Pengajar : Kak Gina
  • 301b : How To Lead a Group Bible Study –> dengan Pengajar : Bang Sopar

Dalam rangka memperlengkapi leader dan meneguhkan kepemimpinannya di persekutuan JOY, para calon leader diundang untuk Retreat Encounter yang akan diadakan pada tanggal 1-2 Sept 2018 di villa Bandungan.

Demikian Informasi dari HRD.

Salam JOY Spirit (Jesus First, Others Second, You Third)