STRESS MANAGEMENT (A Training Resume)

ditulis oleh Gloria PM

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang Stress Management. Melanjutkan materi sebelumnya tentang Kecemasan dan Kognitive Therapy.

Stress Management adalah bagaimana cara seseorang untuk mengolah stress yang terjadi dengan cara yang benar. Tetapi sebelum itu, perlu mengenali apa yang menjadi pemicu stress.

Mengelolah stress (Stress Management) tidak serta merta dapat diatasi dengan waktu yang singkat tetapi butuh proses serta kedisiplinan dan konsisten dalam melakukannya.

Ketika mengetahui bahwa diri kita rentan untuk terkena stress, maka kita perlu tahu apa yang menjdi pemicunya, diantaranya:

  1. Situasi
  2. Emosi
  3. Kata-kata
  4. Suara
  5. Sight/ Pandangan
  6. Bau
  7. Memori

Selain perlu mengetahui apa yang memicu stress terjadi, kita juga perlu tahu bagaimana pola stress ketika kita dipicu, yaitu:

  1. Volcano/slow build up yaitu pola yang munculnya pelan-pelan tapi kemudian meledak
  2. Dipengaruhi oleh mood

Selain itu perlu juga mengetahu tanda-tanda fisik yang muncul ketika seseorang mengalami stress, diantaranya:

  1. Kepala terasa akan meledak
  2. Frustasi
  3. Meningkatnya detak jantung
  4. Kepala pusing
  5. Otot-otot tegang
  6. Nafsu Makan Naik/Turun
  7. Banyak Pikiran/Over thinking

Dengan mengetahui penyebab yang memicu, pola stress serta tanda-tanda fisik yang muncul ketika seseorang mengalami stress, maka langkah pertama atau sederhana yang bisa di lakukan untuk menanganinya adalah:

  1. Kontrol tubuh
    – Say to myself STOP
    – Imagine a red STOP sign
    Nafas dalam (Ambil nafas, hitung 1..2, lepaskan. Lakukan itu selama beberapa kali)
  2. Lakukan aktifitas
    Pilih aktivitas pasling sedikit ½ jam. Jika pikiran tentang masalah muncul perlu mengatakan kepada diri sendiri: ‘maaf, aku sedang sibuk sekarang, aku akan kembali dan berhadapan dengan mu nanti”
  3. Manajemen pikiran
     – Self talk
    – Think (10 menit). Ini namanya paradocal therapy. maksudnya seseorang diijinkan memikirkan tetapi dapat dikendalian. Diperbolehkan biar tidak keluar lagi.Kamu bisa menggunakan alarm dengan di set 10 menit, belajar mengendalikan pikiran tidak mikir negatif terus.
    – Simpulkan pikiranmu. Ambil waktu tidak lebih dari 5 menit. Simpulkan apa yang kamu pikirkan dan tuliskan. Misal bilang orang tua tidak mencintai saya.
    – To do listàapa yang saya lakukan (membuat diri melakukan kegiatan sepanjang hari sehingga tidak terlalu memikirkan masalah tersebut)
  4. Ulangi sampai pikiran tentang masalah berubah

Ketika mencoba untuk berubah, jangan mengharapkan akan selalu sukses.

Ketika mencoba untuk berubah, jangan mengharapkan akan selalu sukses. Lihat lah TREND

  • 1 dari 10x=10% perbaikan
  • 2-3x dari 10= 20-30%
  • 6 dari 10 =
  • 8 dari 10=bagus

Penenang Alami

di dalam diri sesorang terdapat penenang alami yang Tuhan sudah ciptakan

Mungkin ada sebagian dari kita belum mengetahui, bahwa di dalam diri sesorang terdapat penenang alami yang Tuhan sudah ciptakan. Penenang alami ini berupa zat yang ada didalam tubuh dan ketika dikeluarkan oleh tubuh akan memberikan perasaan tenang.

Penenang alami ini berupa GABA (Gamma Aminobutyric Acid),  & serotonin adalah sebagai pembawa kabar gembira ke tubuh.

Penenang buatan seperti obat-obatan hanya meniru apa yang dilakukan oleh otak, dengan membuat zat yang mirip dengan zat yang dikeluarkan oleh otak.

Berikut perilaku yang dapat mengurangi penenang alami dalam tubuh, yaitu:

  • Stres
  • Konflik
  • Mengalah membuat orang senang dan menekan perasaan sendiri
  • Kurang tidur
  • Perfectionis

Perilaku yang dapat meningkatkan penenang alami dalam tubuh, yaitu:

  • Sediakan waktu istirahat
  • Tidur yang cukup
  • Meditasi/relaksasi
  • Humor
    Ada beberapa cara meningakatkan faktor kelucuan: baca buku-buku yang lucu, tontonlah film yang lucu, bacalah komik yang lucu, pada akhir hari coba tinjau kejadian-kejadian yang memalukan yang mungkin kamu alami dan lihat apakah kamu dapat mengubahnya menjadi suatu pengalaman yang lucu
  • Kurangi perfeksionis

Selain itu, berikut adalah beberapa makanan yang dapat mengurangi penenang alami didalam tubuh, yaitu:

  • Cafein, ada yang meneliti tentang stimulan yang dapat meningkatkan kecemasan dan serangan panik, kafein ada di daftar paling atas. Kafein ditemukan dalam kopi, teh, cola, cokelat, kakau

Jika memakai kafein, batasilah konumsi kafein satu cangkir kopi dan dua cola sehari.

  • Makanan, beberapa orang merasa resah ketika memakan makanan tertentu, perlu di cek lagi karena setiap orang berbeda terkait makanan yang menimbulkan stress.

Beberapa makanan/minuman yang dapat meningkatkan penenang alami di dalam tubuh yaitu:

  • Sayuran dan buah
  • Makanan yang mengandung mineral dan vitamin.
  • Makanan yang banyak mengandung serat diet (gandum, kacang, sayuran mentah)
  • Minum air putih yang cukup
  • Perhitungan kandungan kalori dibawah yang direkomendasikan

Adapun tanaman-tanaman herbal yang berguna untuk relaksasi, yaitu :

  • Akar-akaran
  • Paper mint
  • Lemon grass

Tidur dan Ketenangan

Sebuah survey dilakukan oleh suatu lembaga penelitian Gallup, kurang lebih setengah orang Amerika tidak tidur sepanjang malam dan banyak dari mereka yang enggan mencari bantuan. Alasan utama dari kurangnya waktu tidur yaitu dikrenkan oleh stress dan pekerjaan.

Ada 2 jenis tidur, yaitu:

  • REM (Rapid Eye Movement) = tidur mimpi dan
  • Tiidur non REM (tidur tanpa mimpi)

Ada beberapa cara untuk memperbaiki kebiasaan tidur seseorang, yaitu:

  • Pergi tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari termasuk akhir pekan.

Jika anda tidur pada waktu-waktu yang berbeda setiap malam, maka jangan heran jika anda tidak mempunyai kebiasaan tidur yang baik. Tubuh anda menjadi bingung oleh karena waktu yang tidak teratur.

Body clock atau lebih tepatnya “jam otak” terdapat di pusat otak yang disebut kelenjar pineal. Dan merupakan suatu daerah otak yang merupakan gudang pembawa berita gembira serotonin

  • Hindari untuk melakukan pekerjaan apapun yang menyebabkan adrenalin anda naik sebelum tidur.

Tiap orang berbeda-beda yang memicu adrenalinnya meningkat. Misalnya menyentuh buku atau menggunakan komputer bisa membuat adrenalin seseorang meningkat, sehingga sulit untuk tidur. Ada yang menonton membuat adrenalinnya meninggkat. Tubuh harus diijinkan untuk menurunkan adrenalin untuk persiapan tidur.

  • Kurangi jumlah cahaya

Kegelapan memicu hormon otak yaitu melatonin. Hormon ini membantu dalam permulaan tidur. Terlalu banyak cahaya mencegah melatonin ini untuk muncul

  • Hindari semua bentuk stimulan di waktu senja.

Misalnya : kafein

  • Jangan memaksakan tidur

Karena masih belajar memperbaiki pola tidur. Jangan marah ketika gagal diawal

  • Pastikan punya tempat yang tenang buat tidur

Lingkungan yang berisik dapat mengganggu tidur

  • Pastikan berlatih secara teratur
  • Pelajari teknik relaksasi
  • Lepaskan pikiran yang mengganggu sebelum tidur
  • Jika terbangun di malam hari. Jangan turun dari tempat tidur jika tidak terpaksa.

Jika bangun secara fisik, adrenalin akan mengalir kembali dan menyebabkan anda terbangun.jangan melakukan kegiatan.

Cara-cara diatas dapat diterapkan sebagai permualaan untuk kita menangani stress dengan mengetahui pemicu, pola serta tanda-tanda fisik tubuh, juga perlu mengetahui makanan/minuman apa saja yang dapat mengurangi/meningkatkan penenang alami dalam tubuh serta dapat mengatur pola tidur akan membantu kita mengatasi dan mengelola stress yang kita hadapi.

Kecemasan (A Training Resume)

ditulis oleh Ria Alfrida TB

Training of existing staf of JOY kali ini membahas tentang Kecemasan, masih berkaitan dengan yang sebelumnya tentang Cognitive Therapy. Saat membahas Kecemasan perlu diketahui ada beberapa istilah yang memiliki kemiripan arti dengan kecemasan yaitu depresi dan ketakutan, namun masing-masing memiliki stimulus yang berbeda.

Apa perbedaan antara kecemasan, ketakutan dan depresi?

Perbedaan kecemasan dengan ketakutan
Kecemasan= tidak jelas obyek yang dicemaskan
Ketakutan=penyebabnya jelas (diketahui)
Kecemasan:berhubungan denga masa depan (belum terjadi)
Depresi: berhubungan dengan masa lalu, masa sekarang (sudah terjadi)

Kecemasan atau anxiety yang tidak diatasi dengan baik bisa mengakibatkan kondisi kejiwaan yang abnormal sehingga dapat berpotensi menjadi suatu ancaman terhadap diri sendiri. Berdasarkan klasifikasi kecemasan

Jenis-jenis kecemasan dapat dikelompokkan berdasarkan “pendekatan” dan “tingkat kecemasan”

Gejala – Gejala Adanya Kecemasan:
Gejala fisik: Ketegangan otot (seperti otot leher, rahang, punggung, dan kadang-kadang dada dan kaki), sakit kepala, rasa nyeri (pada dada dan kaki), kelelahan yang berlebihan, gemetar, rasa pusing, jantung berdebar, diare, kesulitan bernafas, sulit menelan, ingin menangis, masalah kandung kemih, serangan panik
Gejala perilaku cemas adalah berjaga-jaga/terlalu waspada, lekas marah, ragu-ragu, tegang, terlalu bergantung, takut, konsetrasi menurun, gampang lupa, mudah terdistraksi, gugup, tidak sabaran, sulit untuk tidur, terlalu banyak bicara, fungsi dan ketertarikan seksual menurun

Secara universal ada pandangan kekristenan yang berpendapat bahwa kecemasan, kekuatiran adalah dosa, begitupula sebaliknya ada yang menganggap bahwa kecemasan bukanlah dosa. Untuk itu perlu diperhatikan dalam konteks tersebut konseli memegang pendapat yang mana( di bagian ini juga harus di konseling.

Jenis kecemasan berdasarkan pendekatannya:
1. Kecemasan sebagai salah satu bentuk emosi. Dapat dikatakan bahwa kecemasan ini merupakan kecemasan yang wajar. kecemasan yang rasional yaitu kecemasan yang timbul karena adanya ancaman terhadap keberadaan diri seseorang. Kecemasan sesuai dengan ancaman yang ada
2. Kecemasan sebagai bagian dari kepribadian. Ada orang-orang yang memiliki kepribadian tertentu membuat orang tersebut menjadi mudah menjadi cemas. Beberapa ahli mengklaim bahwa kecemasan ini disebabkan oleh faktor genetik dan faktor keturunan, faktor biologis
3. Kecemasan sebagai bagian dari psikologi abnormal. Kecemasan bagian ini sudah digolongkan sebagai gangguan secara psikologis, gangguan kecemasan. (DSM) Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (gangguan cemas (phobia, gangguan panik)


Jenis kecemasan berdasarkan tingkat kecemasan:
1. Kecemasan Normal
Kecemasan yang normal yaitu suatu reaksi yang seimbang dengan tingkat ancaman yang ada.
2. Kecemasan Tidak Normal
Suatu reaksi terhadap ancaman ketika reaksi tersebut tidak seimbang dengan tingkat ancaman.

Gejala-gejala adanya kecemasan

  1. Gejala Fisik seperti ketegangan otot, sakit kepala, nyeri pada beberapa bagian tubuh, lelah yang betlebihan, diare, kesulitan bernafas, serangan dan masalah fisik lainnya
  2. Gejala Perilaku seperti terlalu waspada, mudah marah, ragu-ragu, terlalu bergantung, tidak sabar, konsentrasi menurun, sulit untuk tidur, terlalu banyak bicara dan beberapa perilaku lainnya

Pandangan Kekeristenan terhadap Kecemasan

Ada pendapat yang mengatakan kecemasan, kekuatiran adalah dosa. Sebaliknya ada juga pendapat yang mengatakan itu bukan dosa. Dalam konseling hal ini harus diperhatikan

dengan merubah kognitif maka akan ada perubahan perilaku dan perasaan

Cara-Cara Mengatasi Kecemasan Menurut Pandangan Umum
1. Obat-obatan (sesuai resep yang diberikan)
2. Terapi kognitif dan terapi perilaku
3. Metode self-help (meditasi, teknik-teknik relaksasi, terapi seni, musik dan terapi pijat


Cara-Cara Mengatasi Kecemasan Menurut Pandangan Kristen
1. Menumbuhkan perasaan damai dengan jalan refleksi dari ayat-ayat alkitab
2. Menumbuhkan pengharapan
3. Doa
4. Bersyukur
5. Mengingat janji-janji Allah
6. Mengingat siapakah Allah
7. Membaca Alkitab (konseling dengan menggunakan alkitab, Jay Adams (1970))

Berdasarkan kedua pandangan tersebut, cara mengatasi kecemasan ditekankan pada perubahan kognitif yang dipercaya akan merubah perilaku dan perasaan sehingga akan mengurangi kecemasan.

Cara mengatasi kecemasan menurut pandangan Kristen merupakan bentuk yang sejalan dengan self-help untuk mengatasi kecemasan menurut pandangan umum.

Cara mengatasi kecemasan menurut pandangan Kristen juga merupakan bentuk terapi kognitif, misalnya mengingat janji-janji Allah, mengingat siapakah Allah, membaca Alkitab, bersyukur dan berdoa.

Sama seperti pemahaman umum bahwa dengan merubah kognitif maka akan ada perubahan perilaku dan perasaan dari seseorang yang merasa cemas. Dengan melakukan terapi kognitif dengan cara Kristen akan mengurangi kecemasan dan menumbuhkan perasaan damai dalam diri orang yang mengalami kecemasan.

Cognitive Therapy (A Training Resume)

ditulis oleh Diljerti Panggalo

Dalam pertemuan Pelatihan Staff kali ini, kami belajar materi Terapi kognitif. Pada pertemuan sebelumnya membahas tentang Rapport, Kesimpulan dan Konseling Rasa Bersalah. Terapi Kognitif adalah salah satu cara yang dapat digunakan dalam proses konseling.

Cognitive Therapy

jika pola pikir berubah maka akan mempengaruhi semua aspek kehidupan

Memberikan terapi atau insight yang berkaitan dengan pikiran, data dan fakta. Dasar pemikirannya jika pola pikir berubah mempengaruhi semua aspek (lihat gambar)

pola-dalam-kehidupan
Ini semacam circle tidak pernah berakhir, dengan kata lain saling mempengaruhi dan berhubungan

fokus adalah membantu konseli untuk membuat keputusan atau mengubah pola pikir (kognitif) agar bisa menghadapi masalah yang ada.

Kasus yang sering  menggunakan terapi kognitif seperti kasus depresi, kecemasan, penghargaan diri (khusus kasus-kasus ini kognitif yang terapi pertama yang digunakan). Terapi kognitif  membatu melihat pola pikiran yang salah dan mengubahnya. Terapi kognitif  bisa di kombinasikan dengan terapi lain,

Beberapa Distorsi/ kesalahan kognitif :

    Umum terjadi pada kecemasan dan depresi

  • Pemikiran segalanya atau tidak sama sekali (all or nothing)

Distorsi kognitif ini membuat sesorang berpikir hanya di dua titik ekstrem. Orang-orang pasti baik atau jahat. Hidup akan berjalan lancar atau buruk.

  •  Over-generalisasi

Seseorang yang memandang suatu peristiwa negatif sebagai pola yang tiada akhir.

Contoh: seorang pemuda yang pernah dikhianati oleh pacaranya, berpikir bahwa semua wanita juga akan mengkhianatinya

  • Filter mental

Hal kecil yang negatif yang terus dipikirkan sehingga pandangannya hanya berpusat pada hal negatif yang kecil tadi. (Distorsi kognitif ini adalah seperti memakai kacamata hitam untuk memandang dunia. Seseorang akan terfokus hanya pada hal-hal yang negatif saja dan mengabaikan aspek positif yang ada.). Contoh: seorang mahasiswa yang mengerjakan 30 soal, ia dapat menyelesaikan 25 soal dengan yakin, tetapi karena tidak yakin dengan 5 jawaban yang lain, ia terus menerus merasa muram sepanjang hari tersebut.

  • Mendiskualifikasi hal positif yang diterimanya

Menolak pengalaman-pengalaman positif dengan bersikeras bahwa semua itu “bukan apa-apa”. Dengan berbuat seperti itu, seseorang mempertahankan suatu keyakinan negatif, bahkan ia dapat merubah yang positif menjadi negatif.

  • Loncatan ke Kesimpulan

Langsung membuat kesimpulan negatif tanpa memiliki bukti yang ada

  1. Seolah-olah bisa membaca pikiran, dia merasa orang lain membicarakan dia saat ada yang melihat kearahnya
  2. Meramalkan sesuatu yang buruk akan terjadi. Meramalkan bahwa segala sesuatu akan menjadi sangat butuk, dan merasakan bahwa ramalan itu benar-benar akan terjadi
  • Pembesaran dan Mengecilkan

Saat seseorang memandang sesuatu tidak sesuai dengan porsinya. Kemungkinan pertama adalah pembesaran, yaitu saat kita membesarkan hal negatif yang terjadi lebih dari apa yang sebenarnya menjadi porsinya. Kemudian, kemungkinan kedua adalah mengecilkan pencapaian atau hal positif.

  • Penalaran Emosional

Emosi yang dianggap sebagai suatu realita. Saat kita terlalu fokus pada emosi dan memberikan porsi yang terlalu banyak pada sisi emosional saat memandang atau memutuskan sesuatu.

  • Pemikiran “Harus”

Distorsi kognitif membuat kita terjebak dalam suatu ideal yang menurut kita harus orang lain atau kita sendiri lakukan.

  • Labeling

Mirip dengan black and white thinking, distorsi kognitif ini membuat kita memberi label pada siapapun; orang lain, ataupun kita sendiri.

  • Personalisasi

Saat seseorang terlalu fokus pada emosi dan memberikan porsi yang terlalu banyak pada sisi emosional saat memandang atau memutuskan sesuatu.

Kebanyakan distorsi kognitif dapat ditangani dengan mengerjakan tugas yang diberikan konselor, hal yang diberikan konselor adalah hal-hal yang berlawanan dari distorsi yang dialami konseli (bagi konseli yang bermasalah dengan distorsi penghargaan diri, kecemasan).

Contoh Tugas bagi kasus yang suka marah: mendata keuntungan dan kerugian jika marah.

 Hal yang menjadi fokus terapi ini adalah membantu konseli untuk membuat keputusan atau mengubah pola pikir (kognitif) agar bisa menghadapi masalah yang ada. karena masalah akan terus ada di lingkungan konseli setiap hari.

masalah akan terus ada di lingkungan konseli setiap hari.

Dalam diri seseorang bisa saja mengalami lebih dari satu distorsi kognitif.

  1. Apa penyebab Distori kognitif

Disebabkan dari nilai yang dipengaruhi oleh bentukan keluarga, contoh: harus dapat nilai tinggi untuk menunjukan kalau seseorang itu sukses. Selain itu Tekanan hidup dan Luka batin juga menjadi penyebab distorsi kognitif.

2. kasus kecemasan:

Berawal dari kecemasan yang berlebihan

3. Kasus penghargaan diri

Berawal dari cara seseorang memandang dirinya.

Rapport, Kesimpulan dan Konseling Rasa Bersalah (A Training Resume)

ditulis oleh Diljerti Panggalo

Dalam pertemuan Pelatihan Staff kali ini, kami belajar materi Teknik Konseling. Pada pertemuan sebelumnya membahas tentang Validasi, Konfrontasi, Silent , Simbol & Word Picture. Pertemuan kali ini masih membahas tentang beberapa teknik lain yang digunakan dalam konseling.

Teknik konseling

     Rapport

Rapport itu seperti membangun jalan raya antara konselor dan konseli

Adalah hubungan yang terdapat di dalam konseling dimana tujuannya untuk membangun relasi antara konselor dan konseli sehingga proses konseling dapat berlangsung dengan baik. Rapport itu seperti membangun jalan raya antara konselor dan konseli. Biasanya dilakukan diawal setiap konseling (Welcoming)

Cara  membangun rapport

  • Mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan konseli dengan membaca catatan konseling sebelumnya
  • Kata pembuka yang “menenangkan” seperti dari mana, wah terimakasih sudah berjuang datang
  • Pertanyaan “pembukaan” di awal,  tidak langsung ke sesi konseling
  • Sikap konselor (respon, anggukan)

Kesimpulan

kesimpulan yang singkat akan mengurangi kebingungan konseli

Sesuai namanya teknik ini merupakan kesimpulan dari cerita konseli yang dirangkum dari sesi-sesi konseling. Kesimpulan bisa dari beberapa sesi konseling atau dari satu sesi pertemuan konseling. sebaiknya rangkuman tetap singkat, ringkasan atau kesimpulan yang singkat akan mengurangi kebingungan konseli. Kesimpulan berisi perasaan dan isi cerita, kesimpulan dilakukan oleh konselor. Kadangkala dalam melakukan kesimpulan ada kemungkinan distorsi atau salah interpretasi, sehingga sebagai konselor harus selalu crosscheck kepada konseli.

Kesimpulan yang baik, memiliki fungsi:  

  1. Sebagai pemeriksaan persepsi konselor
  2. Melihat kembali  dan memberikan gambaran masalah kepada konseli secara utuh
  3. Jika kesimpulan lebih jelas, akan mempermudah untuk memutuskan langkah selanjutnya, tindakan selanjutnya dll

Konseling Rasa Bersalah

Terkadang konseli yang datang untuk konseling membawa masalah terkait rasa bersalah akan sesuatu hal. Agar proses konseling tepat sasaran, maka konselor perlu mengetahui jenis rasa bersalah yang dimunculkan oleh konseli.

Rasa bersalah ada 2:

  1. Rasa bersalah yang sesungguhnya (tepat pada tempatnya). Jika tidak ada rasa bersalah, malah merupakan suatu yang aneh. Misal setelah melakukan pembunuhan, memaki, dst.

Ada kesalahan yang bisa ditunjukkan.

Cara menolongnya mengakui kesalahan, minta pengampunan dan mengampuni diri sendiri

  • rasa bersalah yang tidak sesungguhnya (tidak pada tempatnya).

Tidak ada kesalahan yang tidak dapat ditunjukkan

Misal: orang tua bercerai, seorang anak merasa itu kesalahannya

Cara menolongnnya dengan memakai terapi kognitif untuk menunjukkan bahwa rasa bersalah konseli adalah rasa bersalah yang tidak tepat

Saat menolong konseli yang memiliki rasa bersalah, konselor harus membedakan rasa bersalah tersebut lalu menolongnnya sesuai dengan jenis rasa bersalahnya.

Setelah mempelajari teknik konseling kami belajar untuk menggunakan teknik yang tepat pada verbatim konseling yang ditemukan di google. Dari beberapa kasus yang ditemukan, kami mencari kercakapan yang mungkin bisa diganti dengan yang lebih tepat dan juga belajar menganalisis cerita konseli untuk mencari tahu langkah apa yang sebaiknya digunakan berdasarkan teknik yang sudah dipelajari beberapa minggu lalu.

Validasi, Konfrontasi, Silent , Simbol & Word Picture (A Training Resume)

ditulis oleh Gloria PM

Dalam pertemuan Pelatihan Staff kali ini, kami belajar tentang materi yang sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu Teknik Konseling Paraphase dan Question dimana kali ini teknik-teknik yang dibahas oleh ak Riana yaitu: Validasi, Konfrontasi, Silent, Simbol & World Picture.

  1. Validasi

“It’s Okay to be who you are”

Adapun pengertian dari validasi yaitu: Sebuah teknik dalam konseling untuk pengukuhan dan penguatan yang diberikan seorang konselor kepada konseli. Artinya memberitahu kepada konseli bahwa “It’s Okay to be who you are”. Yang jika diartikan bahwa tidak masalah dengan apa adanya dirimu saat ini.
Sesuatu yang positif, memberi pengakuan akan usaha yang dilakukan konseli

Sebagai contoh : “ Wah! Kamu luar biasa ya.. sudah bertahan sampai sekarang”, contoh yang lainnya yaitu : “saya sekarang sudah mengerti mengapa Andi banyak tertawa minggu lalu…karena ternyata begitu banyak kesedihan yang Andi alami. Saya senang melihat Andi bisa tertawa.” (setelah menolong konseli melihat kekuatannya, pada tahap selanjutnya konselor akan menunjukkan bahwa hal ini juga membuat hidupnya sekaligus tidak efektif)

  • Menyampaikan insight yang mungkin tidak diketahui oleh konseli.

Dengan teknik validasi, konselor dapat membantu konseli untuk menemukan insight atau menambahkan sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak disadari oleh konseli.

  • Berfungsi sebagai jembatan untuk menolong konseli untuk menggali lebih dalam informasi dan perasaaanya.

Sebagai contoh : “apakah dari dulu Andi suka tertawa?” atau “ apakah yang Andi rasakan setelah Andi tertawa?”- misal jawabannya adalah lupa masalahnya setelah tertawa. Dengan cara ini, kita menyampaikan pesan bahwa “it’s OK kamu tertawa”, dan pada perkembangan sesi berikutnya dapat kita ungkapkan apa yang ada dibalik tertawa setelah dia bebas menjadi dirinya.

  • Teknik validasi bukan merupakan sesuatu yang” murahan”, butuh waktu yang tepat untuk diungkapkan.
  • Konfrontasi

Secara umum, konfrontasi adalah menantang orang lain atas ketidaksesuaian atau ketidak sepakatan. Adapun teknik konfrontasi adalah upaya konselor untuk membangkitkan kesadaran konseli tentang sesuatu yang mungkin tidak sesuai atau yang telah mereka abaikan.

Jika konfrontasi yang diberikan tepat, maka akan memberikan insight kepada konseli.

Hal –hal yang biasanya di konfrontasikan yaitu:

  1. Ketidakkonsistenan

Ada 4  ketidakkonsistenan yang biasanya terjadi dalam proses konseling yaitu:

  • Data

Terdapat ketidaksesuaian cerita sekarang dengan cerita sebelumnya yang diutarakan oleh konseli.

Sebagai contoh : “dulu bilang masa remaja menyedihkan sekarang ia bilang masa remaja adalah masa yang menyenangkan”

  • Ekspresi

Perasaan yang dirasakan dengan ekspresi tubuh dikeluarkan selama konseling tidak sesuai.

Sebagai contoh: “cerita tentang kesedihan tetapi dengan senyuman, mengatakan kemarahan berada di tingkat 2 tetapi ekpresinya seperti di tingkat 9 (demikian sebaliknya)

  • Reaksi

Reaksi yang berbeda dikeluarkan oleh konseli kepada dua contoh kasus yang diberikan.

contoh :  “terhadap kasus A konseli marah, tetapi dengan kasus B yang mirip, konseli tidak marah”

  • Perlakuan

Adanya perlakuan yang berbeda dari konseli terhadap dua orang

Sebagai contoh : “perlakukan konseli terhadap A dan B berbeda”

Teknik Konfrontasi ini bertujuan menolong konseli untuk  melihat ada apa dengan ketidakonsistenan tersebut.

  • Penyangkalan/Denial

Teknik konfrontasi dapat juga diterapkan dalam hal penyangkalan, jika konselor merasa alasan yang diungkapkan tidak sesuai.

Sebagai catatan, perlu hati-hati untuk melakukan konfrontasi dengan penyangkalan dari konseli, karena terkadang ada beberapa orang yang sementara perlu bertahan/berpijak dengan penyangkalan/denialnya dulu, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama.

Maka konselor harus dengan bijak menggunakan teknik konfrontasi terhadap penyangkalan di waktu yang tepat.

Hal-hal yang menjadi perhatian ketika menggunakan teknik konfrontasi ini adalah:

  1. Dalam konfrontasi perlu hati-hati, jangan menghina konseli/jangan merendahkan konseli
  2. Jangan langsung “penggempur” dengan semua konfrontasi
  3. Efek samping: konseli tidak suka dengan apa yang dihadapkan kepadanya, konseli merasa disudutkan, tapi konselor juga tidak perlu untuk  merasa bersalah
  4. Jika sudah konfrontasi tetapi konseli berkelit, hal yang sebaiknya dilakukan oleh konselor adalah diam saja, jangan berebut kekuasaan. Dan jangan juga jika di sesi selanjutnya konseli mengungkapkan hal yang sudah konselor ungkapkan sebelumnya, jangan bilang “nah, benerkan yang aku ngomong”
  • Silent

Sering kali kita beranggapan bahwa proses konseling adalah hanya berisi kegiatan saya, tetapi dalam konseling butuh yang namanya “ diam” juga.

 Adapun fungsi dari Teknik Silence ini adalah:

  1. Agar konseli bisa merasakan perasaannya

Yang terpenting adalah agar konseli bisa merasakan perasaannya

Diam dalam pikirannya, terutama untuk orang-orang yang memiliki kecemasan tinggi atau fungsional, dengan diam membuat konselor melihat perubahan wajahnya

  • Untuk melihat konseli, apakah merasa tidak nyaman serta untuk melihat reaksinya

melihat reaksi konseli dengan kesunyian (untuk menunjukkan hal-hal yang hilang dalam kesunyian). Melihat apa yang konseli lakukan dalam keheningan. Kadang seseorang tidak nyaman dalam keheningan karena takut dinilai

  • Merubah ritme percakapan apabila konseli berbicara terlalu cepat
  • Merubah arah percakapan
  • Dengan sengaja memberikan waktu kepada konseli untuk mengeluarkan perasaannya.
  • Konselor mau memberikan bola/tanggung jawab kepada konseli sendiri.
  • Simbol & Word Picture

Ilustrasi yang membuat konseli paham akan situasinya

Teknik ini berfungsi sebagai ilustrasi yang membuat konseli paham akan situasinya. Selain itu penggunaan teknik ini membuat konseli bersentuhan dengan perasaan dan juga membuat konseli mudah mengingat. Bisa dikatakan teknik ini seperti ilustrasi saat khotbah.

Adapun contoh teknik konseling menggunakan simbol yaitu:

  • “Andro seperti seorang yang membawa gunting tanaman dan siap memperindah semua kebun yang perlu digunting” siapa andro tanpa gunting tanaman?
  • Hidupmu seperti sebuah tanda tanya ya?
  • Sekarang  tidak ada lagi piring yang harus di cuci yaa (kasus seorang ibu yang terus menerus berusaha menyenangkan hati mertuanya dengan selalu sibuk jika ada di rumah mertuanya)

Teknik konseling menggunakan word picture sama seperti simbol yang menggunakan ilustrasi namun biasanya lebih panjang seperti skenario.

Adapun contoh teknik konseling menggunakan word picture yaitu:

  • Konselor berkata: saya membayangkan ada anak kecil yang bernama Rina, yang ada di tepi jalan, sendiri, menangis karena ditinggal orang tuanya yaa
  • “ketika ibu cerita, saya membayangkan seekor induk ayam yang terus menerus melindungi anak-anaknya. Saya membayangkan ibu seperti induk ayam itu yang terus berjuang keras melindungi anak-anak ibu
  • Bisa juga dipakai untuk menolong konseli menemukan insight , misalnya kamu dan papamu terdampar di sebuah pulau, apa yang akan kamu lakukan dengan papamu.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan yaitu:

  • Bagaimana kalau salah ilustrasi?, it’s ok (tidak masalah)
  • Kalau gambaran/ilustrasinya benar, umumnya akan membuat konseli terdiam. Jika konseli menjawab; “oh, mungkin ada benarnya” Berarti itu belum sepenuhnya benar. Konselor bisa menjawab “bagaimana yang benar menurutmu?”

Demikian beberapa teknik konseling yang telah dibahas di pelatihan staff kali ini, yang pastinya teknik-teknik ini membantu dalam peer konseling.

Paraphrase dan Question (A Training Resume)

ditulis oleh Ria Alfrida TB

Topik yang kami bahas dalam pertemuan Training of Existing Staff of JOY kali ini adalah Paraphrase dan Question dalam melakukan konseling, melanjutkan materi sebelumnya yaitu Mendengarkan secara aktif / Active Listening.

  1. Paraphrase

Secara umum Paraphrase adalah mengulang cerita konseli dengan menggunakan kalimat sendiri.

Paraphrase merefleksikan hal yang penting yang telah dikatakan konseli.

Berdasarkan pernyataan di atas, perlu diketahui bahwa Paraphrase memiliki manfaat dalam konseling baik kepada konselor sendiri maupun kepada konseli, berikut ini adalah beberapa manfaat Paraphrase yaitu :

  • Paraphrase menumbuhkan empati konselor
  • konseli merasa di dengarkan dan dimengerti
  • Paraphrase membantu konseli menyimpulkan isu penting lebih mendalam dan terpusat
  • Paraphrase membantu mengecek persepsi konselor
  • Membantu konseli memahami perasaannya

Langkah-langkah dalam melakukan Paraphrase adalah :

  • Dengar (mendengarkan dengan seksama cerita konseli)
  • Indentifikasi bagian dari cerita yang mengidentifikasikan kejadian, situasi, ide, atau orang yang konseli bicarakan
  • Tangkap kata kunci
    Kata kunci tidak selamanya adalah kata-kata yang sering diucapkan konseli
  • Memberikan pertanyaan (biasanya dalam bentuk pertanyaan singkat)

Dalam proses mengidentifikasi Paraphrase kita perlu memperhatikan dengan seksama Key word/kata kunci yang diucapkan oleh konseli, oleh karena itu ada beberapa hal yang sebaiknya kita pahami secara seksama, yaitu :

  • Kata-kata yang keluar dari mulut konseli itu sendiri
  • Sebuah tema bagi konseli
  • Dapat dipakai konselor untuk diingat yang dapat menjadi pijakan
  • Kata ini tidak selalu sering diucapkan tapi kata yang penting yang keluar dari mulut konseli
  • Semakin sering melakukan konseling, maka akan semakin peka dengan kata kunci

Catatan: Paraphrase yang tidak akurat dapat memunculkan respon “hah?”

Contoh memparaprasekan cerita konseli:

  1. Konseli: “Aku tidak tahu tentang dia. Satu saat dia sangat ramah, dan berikutnya aku melihatnya, dia benar-benar dingin. “

Konselor:  “kamu bingung tentang siapakah dia sebenarnya.”

  • Konseli : Dia sangat payah. Pekerjaannya tidak beres. Dia tidak terlatih. Hubungan dengan anggota CGnya juga tidak baik

Konselor: kamu mengganggap dia tidak kompeten

2. Pertanyaan

Setelah mempelajari topik tentang Paraphrase, selanjutnya kita sama-sama mempelajari topik terkait Question/pertanyaan yang akan diajukan kepada konseli.

Fungsi pertanyaan dalam konseling:

  • Membantu konselor untuk menggali informasi dari konseli

(pertanyaan bisa membantu memahami situasi konseli. Informasi yang sesuai dengan konteks konseling).

  • mengklarifikasi informasi
  • membantu mengarahkan fokus konseli.
  • Pertanyaan dapat membuka area baru untuk diskusi di dalam konseling

gunakan teknik bertanya yang membuat konseli merasa nyaman

Ada 2 tipe pertanyaan:

  1. Pertanyaan tertutup/closed questions
  2. Pertanyaan yang dijawab dengan respon minimal (‘ya’ atau ‘tidak’).
  3. Mengklarifikasi informasi
  4. Mengarahkan fokus konseli
  5. Pertanyaan yang mengarah sesuai dengan hal yang dilihat konselor dalam cerita konseli. Misalnya “jadi kamu merasa kecewa karena perbuatannya kepadamu?
  • Pertanyaan terbuka/open questions
  • Pertanyaan terbuka memberi kemungkinan besar akan mendapat jawaban yang panjang
  • Pertanyaan terbuka mendorong konseli untuk berbicara
  • menawarkan kesempatan bagi konselor untuk mengumpulkan informasi tentang konseli

Pertanyaan

  • Apa :  mengarah pada fakta dan informasi
  • Kapan :  menampilkan waktu masalah
  • Dimana :  memungkinkan diskusi tentang lingkungan dan situasi kejadian.
  • Mengapa : memunculkan alasan.

Catatan:

Perlu berhati-hati saat menanyakan pertanyaan ‘mengapa’. Pertanyaan mengapa dapat memicu perasaan defensif pada konseli dan dapat mendorong konseli untuk merasa seolah-olah mereka perlu membenarkan diri sendiri dalam beberapa cara.

  • Bagaimana : memungkinkan pembicaraan tentang perasaan  atau proses.
  • Who : mengarah kepada fakta

Perhatian:

penggunaan pertanyaan yang berlebihan atau menggunakan teknik bertanya yang dapat berdampak negatif pada sesi. Teknik bertanya yang salah, pada waktu yang salah, di tangan konselor yang tidak terampil, dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kebingungan bagi konseli.

Dalam proses konseling, konselor perlu memperhatikan setiap pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada konseli agar tidak mengakibatkan kesalahan yang fatal atau membuat konseli merasa tidak nyaman saat konseling. Berikut adalah 5 teknik bertanya yang salah :

  1. Pengeboman

ketika konselor terjebak dalam pola memberikan pertanyaan-pertanyaan satu demi-satu (bisa terjadi karena konselor terburu-buru segera ingin tahu).

  • Pertanyaan ganda.

konselor mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Misalnya “Tolong ceritakan tentang diri anda, berapa usia anda, di mana Anda lahir, apakah Anda punya anak dan apa pekerjaan Anda?.

  • Pertanyaan sebagai suatu pernyataan

Terjadi ketika konselor menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk menjual sudut pandang mereka sendiri. Misalnya, “Tidakkah menurut anda akan berguna jika anda belajar lebih banyak?” atau “Apa pendapat anda tentang mencoba latihan relaksasi daripada apa yang anda lakukan sekarang?

Harus hati-hati karena ini seperti memberikan jawaban tetapi lebih dengan cara yang halus.

  • Pertanyaan dan perbedaan budaya

Perlu diperhatikakn misalnya menyangkut budaya yang tidak sesuai dengan budaya konseli.

  • Pertanyaan mengapa

kecenderungan konseli mencari pembelaan terhadap pernyataan yang disampaikannya.

Disarankan menggunakan teknik bertanya yang membuat konseli merasa nyaman dan menghindari teknik bertanya seperti yang dijelasankan diatas.

Mendengarkan Secara Aktif/Active Listening (A Training Resume)

ditulis oleh Oya Citra

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang mendengarkan secara aktif. melanjutkan materi sebelumnya Etika Konseling dan Tujuan Konseling.

Kunci dalam mendengarkan secara aktif adalah konselor tidak hanya mendapatkan informasi, melainkan mendorong konseli untuk tetap atau terus berbicara.

Hal-hal yang harus kita dengarkan adalah :

Mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi dibalik kata-kata.

  1. Dengarkan perasaan konseli
    a. Mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi dibalik kata-kata. Alasan mengapa konselor mendengarkan perasaan-perasaan yang tersembunyi karena konselor menunjukkan bahwa ia mengerti perasaan konseli
    b. Memantulkan perasaan-perasaan yang konselor dengar itu kepada konseli.
    c. Mencerminkan sikap yang menerima (menerima tidak berarti menyetujui). Misal: “saya mengerti perasaan itu kalau pernah dalam posisi itu

Catatan; kalau memang belum pernah ada di posisi tersebut: jangan mengatakan “aku mengerti perasaanmu” konselor tidak pernah paham dan sungguh dapat mengerti perasaan tersebut. Kata-kata ini sangat sensitif buat konseli

2. Dengarkan isi cerita atau buah pikiran konseli.

3. Mencapai kesamaan persepsi atau makna dengan cara mengecek kembali dengan konseli apa yang telah dikatakannya. Misalnya: “jadi yang kamu maksudkan adalah…?”

  1. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
  2. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
  3. Memperhatikan intonasi suara
  1. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
  2. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
  3. Memperhatikan intonasi suara
  4. Mendengarkan dan melihat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh konseli. Hal ini dilihat dari bahasa non verbal dari konseli, yaitu :
    a. Memperhatikan pergerakan pada tubuh dari konseli. Contohnya dia sedang gelisah, dia akan melakukan gerakan yang menunjukan bahwa dia sedang gelisah.
    b. Memperhatikan intonasi suara
    c. Memperhatikan pergerakan emosi. Contohnya dia mengatakan begini “Saya tidak sedih kok”. Padahal saat itu matanya sedang berkaca-kaca seperti ingin menangis.
  5. Tindakan memotong pembicaraan
    Tindakan ini boleh dilakukan oleh konselor dengan catatan : hal ini tidak boleh dilakukan dengan sembarangan atau dengan semena-mena. Kasus ini memang jarang terjadi. Namun untuk menangani kasus ini, dibutuhkan skill dan juga latihan.
  6. Jangan mencari jawaban ketika konseli bercerita.
  7. Perhatian dan jangan melamun. Jaga pikiran kita dari pikiran yang mengembara dan fokus pada konseli.
  8. Bereaksi secara tepat, misalnya dengan anggukan, senyum, komentar,dan dukungan.

Ingat bahwa: komunikasi terdiri 35% perkataan yang diungkapkan dan 65% yang tidak diucapkan (john Back)

  • Mendengarkan isi atau buah pikiran  konseli.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulang isi/parafrase (bisa ada perasaan juga di dalamnya).

Contoh :

  • Konseli : Orang tuaku selalu tidak pernah puas dengan apa yang aku capai, semuanya selalu salah di depan mereka, berbeda kalau dengan kakakku, dia selalu dipuji.

Konselor : Kamu sedih ya, karena orang tuamu memperlakukan mu berbeda dengan kakak mu.

  • Konseli : Nilai saya selalu jelek, saya tidak cocok dengan jurusan saya, setiap kali baca jurnal bawaannya gantuk terus.

Konselor : Jadi kamu tidak suka dengan jurusan mu ?

Bahasa non Verbal

Di dalam komunikasi, pemahaman terhadap bahasa non-verbal akan mendukung lancarnya komunikasi. Hampir tidak ada manusia di dunia yang berkomunikasi tanpa menggunakan dukungan bahasa non-verbal. Bila bahasa menjadikan hambatan, maka komunikasi dengan bahasa non-verbal justru menjembatani adanya hambatan bahasa tersebut.

Misalnya: saya mencintaimu, tetapi ada senyum sinis di bibirnya

                     Saya tidak sedihà tetapi matanya berkata-kata

Aspek-aspek bahasa non-verbal

  1. Cara berbicara

♣ Artikulasi

♣ Ritme berbicara

♣ Aksen/nada suara (penekanan pada suku kata tertentu)

2. Nada suara

nada suara mewakili 35-40% pesan. Nada suara meliputi volume, tingkat dan bentuk emosi dapat muncul melalui kata-kata yang dipilih.
Dampak nada suara pada kalimat yang sama, memiliki makna yang berbeda atau ganda tergantung pada kata yang ditekankan.

Hal-hal yang dapat menghalangi komunikansi dalam konseling :

  1. Memerintah: “kamu harus…..”, “kamu akan…”
  2. Peringatan, ancaman: “jika kamu tidak melakukannya maka…
  3. Memoralkan, berkotbah: “kamu harus….”, “ kamu bertanggung jawab untuk…
  4. Menasehati, memberi solusi: “ apa yang saya lakukan adalah…., “kenapa kamu tidak melakukan…..”
  5. Menghakimi, mengkritik, menyalahkan: “kamu tidak dewasa…”, “kamu malas…”
  6. Nama panggilan-ejekan: “ cry-baby..”, “baiklah,Mr smart…”
  7. Menentramkan hati, simpati: “jangan kuatir..”, “tersenyumlah..”
  8. Menggunakan terlalu banyak penyelidikan atau pertanyaan: “mengapa…”, “siapa…”,  apa yang kamu lakukan…”
  9. Sindiran yang tajam/sarkatis, withdrawal: “mari bicara hal-hal yang menyenangkan..”, “mengapa kamu tidak coba untuk menaklukkan dunia..”

Tujuan konseling (A Training Resume)

ditulis oleh Prestiwani N

Training of Existing Staff of JOY berlanjut lagi. Kali ini membahas tentang tujuan konseling. Melanjutkan materi sebelumnya tentang Etika Konselor dan Mekanisme Pertahanan diri.

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dalam pelaksanaan konseling, antara lain:

  • Membantu konseli untuk menemukan dan melihat permasalahannya secara objektif dan menyeluruh.

Kebanyakan konseli yang datang untuk konseling merasa bahwa permasalahannya lebih berat dari yang seharusnya.

Kadang konseli juga merasa bahwa orang lain selalu menjadi sumber permasalahannya.

  • Membantu konseli untuk menemukan jalan keluar / mengembangkan insight untuk masalahnya sendiri.
  • Mendorong konseli untuk bertumbuh mandiri.
  • Melihat sumber kekuatan konseli dan  menemukan support system.
  • Menurunkan tekanan yang tidak perlu
  • Memberikan pilihan-pilihan realistik
  • Memperbaiki hubungan interpersonal

Seorang konselor bukanlah problem-solver untuk konseli

Seorang konselor bukanlah problem-solver untuk konseli. Lewat proses konseling, konselor memandu konseli untuk menemukan jawaban dan mengambil keputusan bagi permasalahan konseli sendiri.

Panduan dasar konseling

Ada beberapa langkah sebagai panduan dasar dalam melakukan konseling. Langkah-langkah ini harus dilakukan secara berurutan, tidak boleh dilangkahi atau dilakukan secara acak.

  1. Mempersilahkan konseli menceritakan apapun yang ingin dia kemukakan/sharingkan.

Ini merupakan kesempatan konselor untuk mengumpulkan data dan kesempatan konseli untuk mengeluarkan unek-unek (perasaan yang dirasakan seperti kekecewaan, sakit hati dan perasaan lainnya yang dipendam).

  • Membantu konseli mengeluarkan dan menyadari emosi (perasaan) yang ada, yang belum muncul di langkah pertama (1). Dalam istilah psikologi, tahap ini dinamakan katarsis.

Proses tidak bisa maju ke langkah ke 3, jika emosi konseli belum keluar semua.

Di tahap ini konselor perlu memperhatikan adanya unsur budaya dalam hal pengungkapan perasaan, contohnya: jika yang diceritakan berkaitan dengan orang tua atau yang sudah meninggal (terutama di budaya Asia, menceritakan kesalahan atau keburukan orang yang lebih tua atau orang yang sudah meninggal dianggap perilaku tidak sopan), atau menceritakan orang yang sudah berubah menjadi baik (merasa tidak enak karena seperti menjelek-jelekkan orang tersubut).

Cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengeluarkan emosi, antara lain:

  • Menulis dan membaca surat
  • Teknik kursi kosong
  • Psycho-imagery, sebuah latihan mental yang mengoptimalkan pada proses membayangkan yang menggunakan seluruh panca indera.
  • Di Langkah ini ada dua cabang (langkah ini dipilih salah satu sesuai dengan keadaan konseli):
  • Jika berkaitan dengan masalah yang membutuhkan problem-solving: yang dilakukan adalah cognitive therapy.

Untuk kasus tertentu (seperti depresi), kognitif terapi perlu didahulukan sebelum mengeluarkan emosi.

  • Jika berkaitan dengan masalah dengan orang lain (luka batin): yang dilakukan adalah menolong konseli berdiri di “kakinya” atau berdiri di sisi yang lain. Contoh: seseorang yang memiliki luka batin karena seringkali dikritik oleh ibunya, melihat bahwa ibunya dulu mengalami kekerasan verbal dari orang lain.

Langkah ini bisa dilakukan dengan cara: membuat Genogram (pohon keluarga) dan wawancara

  • Melepaskan pengampunan. Konselor mendorong konseli berdoa dan mengucapkan “saya mengampuni…”
  • Memperbaiki perilaku dampak dari luka batin (bisa bersamaan dengan tahap 4).

Contoh: karena sering dikritik, seseorang punya kecenderungan untuk mengritik. Luka batin, seperti layaknya luka fisik, seringkali meninggalkan bekas. Bekas luka ini menjadi perjuangan seumur hidup seseorang. Dengan konseling, kita seperti membantu memasang peredam atau penyaring sehingga dampaknya dapat kita kurangi.