It’s truly a grace!

Ada sangat banyak hal yang membuatku semakin merasa bahwa aku hidup oleh kasih karunia Tuhan.

Sangat bersyukur diberi kesempatan untuk melayani Tuhan melalui team Love Indonesia Project (LIP) bersama JOYers dari Korea. Aku sungguh-sunggguh menyaksikan pekerjaan tangan Tuhan dalam pelayanan kali ini, aku secara pribadi merasa dikuatkan dan aku semakin dibuat-Nya terkagum-kagum dengan cara-Nya yang ajaib bahkan ga pernah terpikirkan olehku selama mission trip ini.

Dimulai dari kekhawatiranku ketika diutus sebagai koordinator LIP, aku merasa sangat terbatas dalam berkomunikasi dalam bahasa asing selain itu harus mengumpulkan dana untuk bermisi ke Bali, meskipun aku tidak bekerja sendirian tapi aku merasa ini menjadi beban yang besar buatku karena aku dipercaya sebagai Penanggung Jawab team LIP selama di Indonesia dan juga team JOY Indonesia yang akan ke Bali.

Tiap hari aku berdoa agar Tuhan cukupkan kebutuhan dana kami dan sangat mengucap syukur Tuhan memakai orang-orangNya untuk mendukung kami baik itu melalui dukungan dana langsung maupun dengan membeli T-Shirt dari JOYous Project.

Selain itu dari pengalaman ini aku mulai berani berkomunikasi dalam bahasa Inggris kepada teman-teman dari Korea meskipun masih sangat terbata-bata (hehehe … ) tapi aku merasa Tuhan memproses aku untuk menjadi Ria yang lebih berani lagi dan dibentuk untuk berani mencoba sesuatu baru di luar dari zona nyamanku.

Aku tergerak untuk semakin semangat memperlengkapi diriku terutama dalam berbahasa inggris, selain persiapan khusus belajar bahasa Korea dasar untuk menyambut tim LIP. It’s truly a grace!

Selain itu, pengalaman berarti juga aku alami selama di Bali dan itu sangat berkesan untukku ketika kami pergi ke beberapa tempat untuk belajar terkait budaya Indonesia yang sangat beragam ini (dalam benakku ga ada kata yang bisa aku keluarkan selain ungkapan “Terima Kasih Tuhan untuk segala kesempatannya”) dan aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk sharing dengan beberapa alumni JOY yang sekarang kerja di Bali (berasa bernostalgia) dan juga punya banyak kesempatan untuk melayani teman-teman dari Korea.

Tidak pernah menyangka melalui pelayanan ini ternyata Tuhan menjawab salah satu dari doaku secepat itu untuk belajar tentang misi, aku sadar pelayanan ini adalah salah satu kesempatan yang Tuhan berikan agar aku bisa terus belajar dan melihat bahwa ketika Tuhan ingin mengutusku dalam pekerjaan-Nya pastinya Ia akan selalu menyertaiku dan ketika Tuhan ingin memakaiku itu bukan karena kehebatanku namun karena kasih karunia Tuhan.

Aku menyadari dalam segala hal aku membutuhkan campur tangan Tuhan dan dalam kelemahan dan keterbatasanku disitulah kuasa Tuhan sangat jelas aku rasakan.

Terima kasih kepada setiap alumni yang secara khusus mendukung pelayanan kami ini. Pergumulan membeli tiket ke Bali, membayar hotel dan biaya hidup tiga hari menemani tim Korea di sana dijawab secara luar biasa oleh Tuhan. Tidak pernah menyangka, bahwa dalam sebulan, kami bisa memperoleh keuntungan lebih dari 1.5 juta melalui penjualan baju. Tuhan sungguh baik!

Terlebih ketika kami belajar dan berbagi pengalaman dengan perkantas Bali sambil saling mendoakan sebagai sesama pekerja di ladang Tuhan.

Terima kasih sekali lagi karena sudah mengijinkan saya, Awi dan Anggi berpengalaman bersama Tuhan melalui persiapan, hari H sampai kembali ke Jogja untuk melayani dengan semangat misi. Itu yang aku refleksikan selama pelayanan mission trip kali ini, God is good all the time. [Ria]

Others Second – Listen to Others

Sebuah kesempatan dan kasih karunia bagi aku bisa mengikuti mission trip dan jadi panitia untuk Korean festival selama teman-teman JOY Korea Selatan di Indonesia.

Mission trip bagi aku hanyalah sebuah kata, sebelumnya aku belum paham betul arti dan tujuan mission trip itu sendiri.
Lewat kesempatan berharga kali ini, aku belajar bahwa didalam mission trip kita benar-benar dipanggil pergi bermisi, artinya melayani orang lain.

Sesampainya di Bali, aku banyak memiliki kesempatan berbicara secara pribadi kepada teman-teman JOY Korea.

Seperti Filosofi JOY, Others Second, saya belajar bentuk yang nyata dengan mendengarkan orang lain. Mendengarkan disini berarti listen bukan sekedar hear.

Salah satu teman kamarku adalah Dong Ik atau yang lebih akrab disapa teman-teman JOY Indonesia dengan panggilan Riko. Riko mensharingkan secara pribadi tentang pergumulan-pergumulan menjadi orang percaya di Korea Selatan. Dimana dia harus hidup “berbeda” dan dianggap aneh oleh teman-teman pergaulannya. Terdengar tidak asing bagiku, sebagai mahasiswa Kristen di Indonesia.

Sedari kecil Riko mengidap penyakit yang membuatnya kesulitan untuk mengingat atau fokus terhadap hal-hal yang ia pelajari. Itu mengharuskan ia mengkonsumsi obat-obatan secara rutin. Efek samping dari obat yang dia konsumsi adalah membuatnya terlihat kelelahan, tak bersemangat, murung, dan seperti sedang marah.
Tak jarang Riko disalahpahami oleh teman-temannya, ia dianggap orang yang kurang bersahabat dan “ngga asik” diajak bergaul.
Selama di Indonesia Riko tidak mengkonsumsi obat tersebut, karena ia ingin mudah dekat dengan teman-teman di Indonesia. Benar, Riko adalah salah satu orang yang paling “full of energy” yang aku lihat di antara semua anggota tim Love Indonesia Project (LIP), bahkan aku melihat semua teman-teman JOYers dengan mudah akrab dengannya.

Mendengar kisah Riko dan alasan nya mengambil jurusan IT untuk membantu banyak orang, membuatku secara pribadi merasa tersentuh dan termotivasi untuk terus melayani. Riko berjuang semampunya untuk melayani ditengah kekurangan yang ia hadapi. Alih-alih menyerah pada penyakit yang dia derita sejak kecil, ia berjuang sekuat tenaga untuk mempelajari IT sebagai jurusan yang ia pilih.

Kisah Riko adalah satu dari banyak kisah dari teman-teman Joyers Korea selatan yang bisa aku dengarkan.

Aku belajar banyak hal, lewat mission trip ini, aku disadarkan bahwa apapun yang ada pada diriku saat ini bisa Tuhan pakai untuk kemuliaan Tuhan. Tuhan tidak memanggilku ketika aku sudah sempurna (siap mental, dewasa rohani dll), tapi Tuhan Memanggilku dari sekarang untuk melayani Dia lewat apa yang ada padaku saat ini.

Aku rasa itu juga berlaku kepada kita semua.

Semangat terus dalam melayani Tuhan, Tuhan sudah berikan kita talenta, kini saatnya kita memberikan apa yang ada pada kita untuk Tuhan dan orang-orang yang Ia kasihi.[Awi]

Kelas Bahasa Korea

안녕하세요…

Halo, apa kabar? Demikian percakapan awal membuka kelas bahasa Korea yanf berlangsung di Student Center JOY Fellowship pada Rabu dan Kamis, 12 dan 13 Februari lalu.

Kelas bahasa Korea adalah tools yang dipakai baik JOY Korea melalui tim Love Indonesia Project yang berkunjung selama 10 hari dan JOY Indonesia sebagai tuan rumah untuk menjangkau dan mempertemukan mahasiswa di Jogja secara lebih dekat dan lebih dalam.

Kelas bahasa Korea dibagi dalam 2 kelas per hari, dibatasi maksimal 15 orang.  Awalnya, kelas ini didesain 6 pertemuan selama 2 hari, namun dikarenakan begitu ketatnya regulasi dan kepanikan akibat virus korona terutama di negara Korea, kelas dibatasi sehingga orang-orang yang datang pun dibatasi.

Puji Tuhan, ada 42 orang yang terlibat di 4 shift kelas ini. Mereka mengetahui informasi dari teman-teman JOYer yang berbagi. Kelas Bahasa Korea menjadi kesempatan bagi JOYer Korea untuk berkomunikasi secara langsung dan detail dengan JOYer Indonesia juga dengan new comers. Ada paling tidak 7 orang baru dari kelas ini yang bisa difollow up di cellgroup nantinya.

Bersyukur untuk kesempatan belajar bersama 14 teman dari JOY Korea.